Ditulis oleh 10:59 am COVID-19

Mudik Ditengah Pandemi Covid-19, Belajar Dari Kisah Sahabat Rasululah SAW

Demi memutuskan penularan Covid-19, salah satu caranya dengan membatalkan kegiatan mudik semoga wabah yang melanda negeri kita tercinta ini cepat selesai.

Oleh: Laode Ahmad Safar

Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga Indonesia terjangkit Corona atau COVID-19 diIstana, pada Senin (2/3/2020), hingga saat ini Senin, 27 April 2020 menurut juru bicara Pemerintah Khusus Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, ada 8.882 hasil konfirmasi positif, 1.107 pasien sembuh dan 743 orang meninggal.

Berdasarkan data tersebut sudah seharusnya kita mematuhi segala hal berkaitan anjuran pemerintah untuk memutuskan penularan virus Covid-19 termasuk mudik pada lebaran kali ini.

Pada bulan suci Ramadhan kali ini kita masyarakat Indonesia dan umat Islam khususnya merasakan hal yang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, seperti kebiasaan sholat taraweh berjamaah dimasjid, buka buasa bersama di kantor, masjid dan tempat lainnya, untuk tahun ini tidak dapat dilaksanakan karena tengah berada dalam pandemi Covid-19.

Selain hal tersebut ada satu hal yang menjadi kebiasaan umat muslim menghadapi hari raya idul firti adalah kebiasaan mudik. Mudik ini kadang menjadi salah satu parameter keberhasilan pemerintah disektor perhubungan bila menatanya dengan baik dalam artian tidak terjadi kemacetan apalagi kemacetan yang luar biasa seperti kejadian tahun 2016 silam, yang menurut salah satu teman untuk mudik dari cirebon ke semarang yang biasa ditempuh 3-4 jam, pada mudik ketika itu ditempuh sampai 35 jam (luar biasa macetnya).

Pada masa pandemi Covid-19 ini pemerintah telah mengambil beberapa kebijakan berkaitan dengan mudik diantaranya menggeser waktu cuti bersama Idul fitri 1441H, yang awalnya ditetapkan 26-29 Mei 2020 digeser menjadi tanggal 28-31 Desember 2020, perubahan ini diharapkan akan meminimalkan animo masyarakat untuk mudik alias pulang kampung. Di samping itu Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) mengambil kebijakan untuk melarang seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk melakukan mudik. Berbagai macam sanksi bagi PNS yang nekat mudik seperti menangguhkan kenaikan pangkat, pencopotan jabatan dan lain sebagainya. Kesemuanya itu dilakukan demi memutuskan penyebaran virus Covid-19.

Salah satu hal yang mendorong masyarakat untuk mudik adalah Kecintaan terhadap kampung halaman. Sikap kecintaan ini ternyata pernah dirasakan oleh para sahabat Rasulullah SAW yang telah hijrah ke Madinah selama 10 tahun yang biasa disebut kaum muhajirin. Sampai ada suatu saat ketika Rasululah SAW ingin menunaikan ibadah haji ke Mekah, para sahabat mempersiapkannya secara besar karena para sahabat ini telah lama meninggalkan keluarganya yang sebagian masih tinggal di mekah, yang tentu memunculkan kerinduan yang luar biasa. Sifat kerinduan ini ternyata juga dialami oleh Rasulullah SAW. Keinginan untuk berangkat haji dan sekaligus “mudik” ini ternayata terhalang oleh perjanjian hudaibiyah yang salah satu butir kesepakatannya adalah pada tahun tersebut kaum muslimin dilarang berkunjung (menunaikan ibadah haji, red) ke Mekah. Kunjungan tersebut dapat dilaksanakan pada tahun berikutnya. Mengetahui keputusan tersebut para sahabat sepertinya tidak menerimanya karena mereka telah mempersiapkannya dengan baik apalagi sifat kerinduan yang besar akan sanak saudaranya. Akan tetapi melihat sikap Rasulullah SAW akhirnya para sahabat dengan ikhlas menerima keputusan tersebut.

Belajar dari sifat para sahabat tersebut, maka seharusnya kita yang telah dilanda pandemi Covid-19 untuk tidak pulang kampung alias mudik walaupun tentu kerinduan akan keluarga kita yang berada di kampung halaman begitu tingginya. Akan tetapi demi memutuskan penularan Covid-19 ini maka salah satu caranya itu membatalkan kegiatan mudik semoga wabah yang melanda negeri kita tercinta ini cepat selesai dan kegiatan mudik dapat kita laksanakan lagi pada tahun berikutnya.

Penulis: Dosen Universitas Mulawarman Samarinda dan Mahasiswa Program Doktor Ekonomi UII Yogyakarta

(Visited 296 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 28 April 2020
Close