24.8 C
Yogyakarta
21 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Kebutuhan Manusia Beragama

A. Pengertian Agama

Cukup banyak definisi agama yang dirumuskan oleh para ulama maupun pakar, namun pada bagian ini disampaikan cukup dua definisi, selebihnya para pembaca dapat menulusuri pada buku-buku agama dan dapat pula mengakses di internet atau berbagai media yang supercanggih sekarang ini.

Syeh M. Abdullah Badran, seorang Guru Besar Al-Azhar, Kairo, Mesir dalam bukunya Al-Madkhal ila Al-Adyan, menjelaskan arti agama diawali dengan pendekatan kebahasaan, yaitu Diin yang biasa diterjemahkan dengan “agama” yang menggambarkan hubungan antara dua pihak di mana yang pertama Khaliq mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada yang kedua Makhluq. Dengan demikian agama dapat difahami sebagai “hubungan antara Makhluq dan Khaliqnya”.

Syeh Mahmud Syaltut menyatakan bahwa “agama adalah ketetapan-ketetapan Ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup manusia”.

B. Perlunya Manusia Beragama

Dua pakar berikut akan menyampaikan mengapa manusia beragama, membutuhkan agama, memakai agama dalam kehidupannya. Namun demikian para pembaca bisa mempunyai alasan lain dan bisa disampaikan dan didiskusikan secara bersama-sama.

Di sinilah informasi Tuhan itu datang (Agama itu dibutuhkan).

1. Prof. Dr. M. Quraish Shihab.

Setidaknya ada dua alasan yaitu: Pertama. Manusia memiliki naluri ingin tahu. Dengan menggunakan panca indera, akal dan jiwanya, sedikit demi sedikit pengetahuannya bertambah. Namun demikian, keterbatasan panca indera dan akal menjadikan sekian banyak tanda tanya yang muncul dalam benaknya tidak terjawab. Hal ini dapat mengganggu perasaan dan jiwanya, dan semakin mendesak pertanyaan tersebut semakin gelisah bila tidak terjawab. Hal ini antara lain karena manusia memiliki naluri ingin tahu. Kalau demikian manusia membutuhkan informasi tentang apa yang tidak diketahuinya itu, khususnya dalam hal-hal yang sangat mengganggu ketenangan jiwanya atau syarat bagi kebahagiannya. Di sinilah informasi Tuhan itu datang (Agama itu dibutuhkan).

Kedua. Kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendirian. Banyak kebutuhan yang tidak dapat dipenuhinya sendiri, karena berbagai keterbatasan waktu, pengetahuan dan kemampuan yang lainnya. Hidup manusia bagaikan lalu lintas, masing-masing ingin berjalan dengan selamat sekaligus cepat sampai tujuan. Namun, karena kepentingan mereka berbeda-beda, maka apabila tidak ada peraturan lalu lintas kehidupan, pasti akan terjadi benturan dan tabrakan penuh dengan kekacauan dan ketidakpastian. Dengan demikian manusia membutuhkan peraturan demi lancarnya lalu lintas kehidupan. Di sinilah Agama sangat diperlukan.

Siapakah yang mengatur lalu lintas kehidupan itu? Manusiakah? Paling tidak dalam persoalan pengaturan yang seperti ini, manusia mempunyai dua kelemahan, yaitu: Pertama, keterbatasan pengetahuan, dan kedua, sifat egoisme, ingin mendahulukan kepentingan diri sendiri.

Apa akibatnya bila manusia, yang mempunyai dua kelemahan itu, mengatur lalu lintas kehidupan?

Dengan demikian yang berhak mengatur lalu lintas kehidupan adalah: (1) yang paling mengetahui kehidupan, dan (2) sekaligus yang tidak mempunyai kepentingan sedikitpun. Dialah Allah SWT yang menetapkan peraturan, baik secara umum, berupa nilai nilai, maupun secara rinci. Peraturan itulah yang kemudian dinamai agama.

2. Ahmad Azhar Basyir.

Dua alasan mengapa manusia membutuhkan agama: Pertama, karena manusia ingin bertahan diri untuk tetap menjadi makhluk Tuhan yang mulia. Untuk itu manusia harus beriman dan beramal shaleh, yang merupakan bagian utama bagi agama Islam. Dasar jawaban ini adalah mengacu pada QS, At-Tin, (95) : 4-6 ; “Sesungguhnya telah Kami jadikan manusia itu dalam bentuk/konstrksi yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia menjadi serendah-rendah makhluk yang rendah. Kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh, mereka mendapat pahala yang tidak berkesudahan”.

Kedua, untuk membimbing akal agar mampu berpihak pada panggilan hati nurani. Di dalam diri manusia terdapat kekuatan yang senantiasa mengajak hidup baik, yaitu yang sering dinamakan “hati nurani”. Tetapi di samping itu terdapat juga kekuatan yang menarik-narik ke arah keburukan, kekuatan ini dinamakan “hawa nafsu”. Akal berfungsi pula antara hal-hal yang merupakan panggilan hatinurani dan yang merupakan bisikan hawa nafsu. Akal seharusnya senantiasa berpihak kepada panggilan hati nurani. Tetapi tidak selalu demikian halnya. Amat sering terjadi bahwa dalam menghadapi desakan-desakan hawa nafsu itu, akal tidak berdaya. Hawa nafsu juga yang menang. Hati nurani terdesak. Bahkan pertimbangan akal sering tertarik untuk membenarkan ajakan-ajakan hawa nafsu.

Di sinilah diperlukan adanya hal yang dapat mengatasi itu semua. Hal itu harus datang dari luar manusia, dan berupa ketentuan-ketentuan yang pasti untuk menjadi pedoman hidup manusia. Tidak lain hal itu adalah agama yang datangnya dari Tuhan, bukan buatan manusia sendiri.

C. Informasi Kebenaran Diterima Manusia

Dalam rangka mendapatkan pengetahuan, manusia adakalanya berusaha dengan menggunakan potensi yang dianugerahkan Allah swt kepadanya. Tetapi ada pula manusia yang memperoleh informasi tanpa ada upaya dari-Nya. Memperhatikan hal di atas, ilmuwan mengakui bahwa ada dua faktor setiap aksi pengetahuan, yaitu subyek dan obyek. Sehubungan proses pemahaman ada dua kemungkinan proses: (1) Subyek berusaha mengetahui obyek dengan potensi (alat-alat) yang dimilikinya, (2) Obyek yang memperlihatkan dirinya sendiri kepada subyek. Jalur pertama adalah jalur ilmu pengetahuan dan filsafat; sedangkan jalur kedua adalah jalur agama yang dikenal dengan istilah wahyu. Wahyu diterima oleh manusia tertentu (Nabi/Rasul), sedangkan manusia lain menerima dan membenarkannya dari Nabi, begitu manusia selanjutnya.

Memang ada saja manusia yang meragukan kebenaran informasi itu. Jika itu terjadi, Allah memberikan bukti kebenaran. Mereka ditantang untuk membuat atau melakukan semacam apa yang dilakukan oleh para Nabi/Rasul. Bukti tersebut dalam bahasa agama dinamai dengan mu’jizat, yakni suatu keluarbiasaan yang ditunjukkan para Nabi/Rasul untuk menunjukkan kebenaran kenabiannya.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA