24.8 C
Yogyakarta
21 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Kedudukan Anak dalam Al-Quran

Di dalam Kitab Suci Al-Quran disebutkan ada empat macam kedudukan anak dalam hubungannya dengan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup orangtua.

Pertama, anak sebagai “ziinatun” (perhiasan). Firman Allah SWT: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi, 18:46).

Ziinatun yang dimaksud adalah bahwa orangtua merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai capaian prestasi dan kesuksesan yang diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik pula namanya di dunia, ataupun anak bisa sebagai pembawa rasa senang dan menjadikan kehidupan berkeluarga semakin menyenangkan.

Kedua, anak sebagai “qurrota a’yun” (penyejuk hati). Allah SWT berfirman : “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam/pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan, 25:74).

Qurrota a’yun atau penyejuk hati kedua orangtua atau menyejukkan pandangan mata orangtua karena mereka mempelajari tuntunan Allah dengan tekun lalu mengamalkannya dengan mengharap ridha Allah SWT semata. Ini kedudukan anak yang terbaik yaitu manakala anak dapat menyenangkan hati dan menyejukkan mata kedua orang tuanya, dan merupakan dambaan setiap orang.

Ketiga, anak sebagai “fitnah” (ujian dan cobaan), yang ditegaskan Allah SWT : “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun : 15).

Makna anak sebagai “fitnah” adalah ujian yang bisa memalingkan orangtua dari ketaatan atau terjerumus dalam perbuatan maksiat. Ia merupakan amanah yang akan menguji setiap orang tua, jangan sampai orangtua terlena dan tertipu sehingga melanggar perintah Allah.

Keempat, anak sebagai ‘aduwwun (musuh). Firman Allah SWT: “Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun 64 : 14).

‘Aduwwun (musuh orang tuanya) adalah anak yang melalaikan bahkan menjerumuskan orang tuanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama dan norma-norma sosial yang lain. Ayat di atas menjelaskan ketika anak menjadi sebab kedurhakaan dan kemungkaran bagi orang tuanya.

Dari 4 macam kedudukan anak dalam Al-Quran di atas, tentu sebagai orangtua menginginkan agar anak-anaknya termasuk ke dalam kelompok qurrota a’yun. Namun, untuk mencapainya diperlukan ketekunan dan konsistensi dalam berupaya untuk mewujudkannya, selain doa sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Furqan ayat 74 yang selalu mengalir dari hati orangtuanya.

Seyogyanya, orangtua bisa menjadi figur/teladan yang senantiasa diidolakan oleh anak-anaknya. Karena anak merupakan cermin dari orang tuanya. Jika orangtuanya rajin shalat berjama’ah, maka anak pun akan mudah diajak untuk shalat berjama’ah. Jika orang tua senantiasa berbicara dengan sopan dan lembut, maka anak-anak pun akan mudah menirunya.

Hendaknya juga memperhatikan pergaulan anak-anaknya di dalam masyarakat. Karena teman sebaya (peer-group) juga sangat berpengaruh kepada perkembangan kepribadian serta akhlak anak-anak kita. Bahkan dalam disertasi yang saya tulis tentang agresivitas pelajar, variabel yang paling besar berpengaruh kepada perilaku agresif adalah pertemanan sebaya.

Dalam sejumlah hadits, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, bahwa doa orangtua untuk anaknya adalah doa yang dikabulkan atau doa yang mustajab. Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud).

Oleh karenanya janganlah berhenti melantunkan doa-doa untuk anak kita, karena kita tidak pernah tahu, di antara ratusan atau ribuan atau malah jutaan doa yang kita lantunkan, mana yang lebih cepat dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman-Nya: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al-Mukmin, 40:60).

Anak yang saleh adalah investasi yang terbaik ketika orangtua masih hidup di dunia, terlebih lagi ketika orangtua sudah berpulang ke haribaan-Nya.

Baca juga: Makna Pahlawan

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA