Ditulis oleh 11:44 am KALAM

Kehidupan Pribadi dan Keluarga bagi Seorang Muslim

Memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkannya.

A. Kehidupan Pribadi

Ada beberapa akhlak yang perlu diusahakan secara terus menerus ditanamkan dan diaplikasikan dalam kehidupan pribadi pada diri seorang muslim, di antaranya:

1. Hidup Shidiq-Benar-Jujur

Shidiq-Benar-Jujur ini lawan dari dusta atau bohong. Antara hati, perkataan dan perbuatan harus sama. Bentuknya dapat berupa:

  • Benar perkataan, selalu berkata yang benar
  • Benar pergaulan, selalu berperilaku benar, tidak menipu, tidak khianat
  • Benar kemauan, selalu berusaha melakukan hal-hal baik yang bermanfaat
  • Benar janji, selalu menepati janji yang disampaikan, bahkan niat melakukan yang baik (azam) pun diusahakan dipenuhi
  • Benar kenyataan, menampilkan diri seperti keadaan yang sebenarnya.

2. Hidup Amanah-Dipercaya

Sifat amanah lahir dari iman. Bentuknya dapat berupa:

  • Memelihara titipan dan mengembalikannya seperti keadaan semula
  • Menjaga rahasia, baik rahasia pribadi, keluarga, organisasi atau rahasia Negara
  • Tidak menyalahgunakan jabatan, baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun orang lain
  • Menunaikan kewajiban dengan baik
  • Memelihara nikmat yang diberikan Allah seperti umur, kesehatan, harta, ilmu, anak dan nikmat lainnya

3. Hidup Istiqomah-Teguh Pendirian dalam kebaiakan

  • Istiqomah harus ditegakkan dalam kehidupan kita
  • Orang beriman harus istiqomah dalam hati, lisan dan perbuatan
  • Orang yang istiqomah akan siap hadapi cobaan buruk dan yang menyenangkan
  • Istiqomah menjadikan orang siap hadapi masa depan, terhindar dari rasa takut dan sedih yang mendalam
  • Orang yang istiqomah akan dilindungi Allah dan mudah mencapai sukses

4. Hidup Iffah-Menjaga diri

Iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkannya. Untuk itu kita harus selalu berusaha menjauhkan dari segala perbuatan yang dilarang Allah. Bentuk iffah diantaranya adalah:

  • Menjaga diri dari hubungan sex bebas dan pergaulan yang mengarah padanya
  • Menjaga diri dari meminta-minta
  • Menjaga diri dari yang membuat orang tidak percaya pada kita seperti melakukan bohong, ingkar janji, khianat

5. Hidup Mujahadah-Mendekat Allah

Mujahadah adalah suatu upaya perjuangan mencurahkan segala kemampuan untuk melepaskan diri dari segala hal yang menghambat pendekatan diri terhadap Allah, baik hambatan internal (hati) maupun hambatan eksternal (lingkungan). Minimal ada 6 hal yang dituju dalam mujadalaha;

  • Jiwa yang selalu mendorong melakukan hal-hal negative, kedurhakaan kepada Allah
  • Hawa nafsu yang tidak terkendali yang selalu ingin melakuikan yang negative dan yang dilarang Allah
  • Syaitan yang selalu menggoda menusia mengikuti nafsu yang berakibat lupa diri dan lupa Allah
  • Hati yang di dalamnya bersemayan kecintaan terhadap dunia berlebihan sehingga mengalahkan kecintaannya kepada akherat
  • Orang kafir dan munafik yang selalu berusaha orang lain mengikuti jejaknya
  • Pelaku kemaksiatan dan kemunkaran yang selalu merugikan diri dan orang lain sekitarnya. Bahkan mereka menghambar orang lain melakukan kebaikan.

6. Malu melakukan yang Negatif

  • Malu merupakan sifat dan perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah dan tidak baik
  • Rasa malu merupakan sumber kebaikan dan unsure kemuliaan dalam setiap tindakan
  • Malu meliputi malu kepada allah, malu kepada diri sendiri dan malu kepada orang lain
  • Malu merukan refleksi iman. Iman yang kuat menjadikan kuat rasa malu
  • Malu menjadi kontrol bagi kegiatan yang negative dan jika tidak punya malu orang menjadi bebas melakukan apa saja yang diinginkan nafsunya.

B. Kehidupan Keluarga

1. Birrul Walidain

Birrul Walidain = berbuat kebajikan kepada kedua orang tua; istilah lain “ihsan”.
Kedudukan Birrul Walidain

  • Perintah ini oleh Allah diletakkan sesu-dah perintah beribadah kepada Allah.
  • Allah mewasiatkan kepada manusia utk berbuat ihsan kepada ibu-bapak.
  • Allah meletakkan perintah berterima-kasih pada ibu-bapak sesudah kepada Allah.
  • Rasulullah meletakkan birrul walidain sebagai amalan terbaik nomor dua setelah shalat.
  • Rasulullah meletakkan uququl walidain (durhaka) sebagai dosa besar kedua sete-lah shalat.
  • Rasulullah mengaitkan keridlaan dan kemarahan Allah dengan keridlaan dan ke-marahan Allah.

Berbakti Kepada Ibu Bapak

  • Ibu-Bapak sebagai perantara kelahiran kita ke dunia
  • Ibu susah payah mengandung, bersama bapak merawat dan mendidik à berbaktilah dan hormat keapa orang tua.
  • Berbakti kepada orang tua yang pokok: penerimaan terhadap keberadaan orang tua sebagai mana adanya:
    • fisik: dimungkinkan tampil low profil / performance ≠ sementara anak lebih muda, tegar dan cakep.
    • non fisik: pengetahuan, pemikiran, kebiasaan; ketinggalan, ≠ sementara anak lebih pintar, berwawasan luas, modern dan cakap. Oleh karena itu : terima dan hormatilah kondisi apa adanya itu.
    • Manakala diajak mengikuti ide pemikiran dan perintahnya:
    • bila baik (sejalan); ikuti (1)
    • bila menyimpang tidak sejalanà hubungan komunikasi tetap baik (2). Oleh karena itu dalam Al-Qur’an cukup dilambangkan dengan ajaran: jangan berkata “aah”
    • Bagaimana kalau berada dalam satu rumah:
    • bila sakit: rawat dan hibur (3)
    • bila meninggal dunia; selesaikan (4) dan do’akan (5)
  • BKKBN pernah membicarakan tentang konsep keluarga: orang tua apakah masuk dalam keluarga? ; tetapi yang jelas, kapan lagi kita mau membalas jasa orang tua; jangan sampai orangtua dimasukkan Panti jompo karena anak-anak “sibuk”(6)

Uququl Walidain

  • Uququl walidin = durhaka kepada kedua orang tua
  • Durhaka masuk dosa besar, mengingat betapa istimewa kedudukan dan betapa besar jasa org tua

2. Membina Hubungan Suami Istri

Membentuk keluarga sakinah dengan kasih sayang (mawaddah dan rahmah). Mawaddah = jasmani (cantik, gagah); Rahmah = rohani (hubungan batin). Ketika masih muda: mawadah berperan. Ketika sudah tua: rahmah lebih berperan; ketika memilih pasangan keduanya jadi pertimbangan. Ada 4 kreteria memilih pasangan:

  • karena Hartanya,
  • karena Keturunannya,
  • karena Kecantikannya,
  • karena Agamanya: pilih agamanya

Memilih cara HAMKA: masing-masing kreteria bernilai 0 (nol) kecuali agama bernilai 1 (satu) rangkai: 0 00 0001000

Hak-hak bersama Suami-Isteri

  • Hak tamattu’ badani = saling menikmati hubungan sex yang halal
  • Hak saling mewarisi = dapat warisan karena sebab perkawinan
  • Hak nasab = pencantuman nama orang tua pada nama anaknya; bukan suami

Kewajiban Suami kepada Istri

  • Mahar
  • Nafkah
  • Gaul secara baik: buat senang, tidak curiga, jaga rasa malu, tidak buka rahasia, ijinkan kunjungi ortu dan lain-lain.
  • Membimbing dan mendidik agamanya

Kewajiban Istri kepada Suami

  • Patuh pada suami
  • Gaul secara baik: Menerima pemberiannya, beri perhatian, tampil menarik dan lain-lain.

3. Mendidik Anak

Anak adalah amanah Allah:

  • dirawat
  • kasih sayang
  • dididik

Dalam Hadits disebutkan tentang kewajiban orang tua:

  • memberi nama yang baik
  • mengajari tatakrama
  • mengajari menulis
  • mengajari berenang dan memanah
  • memberi makanan halal dan baik
  • mengawinkan
  • mengajari menjahit bagi wanita

Dalam Islam: anak lahir dalam kondisi “fitrah” = kondisi suci – potensi menuju pada kebaikan. Orang tua wajib mendidik dengan:

  • Membimbing dengan mengembangkan fitrah (potensi kebaikan) yang ada pada anak.
  • Mengembangkan fitrah dengan mengenalkan norma.
  • Mengenalkan norma dengan:
    – pengetahuan teori
    – teladan orang tua
    – teladan orang lain /famili
    – pengalaman diri sendiri
  • Dengan norma yang ia kenal itu akan melahirkan prilaku yang baik.

Tipologi anak:

  • Anak sebagai perhiasan hidup dunia
  • Anak sebagai ujian
  • Anak sebagai musuh
  • Anak sebagai cahaya mata

Baca juga: Local Genius Budaya Jawa untuk Penanaman Nilai-Nilai Moralitas Bangsa

(Visited 88 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 1 September 2020
Close