16 September 2021
BENTARA HIKMAH
KABAR

Kedisiplinan Kolektif Syarat Keberhasilan New Normal

Tatanan normal baru atau new normal makin serius disiapkan pemerintah agar roda ekonomi dapat kembali berputar setelah tiga bulan mandeg karena Covid-19. Namun, banyak catatan dan prasyarat new normal harus dijalankan, yang pokok adalah kedisiplinan mematuhi protokal pencegahan Covid-19.

Disiplin menjalankan protokol pencegahan Covid-19 memang sudah diserukan sejak awal pandemi virus Corona menginfeksi Indonesia. Namun, ketika akan memasuki new normal, kedisiplinan mutlak harus dimiliki karena pembatasan sosial yang selama ini diterapkan akan dilonggarkan.

Terlepas pro kontra pelaksanaan new normal yang masih berlangsung di masyarakat, kini pemerintah telah mulai menjalankan pelonggaran pembatasan sosial. DKI Jakarta misalnya, telah mengizinkan aktivitas di rumah ibadah seperti sholat Jum’at, pembukaan mal, kembali beroperasinya kantor-kantor, dan lainnya. Walau dengan penerapan aturan yang ketat, seperti pembatasan kapasitas yang hanya 50 persen.

Kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol pencegahan Covid-19 saat beraktivitas di luar rumah ini menjadi hal pokok. Tentu kita banyak mendengar pengalaman berbagai negara yang telah menerapkan new normal, namun kini kembali mengetatkan pembatasan sosial karena bertambahnya kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19. Sebut saja Korea Selatan yang kini disebut sedang menghadapi gelombang kedua Covid-19.

Protokol pencegahan Covid-19 harus ditaati semua orang, baik pengelola fasilitas publik, perkantoran, rumah ibadah serta masyarakat. Protokol seperti menggunakan masker, mencuci tangan secara rutin, menjaga jarak, tidak bersentuhan, tidak menyentuh benda-benda yang banyak disentuh orang lain, harus menjadi prilaku standar masyarakat di era new normal.

Kedisiplinan tersebut harus dibangun bersama, tidak hanya orang perorang juga secara kolektif atau komunitas. Membangun kedisiplinan kolektif harus menjadi fokus dalam transisi menuju new normal. Membangun kedisplinan kolektif membutuhkan adanya pemahaman masyarakat akan pentingnya protokol pencegahan Covid-19.

Selama ini kita telah merasakan dampak Covid-19, tidak hanya dalam bidang kesehatan namun juga sosial ekonomi. Covid-19 telah membuat roda ekonomi tidak berputar. Banyak dijumpai terjadi perumahan bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan. Tidak hanya pada perusahaan kecil tetapi perusahaan-perusahaan besar pun terkena dampak.

Satu-satunya jalan untuk kembali menggerakkan ekonomi adalah dengan menghentikan laju penyebaran Covid-19. Kesadaran bahwa diterapkannya new normal dengan pelongaran pembatasan sosial, membuat kerawanan terjadinya penyebaran menjadi lebih tinggi. Sehingga protokol pencegahan Covid-19 harus dipatuhi.

Kemudian hal penting dalam membangun kedisiplinan adalahadanya pengawasan. Kedisiplinan dibangun tidak hanya dengan kesadaran, namun juga dengan pengawasan yang ketat. Pengawasan dalam untuk membangun kedisiplinan kolektif, dilakukan sesama masyarakat. Jika ada yang tidak mematuhi protokol pencegahan Covid-19, sebagai sesama masyarakat harus saling mengingatkan. Saling memberi pemahaman mengenai pentingnya mengikuti protokol kesehatan.

Tentu saja kita tidak menginginkan pengawasan yang sifatnya represif, apalagi “main hakim sendiri”. Pengawasan oleh sesama anggota masyarakat diharapkan dapat membangun pemahaman dan kebersamaan akan pentingnya saling melindungi. Kedisiplinan kita melaksanakan protokol kesehatan adalah bagian untuk melindungi keluarga, tetangga dan komunitas kita sendiri.

Kekuatan kolektif masyarakat dalam bergotong royong menghadapi Covid-19 telah banyak kita jumpai. Banyaknya inisiatif penggalangan bantuan, baik untuk tenaga kesehatan, rumah sakit, maupun warga yang terdampak menjadi bukti kekuatan gotong royong masyarakat. Oleh karena itu, kedisiplinan kolektif, dengan saling jaga, saling melindungi, saling mengingatkan sesama anggota masyarakat, dengan mudah dilakukan.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA