16.4 C
Yogyakarta
22 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Keimanan sebagai Dasar Berkehidupan Seorang Muslim (Bagian Dua)

A. Iman Kepada Allah

1. Wujud Allah

Wujud (adanya) Allah adalah sesuatu yang kebenarannya perlu dalil pembuktian, tetapi karena sudah sangat umum dan mendarah daging maka kebenaran itu tidak lagi perlu pembuktian. Namun demikian untuk membuktikan wujudNya dapat dikemukakan beberapa dalil, antara lain:

Dalil Fitrah. Allah menciptakan manusia dengan fitrah ketuhanan. Apabila manusia menghadapi sesuatu kejadian yang luar biasa, dan dia sudah kehilangan segala daya untuk menghadapinya, bahkan sudah putus asa. Barulah secara spontan fitrahnya tersebut kembali muncul, mencari (bantuan) Tuhan.

Dalil Akal. Dalil akal adalah dalil dengan menggunakan akal pikiran untuk merenungkan dirinya sendiri, alam semesta dan lain-lain seseorang bisa membuktikan tentang adanya Allah. Upaya membuktikan adanya Allah lewat perenungan terhadap alam dengan segala issnya dapat menggunakan beberapa teori hukum (qanun), antara lain:

  • Qonun al-Illah. Illah artinya sebab. Segala sesuatu ada sebabnya. Sesuatu yang ada tentu ada sebabnya. Siapakan yang mengadakan alam ini?
  • Qunun al-Huduts. Huduts artinya baru. Alam semesta seluruhnya adalah sesuatu yang huduts (baru, ada awalnya) bukan sesuatu yang qadim (tidak berawal). Kalau huduts, tentu ada yang mengadakannya. Dan yang mengadakan itu haruslkah yang bersifat qadim.
  • Qanun An-Nidzam. Nidzam artinya teratur. Alam semesta dengan segala isinya adalah sesuatu yang sangat teratur. Sesuatu yang teratur tentu ada yang mengaturnya, mustahil menurut akal semuanya itu teratur dengan sendirinya secara kebetulan.

Dalil Naqli. Sekalipun secara fitrah manusia bisa mengakui adanya Tuhan dan dengan akal pikiran bisa membuktikannya, namun manusia tetap memerlukan dalil naqli (Al-Qur’an dan Sunnah) untuk membimbing mengenal Tuhan yang sebenarnya. (Allah) dengan segala nama dan sifat Nya. Sebab fitrah dan akal tidak bisa menjelaskan Tuhan yang sebenarnya itu.

2. Tauhidullah

Esensi iman kepada Allah adalah Tauhid yang mengesakan Nya, baik dalam zat, sifat-sifat maupun segala perbuatan Nya.

  • Esa dalam zat Nya, artinya Allah tidak tersusun dari berbagai unsur.
  • Esa dalam sifat-sifat Nya artinya hanya Allah yang berhak memiliki sifat-sifat kesempurnaan.
  • Esa dalam perbuatan Nya artinya Allah berbuat sgala sesuatu tanpa ada yang membantunya.

Berdasarkan tahapannya tauhid dapat dibagi kepada:

  • Tauhid Rububiyah, artinya mengimani bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan (Rabbun).
  • Tauhid Mulkiyah, artinya mengimani bahwa Allah sebagai satu-satunya penguasa, Raja (Malik).
  • Tauhid Ilahiyah, artinya mengimani Allah bahwa Allah sebagai satu-satunya Ilah (Ma’bud = yang disembah).

Antara ketiga dimensi Tauhid di atas dapat berlaku dua teori (dalil):

  • Dalil At-Talazum. Talazum artinya satu keaharusan (mestinya). Maksudnya, setiap orang yang meyakini Tauhid Rububiyah semestinya meyakini Tauhid Mulkiyah dan orang meyakini Tauhid Mulkiyah semestinya meyakini Tauhid Ilahiyah. Dengan kata lain Tauhid Mulkiyah merupakan konsekuensi logis dari Tauhid Rububiyah dan Tauhid Ilahiyah merupakan konsekuensi logis dari Tauhid Mulkiyah.
  • Dalil At-Tadhamun. Tadhamun artinya cakupan. Maksudnya setiap orang yang sudah sampai kepada Tauhid Ilahiyah tentunya sudah melalui dua tauhid sebelumnya. Kenapa dia beribadah kepada Allah? karena Allah Rajanya. Kenapa Allah Rajnaya? karena Allah adalah Rabb nya (Tuhannya)

B. Iman Kepada Malaikat

1. Siapa malaikat itu?

Di antara ayat yang menyebutkan iman kepada Malaikat adalah QS. 2: 285. Makhluk Allah yang termasuk ghaib (immatriel) atau ruhani, yang diciptakan dari cahaya dengan wujud dan sifat-sifat tertentu. Untuk mengetahui dan mengimani wujud mahkluk ghaib tersebut seseorang dapat menempuh dua cara:

  • Melalui berita/informasi yang diberikan oleh sumber tertentu (bil-akhbar)
  • Melalui bukti-bukti nyata yang menunnjukkan makhluk ghaib itu ada (bil-atsar).

Untuk tahu dan mengimani wujud malaikat:

  • Melalui kabar yang disampaikan oleh Rasulullah baik berupa Al-Qur’an maupun Sunnah.
  • Lewat bukti-bukti nyata yang ada di alam semesta yang menunjukkan adanya.

Wujud Malaikat: tidak dapat dijangkau oleh pancaindrera, kecuali jika ia menampilkan diri dalam rupa tertentu, misalnya rupa manusia (QS, 11:69-70; QS, 19:16-17).

Malaikat tidak dilengkapi dengan hawa nafsu, tidak memiliki keinginan seperti manusia, tidak berjeniskelamin dan tidak berkeluarga. Sifat-sifat pembawaan malaikat: ”Hamba Allah yang dimuliakan” (QS,21: 26) karena:

  • Selalu mengerjakan perintah Allah (QS, 21: 27).
  • Tidak pernah membangkang Nya, (QS, 66:6).
  • Tidak merasa angkuh dan tidak merasa letih (QS, 21: 19).

2. Nama dan Tugas Malaikat.

Sebagian mereka disebut namanya dan tugasnya dan sebagian lagi ada yang hanya disebut tugasnya saja. Tugas malaikat di alam ruhani al:

  • Mensucikan dan tunduk sepenuhnya kepada Allah (QS, 7:206).
  • Memikul singgasana (QS, 69: 17).
  • Memberi hormat (salam) kepada ahli surga (QS, 13: 23-24).
  • Menyiksa ahli neraka (QS, 66: 6).
  • Membawa wahyu (QS, 2: 97).

Tugas malaikat di alam nyata serta ada hubungan terentu dengan manusia:

  • Mengatur hal-hal yang berhubungan dengn alam.
  • Mengikuti dan membangkitkan kekuatan ruhani manusia dengan menyampaikan ilham kebenaran dan kebaikan (Hadits).
  • Mendo’akan orang mukmin untuk diampuni dosanya, diberi ganjaran surga dan dijaga dari segala macam keburukan (QS, 40: 7-9 dan Hadits).
  • Ia turun ketika Al-Qur’an dibaca utnuk mendenganrkan. Mendatangi mnjlis dzikir (QS, 33: 43).
  • Memohon rahmat untuk orang mukmin yang mengajarkan kebaikan.

Hikmah iman kepada malaikat, antara lain:

  • Lebih mengnal kebesaran dan kekuasaan Allah yang menciptakan dan menugaskan para malaikat tsb.
  • Lebih bersyukur kepada Allah atas perhatian dan perlindungan Nya dimana malaikat ditugaskan untuk menjaga, menbantu dan menddo’akan hamba Nya .
  • Berusaha berhubungan dengan para malaikat dengan jalan:
    – mensucikan jiwa
    – membersihkan hati
    – meningkatkan ibadah, sehingga dido’akan oleh malaikat.
  • Berusaha berbuat baik dan menjauhi segala dosa karena diawasi malaikat yang mencatat amal manusia. Dll.

3. Jin, Iblis dan Syaitan

Jin adalah makhluk ghaib yang diciptakan Allah dari api, mukallaf seperti manusia, di antara mereka ada yang patuh dan ada yang durhaka. Yang pertama kali durhaka adalah iblis dan anak cucunya disebut syaitan. Hibzbus Syaitan = golongan atau partai syaitan. Orang yang secara sadar atau tidak menjadi pengikut suaitan (QS, 58: 19).

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA