Kehormatan Diri

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Kehormatan diri atau harga diri seseorang harus dipelihara agar dapat diterima masyarakat sebagaimana mestinya dan juga terhormat di hadapan Allah SWT. Tidak ada seorang pun selain dirinya sendiri yang dapat memelihara kehormatan dirinya, mengingat kehormatan itu melekat pada dirinya. Dengan kata lain, kehormatan diri adalah sesuatu yang telah mempribadi pada seseorang yang senantiasa akan dinampakkan ketika berkomunikasi dengan orang lain.

Seseorang yang berkepribadian baik akan mendapat perlakuan yang wajar dari keluarga dan masyarakat. Apapun aktifitas yang dilakukan senantiasa mendapatkan apresiasi yang positif dan orang lain selalu siap memberikan dukungan baik secara finansial maupun non-finansial. Itulah yang disebut dengan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Dalam berinteraksi dengan orang lain, untuk menjaga kehormatan, seseorang harus selalu menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji (akhlak al-karimah). Setiap perbuatan yang tercela (akhlak al-madzmumah) akan melahirkan akibat buruk. Dan setiap akibat buruk akan mendatangkan sanksi atau hukuman baik dari Allah SWT maupun dari masyarakatnya. Fiman Allah SWT: ”Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (QS. Al-A’raf, 7 : 165).

Sifat-sifat yang harus dihindari pada diri seseorang agar terpelihara harga dirinya, telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam rangkaian do’a beliau: “Ya Allah, saya mohon perlindungan pada-Mu dari pada kelemahan, kemalasan rasa takut dan kekikiran. Juga pada kekafiran, kekufuran dan kefasikan, demikian pula ketulian, kebisuan serta kegilaan dan penyakit-penyakit yang buruk.” (HR. Hakim dan Baihaqi). Dari hadits ini terlihat bahwa ternyata bukan sifat-sifat buruk saja yang dapat merendahkan harga diri seseorang, tetapi kondisi jasmaniah yang tidak normal juga ikut mempengaruhi, misalnya kebisuan, ketulian, dan berbagai kekurangan yang lain.

Difabilitas yang dialami oleh seseorang, manakala tidak diterima dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan akan menjadikan seseorang tidak bisa menerima kenyataan dirinya dan bisa berbuat sesuatu yang menjatuhkan harga dirinya. Ketidaksempurnaan secara fisik yang diberikan kepada seseorang menjadikan orang itu menarik diri, tertutup, dan kurang percaya diri. Ketidaksempurnaan ini telah melemahkan mentalnya sehingga dia tampak minder bergaul dengan orang-orang yang normal fungsi inderanya. Selain itu, bisu dan tuli dapat diartikan juga dengan arti kiasan (majazi) yaitu bisu dan tuli mata hatinya.

Kegilaan dalam arti majazi adalah orang yang membenci atau mencintai sesuatu di luar batas kewajaran, tidak lagi dalam pertimbangan akal sehat, dan cenderung membabi buta. Kecintaannya kepada harta benda misalnya, telah menjadikan seseorang tidak menggunakan lagi rambu-rambu agama di dalam mencari nafkah. Menghalalkan segala macam cara, yang penting bisa memperoleh harta yang sebanyak-banyaknya.

Harga diri seseorang juga akan jatuh apabila seseorang menjadi pemalas, penakut atau kikir. Malas berusaha dan bekerja akan melemahkan kreativitas dan menyulitkan hidup. Kehidupannya jadi bergantung kepada orang lain. Akibatnya bukan memberi tetapi meminta. Sedangkan malas beribadah dibenci oleh Allah SWT. Oleh karena itu seseorang itu harus kuat kemauan, rajin belajar, bekerja dan beribadah.

Kefakiran memang sesuatu yang tidak dapat ditolak, tetapi harus ditanggulangi. Manusia tidak diperintah oleh Tuhan-Nya untuk menjadi kaya tetapi dituntut mencari karunia-Nya secara maksimal. Kefakiran yang tidak diterima dengan lapang dada akan berakibat kepada keadaan yang paling buruk dan sangat mengkhawatirkan banyak orang, yakni kekufuran sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW: ”Hampir saja kefakiran itu menjadi kekufuran.” (HR. Abu Naim).

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kehormatan diri seseorang supaya dalam hidup ini dapat memiliki martabat yang tinggi; di antaranya:

  • Belajarlah untuk mengenali diri sendiri dengan segenap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Seringkali seseorang merasa kurang memiliki yang dapat dikembangkan pada dirinya, padahal setiap orang lahir dengan segenap potensi dan keterbakatan yang banyak.
  • Belajar menerima diri apa adanya. Orang yang dapat menerima diri sendiri apa adanya tidak akan menyesali segala yang terjadi di dalam menghadapi kenyataan hidup. (3) Belajar memanfaatkan kelebihan yang dimiliki semaksimal mungkin sehingga akan meraih capaian sesuai harapan dan keinginan.
  • Meningkatan keahlian (skill) yang dimiliki.
  • Memperbaiki kekurangan yang ada. Tidak dapat dipungkiri setiap manusia mempunyai kekurangan. Untuk itu dia harus belajar mengenali, kemudian berusaha memperbaikinya.
  • Kembangkanlah keyakinan bahwa kita sama dan sederajat dengan orang lain. Setiap orang berbeda, baik secara ekonomi, kebiasaan, ketrampilan, dan sebagainaya, tetapi semuanya mempunyai posisi yang sama pada wilayah hak dan kesempatan. Pemikiran seperti inilah yang harus selalu dikembangkan dan dilestarikan demi menumbuhkan sifat optimisme yang kuat, dan dapat menikmati hidup ini dengan penuh percaya diri serta bisa hidup secara harmonis bersama dengan orang lain. Insya Allah!

Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga.

Terbaru

Ikuti