Kebijaksanaan Melindungi dari Kesepian

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Jika kita dapat meningkatkan kepedulian seseorang, kebijaksanaan dalam orang itu akan meningkat dan rasa kesepian dalam dirinya akan menurun.

Dalam beberapa dekade terakhir, terdapat peningkatan kekhawatiran mengenai kesepian dalam semua usia. Utamanya mereka yang ada di usia paruh baya dan lanjut usia. Kesepian, didefinisikan sebagai suatu perasaan terisolasi atau tidak memiliki banyak hubungan personal yang berarti. Secara konsisten diasosiasikan dengan pertumbuhan yang tak sehat dan telah diidentifikasi sebagai penyebab utama dari keseluruhan masalah kesehatan.

Di dalam sebuah studi cross-cultural terbaru, para peneliti dari University of California San Diego School of Medicine dan University of Rome La Sapienza memeriksa beberapa orang paruh baya dan lanjut usia di San Diego dan Cilento, Italia dan menemukan bahwa kesepian dan kebijaksanaan memiliki korelasi negatif yang kuat. Studi tersebut mengemukakan kemungkinan bahwa kebijaksanaan dapat menjadi faktor pelindung dari kesepian.

Peneliti utama studi, Dilip V. Jeste, MD, yang merupakan dekan senior di Center of Healthy Aging, dan merupakan Profesor dari Psychiatry and Neuroscience terkemuka di UC San Diego School of Medicine mengatakan bahwa temuan penting dari studi mereka adalah korelasi inverse yang signifikan antara kesepian dan kebijaksanaan. Seseorang yang memiliki nilai kebijaksanaan yang tinggi sedikit merasakan kesepian dan begitu pula sebaliknya. Kesepian, menurutnya, secara konsisten diasosiasikan dengan kesehatan yang buruk secara umum, buruknya kualitas tidur dan kurangnya kebahagiaan. Sentara untuk sebaliknya secara umum berlaku untuk kebijaksanaan.

Dengan menggunakan skala untuk kesepian UCLA dan skala untuk kebijaksanaan San Diego, para peneliti memeriksa empat grup, yakni orang dewasa dengan umur 50 hingga 65, serta mereka yang berumur diatas 90 dari Cilento dan dari San Diego. Setelah meneliti, para peneliti menemukan korelasi inverse antara kesepian dan kebijaksanaan dalam empat grup tersebut.

Salvatore Di Somma, MD, PhD, peneliti utama dari Italis dan Profesor dari emergency medicine di University of Rome La Sapienza mengatakan bahwa setelah hasil skala penilaian untuk kesepian dan kebijaksanaan diterjemahkan dari bahasa Inggris ke Italia, dirinya terkesima bahwa temuan studi tersebut sebagian besar serupa dalam dua budaya yang sangat berbeda, wilayah pedesaan di Italia selatan dan daerah perkotaan/pinggir kota di Amerika, yang dimana keduanya memiliki bahasa asli, sejarah, pendidikan dan latar belakang sosial ekonomi yang berbeda.

Wilayah Cilento di barat daya Italia merupakan daerah pedesaan yang relatif terisolasi, dan diyakini memiliki konsentrasi yang tinggi untuk orang tua yang berumur di atas 90 tahun. Studi ini sendiri awalnya lahir dari studi Cilento Initiative on Aging Outcomes (CIAO) yang telah dikeluarkan pada tahun 2016.

Jeste mengatakan bahwa baik kesepian maupun kebijaksanaan, keduanya merupakan ciri-ciri dari kepribadian. Kebanyakan ciri-ciri kepribadian diwariskan sebagian dan sebagian lagi ditentukan oleh lingkungan tempat tinggal.

Kebijaksanaan memiliki beberapa komponan, seperti empati, kepedulian, refleksi diri dan pengaturan emosi. Para peneliti menemukan bahwa empati dan kepedulian memiliki relasi inverse terkuat terhadap kesepian. Seseorang yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi cenderung sedikit merasa kesepian.

David Brenner, MD, wakil rektor UC San Diego Health Sciences mengatakan bahwa jika kita dapat meningkatkan kepedulian seseorang, kebijaksanaan dalam orang itu akan meningkat dan rasa kesepian dalam dirinya akan menurun. Dirinya juga menambahkan bahwa di UC San Diego, para peneliti memiliki minat yang besar dalam meningkatkan empati dan belas kasih untuk mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan orang-orang.

Jeste mengatakan bahwa studi yang meneliti bagaimana mengurangi kesepian seiring dengan bertambahnya usia akan menjadi sangatlah penting untuk menemukan intervensi yang efektif serta juga untuk masa depan perawatan kesehatan.

Dirinya menambahkan bahwa penilaian rutin dari kesepian dengan intervensi berbasis bukti dan berfokus pada belas kasih untuk pencegahan dan pengendalian kesepian harus menjadi bagian integral dari praktik klinis. Pertanyaannya, bagaimana cara kita meningkatkan rasa belas kasih? Jeste mengatakan bahwa dengan memanfaatkan pendekatan seperti terapi perilaku kognitif atau menulis di buku harian untuk menuliskan rasa syukur kita, dapat membantu seseorang untuk menjadi lebih berbelas kasih.

Jeste mencatat bahwa batasan dari penelitian tersebut adalah bahwa penelitian ini bersifat cross-sectional. Hanya dengan studi longitudinal para peneliti dapat menetapkan hubungan sebab-akibat. Langkah selanjutnya dari studi akan mencakup pengujian intervensi untuk meningkatkan kepedulian guna mengurangi kesepian.

Sumber:
Disadur dari situs sciencedaily. Materi berasal dari University of California – San Diego. Naskah pertama kali ditulis oleh Scott LaFee. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti