Ditulis oleh 10:46 am COVID-19

Kebijakan Pendidikan dan Realisasinya

Guru menjalankan fungsinya sebagai pendidik, motivator dan fasilitator dengan melakukan pembelajaran sesuai kebijakan pemerintah daerah melalui pembelajaran online dan siswa tetap di rumah.

Di SMP Negeri 3 Ngrambe Kabupaten Ngawi Propinsi Jawa Timur

Dunia pendidikan dimana saya berada, kebetulan sebagai pendidik bertugas sebagai guru di SMP Negeri 3 Ngrambe Kabupaten Ngawi Propinsi Jawa Timur. Selama pandemi Covid-19 yang kurang-lebih sudah mewabah selama lebih dari 3 (tiga) bulan terakhir. Bapak Ibu Guru di sekolah saya tetap menjalankan fungsinya sebagai pendidik, motivator dan fasilitator dengan melakukan pembelajaran sesuai kebijakan pemerintah daerah melalui pembelajaran online dan siswa tetap di rumah.

Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang mengacu pada Kebijakan Pendidikan Pemerintah Daerah yang telah ada  sejak Covid-19 mewabah, maka proses pembelajaran tatap muka di sekolah ditiadakan dan diganti dengan label “siswa belajar di rumah”.  Interaksi Guru dengan Siswa yang secara normatif adalah tatap muka, diganti dengan strategi online, dengan memanfaatkan media komunikasi sosial berbasis jaringan.  Media sosial yang biasa digunakan google form atau google drive dengan teknik pelaksanaan siswa menyelesaiakan tugas yang dikirim oleh guru dan guru memantau hasil pekerjaan siswa kemudian dinilai dan dikomunikasikan kepada siswa dan wali murid.

Sekolah tempat saya bekerja khususnya dan wilayah daerah ngawi pada umumnya merupakan daerah yang berada dilereng gunung lawu bagian utara berbatasan disebelah barat dengan Kabupaten Sragen yang masuk Propinsi Jawa Tengah. Debelah timur dan selatan berbatasan langsung dengan wilayah Madiun dan wilayah Magetan. Pada saat tulisan ini dibuat kondisi perkembangan Covid-19 di daerah Kecamatan Ngrambe dalam level hijau namun secara umum wilayah ngawi pada level merah dengan berdasarkan sumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi tanggal 06 Mei 2020 terdapat 6 pasien positif, 1 sembuh, 21 PDP, 291ODP.

Dalam rangka memerangi wabah Covid-19 tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah saya  tetap masuk secara bergilir sesuai jadwal  sejalan dengan protokoler kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten  Ngawi. Kegiatan-kegiatan yang dilakaukan diantaranya: Melakukan penyemprotan dengan desinfecktan,  menyampaikan  anjuran-anjuran;  tetap dirumah, social distancing, pemakaian masker saat keluar rumah, hindari kegiatan berkerumun, cuci tangan menggunakan sabun setiap akan dan atau mau memasuki tempat baru, usahakan sesering mungkin minum air hangat. Upaya tersebut kami sosialisasikan melalui media pembelajaran yang saat ini kami gunakan.

Untuk  melaksanakan kebijakan pendidikan Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi terkait dengan Covid-19 sekolah saya tidak semudah dan selancar sesuai yang diharapkan Pemerintah Daerah. Hal ini terjadi karena banyak kendala-kendala yang ditemui dilapangan. Kendala-kendala diantaranya: tidak semua siswa memiliki android, tidak semua wilayah terjangkau sinyal internet, tidak semua siswa bisa mengoperasikan android karena sekolah saya salah satu sekolah yang menampung anak ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), daya dukung orang tua kurang karena tidak mampu membeli kuota data internet.

Kondisi masyarakat khususnya wali murid SMP Negeri 3 Ngrambe dan umumnya masyarakat kecamatan Ngrambe dalam mensikapi Covid-19 sangat bervareatif ada yang proaktif, biasa-biasa aja, bahkan abai.  SMPN 3 Ngrambe  kerjasama  dengan wali murid dan masyarakat melakukan penyemprotan disinfektan dilingkungan sekolah dan masyarakat, pembagian masker kepada siswa dan masyarakat, juga memberikan edukasi kepada murid, wali murid, dan masyarakat tentang perlindungan diri, orang lain, dan lingkungan masyarakat sekitar  dalam rangaka perjuangan melawan Covid-19 melalui pamflet-pamflet, dan media-media yang ada.

Kita semua tidak tahu dan tidak dapat memastikan kapan pandemi Covid-19 ini bakal berakhir sehingga proses pembelajaran bisa dinormalisasi kembali. Jika saat ini kita tetap berpangku tangan tanpa ada terobosan pemikiran yang solutif, maka mentalitas siswa yang “stress” akan semakin akut. Statement yang mengatakan bahwa kondisi ini toh meng-Indonesia, sehingga cenderung “membiarkan”, adalah cermin sikap berfikir yang naif. Kita semua lebih suka menunggu dan pasrah, tanpa pernah berfikir bahwa pendidikan adalah kunci dari semua masalah kemanusiaan.

Terlepas dari itu semua saya mengajak kepada pembaca dan masyarakat secara umum selalu berdo’a, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah swt. semoga wabah Covid-19 cepat berakhir.

(Visited 204 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 8 Mei 2020
Close