32.7 C
Yogyakarta
21 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Keimanan sebagai Dasar Berkehidupan Seorang Muslim (Bagian Satu)

1. Pengertian Aqidah

Secara etimologis, aqidah berakar dari kata ‘aqada- ya’qudu-‘aqdan-‘aqidatan. Aqdan berarti simpul ikatan, perjanjian dan kokoh. Setelah berbentuk menjadi aqidah berarti keyakinan. Relevansi antara kata ‘aqdan dan aqidah adalah keyakinan itu tersimpul dengan kokoh di dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.

Secara terminologis terdapat beberapa definisi antar lain:

  • Hasan Al-Bana.
    ‘Aqa’id – bentuk jamak dari ‘aqidah – “adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati-(mu), mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan”.
  • Abu Bakar Jabir Al-Jazairy.
    “Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (axioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan oleh manusia di dalam hati serta diyakini kesahihan dan keberadaannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu”.

2. Beberapa Istilah Lain Tentang Aqidah

Ada beberapa istilah lain yang semakna atau hampir semakna dengan istilah aqidah, yaitu:

  • Iman.
    Ada yang menyamakan istilah iman dengan aqidah dan ada yang membedakannya. Bila dibedakan, maka ada “iman dalam” yang bermakna keyakinan atau aqidah dan ada “iman luar” yang bermakna pengakuan dengan lisan dan pembuktian dengan perbuatan. Apabila istilah iman berdiri sendiri maka yang dimaksud adalah iman yang mencakup dimensi hati, lisan dan amal, seperti yang dinyatakan Allah swt. dalam Al-Mukminun: 1-11. Namun bila istilah iman dirangkaikan dengan amal shaleh seperti dalam Al-Ashr: 3, maka iman berarti I’tikad atau aqidah.
  • Tauhid.
    Tauhid artinya mengesakan Allah. Ajaran tauhid adalah tema sentral aqidah dan iman, oleh karena itu aqidah dan iman diidentikkan dengan istilah tauhid.
  • Ushuluddin.
    Ushuluddin artinya pokok-pokok agama. Aqidah, iaman dan tauhid disebut juga ushuluddin karena ajaran aqidah merupakan pokok-pokok ajaran agama Islam.
  • Ilmu Kalam.
    Kalam artinya berbicara atau pembicaraan. Dinamakan ilmu kalam karena banyak dan luasnya dialog dan perdebatan terjadi antara pemikir masalah-masalah aqidah tentang beberapa hal.
  • Fikih Akbar.
    Istilah ini muncul berdasarkan pemahaman bahwa tafaqquh fid din (belajar ilmu agama) yang diperintahkan Allah dalam surat At-Taubah: 122, bukan hanya masalah fikih trtentu, dan lebih utama masalah aqidah. Untuk membedakan dengan fikih dalam masalah hukum ditambah dengan kata akbar, sehingga menjadi fikih akbar.

3. Ruang Lingkup Pembahasan Aqidah

Meminjam istilah Hasan al-Bana maka ruang lingkup pembahasan aqidah adalah:

  • Ilahiyat.
    Pembahasan yang berhubungan dengan Ilah (Tuhan, Allah), seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah, af’al Allah dll.
  • Nubuwat.
    Pembahasan yang berhubungan dengn Nabi dan Rasul, termasuk pembahasan tentang Kitab-kitab Allah, mu’jizat, karamat dll.
  • Ruhaniyat.
    Pembahasan yang berhubungan dengan alam metafisik seperti Malaikat, Jin, Iblis, Syaitan dll.
  • Sam’iyat.
    Pembahasan segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam’i (dalil naqli: Al-Qur’an dan Sunnah) seperti alam batzah, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga, neraka dll.

Di samping sistimatika di atas, pembahasan aqidah bisa juga mengikuti sistematika arkanul iman seperti yang biasa kita kenal:

  • Iman ke-pada Allah.
  • Iman kepada Malaikat termasuk pembahasan jin, iblis, syaitan dll.
  • Iman kepada Kitab-kitab.
  • Iman kepada Nabi dan Rasul.
  • Iman kepada Hari akhir.
  • Iman kepada Taqdir Allah.

4. Sumber Aqidah Islam

Sumber aqidah Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Artinya apa saja yang disampaikan Allah dalam Al-Qur’an dan Rosul dalam Sunnahnya wajib diimani – diyakini dan diamalkan.

Akal pikiran berfungsi memahami nash-nash yang terdapat dalam kedua sumber tersebut dan mencoba – kalau diperlukan – membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Itupun harus didasari suatu kesadaran bahwa kemampuan akal sangat terbatas, sesuai dengan terbatasnya kemampuan semua makhluk Allah. Akal tidak akan mampu menjangkau masalah ghaib, bahkan tidak akan mampu menjangkau sesuatu yang tidak terkait dengan ruang dan waktu.

5. Fungsi Aqidah

Aqidah adalah dasar, pondasi untuk mendirikan bangunan. Seseorang yang memiliki aqidah yang kuat, pasti akan melaksanakan ibadah dengan tertib, memiliki akhlak yang mulia dan bermu’amalah dengan baik. Ibadah seseorang tidak akan diterima atau diberi nilai oleh Allah kalau tidak dilandasi aqidah yang benar.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA