Kelelawar Dapat Memprediksi Masa Depan?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Judul tersebut tentu mengundang pertanyaan, apakah kelelawar “cenayang”? hewan sakti? Tentunya tidak. Apa yang dimaksud memprediksi masa depan disini adalah kemampuan kelelawar untuk memprediksi satu hal, yakni di mana menemukan makan malam.
Diketahui dalam sebuah studi para peneliti Universitas Johns Hopkins, bahwa kelelawar menghitung ke mana arah mangsanya pergi dengan membangun model prediksi gerakan target dengan cepat dari gema. Modelnya sangat kuat, sehingga kelelawar dapat terus melacak mangsa bahkan saat mangsa tersebut menghilang untuk sementara di balik rintangan yang menghalangi gema seperti pohon dan hal lainnya.

Meskipun memprediksi jalur gerakan objek melalui penglihatan telah dipelajari secara ekstensif, namun temuan tersebut, yang diterbitkan di jurnal PNAS, adalah yang pertama untuk memeriksa proses serupa dalam pendengaran. Studi ini meningkatkan pemahaman tentang perilaku yang dipandu oleh pendengaran pada hewan dan manusia, termasuk orang dengan gangguan penglihatan yang menggunakan suara untuk melacak objek di sekitarnya.

Penulis senior Cynthia F. Moss, seorang ahli saraf dan profesor Psikologi dan Ilmu Otak mengatakan bahwa sama seperti yang dibutuhkan seorang pemain tenis untuk mengetahui kapan dan di mana mereka akan memukul bola, kelelawar perlu mengantisipasi kapan dan di mana ia akan melakukan kontak dengan serangga yang diburunya. Mangsa kelelawar, yakni serangga dapat terbang. Kelelawar sendiri juga terbang. Didalam lingkungan yang berubah sangat cepat ini, jika kelelawar hanya mengandalkan informasi yang didapatnya dari gema terbaru, maka dirinya akan kehilangan serangga tersebut.

Kelelawar menggunakan jeda waktu antara setiap panggilan ekolokasi dan gema yang dihasilkan untuk menentukan seberapa jauh mangsanya. Mereka memiringkan kepala untuk menangkap perubahan intensitas gema untuk mencari tahu di mana mangsa berada di bidang horizontal. Kelelawar harus mengumpulkan informasi gema tentang jarak dan arah objek agar berhasil melacak serangga yang bergerak tidak menentu.

Tetapi karena kelelawar adalah pemburu yang handal, para peneliti berpikir bahwa kelelawar juga harus menggunakan informasi tersebut untuk memprediksi kemana tujuan mangsanya. Untuk mengujinya, mereka merancang eksperimen yang sangat mirip dengan situasi perburuan kelelawar di alam liar.

Mereka melatih kelelawar untuk tetap bertengger dan melacak serangga. Tim merekam panggilan ekolokasi kelelawar dan gerakan kepala saat mereka mengubah ke mana serangga bergerak dan seberapa cepat. Mereka juga menambahkan kendala yang mengganggu gaung tersebut.

Penulis pertama Clarice Anna Diebold, kandidat doktor di Psikologi dan Ilmu Otak mengatakan bahwa mereka merancang model matematika untuk menguji data dan kami menemukan hipotesis yang berbeda tentang apa yang bisa dilakukan kelelawar
Jika kelelawar tersebut tidak memprediksi di mana serangga tersebut akan berada, gerakan kepalanya akan selalu tertinggal di belakang target. Tapi bukan itulah masalahnya. Jika kelelawar mempertahankan kepalanya dalam posisi tetap, yang terkadang mencerminkan di mana serangga itu berada pada akhirnya, hal tersebut akan menghilangkan teori prediksi. Tapi itu pun juga tidak terjadi. Dan jika kelelawar hanya menggunakan informasi dari gema untuk memperkirakan kecepatan, itu tidak akan cukup untuk menjelaskan tingkat ketepatan kelelawar.

Para peneliti berhipotesis bahwa kelelawar menggunakan informasi kecepatan dari waktu gema dan selanjutnya menyesuaikan tujuan kepala mereka. Angeles Salles, seorang rekan postdoctoral, yang merupakan rekan penulis pertama mengatakan bahwa saat mereka menguji model ini dengan data mereka, para peneliti menemukan kecocokan diantara keduanya.

Penemuan studi tersebut menjungkirbalikkan anggapan yang diterima sebelumnya bahwa kelelawar tidak dapat memprediksi posisi masa depan serangga, sebuah kesimpulan yang sebagian besar diambil dari studi tahun 1980-an yang dilakukan sebelum video berkecepatan tinggi tersedia secara luas.

Salles mengatakan bahwa pertanyaan mengenai prediksi ini penting oleh karena seekor hewan harus merencanakan ke depan untuk memutuskan apa yang akan dilakukannya selanjutnya. “Seekor hewan yang mengandalkan visual atau manusia memiliki aliran informasi yang masuk, tetapi bagi kelelawar itu luar biasa karena mereka melakukan ini hanya dengan snapshot akustik singkat.

Meskipun kelelawar dipelajari di sini, temuan ini berlaku untuk semua hewan yang melacak suara yang bergerak, dan bahkan untuk orang, seperti orang buta, yang menggunakan klik dan ketukan tongkat untuk membantu mereka menavigasi sambil menghindari rintangan.

Sumber:
Situs sciencedaily. Materi pertama berasal dari Johns Hopkins University. Naskah pertama kali ditulis oleh Jill Rosen. Foto: Pixabay.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti