Ditulis oleh 8:09 am SAINS

Keluarga Atau Teman, Manakah Kunci Kebahagiaan?

Ketika berada di sekitar pasangan, dinilai paling sedikit dalam menghasilkan kebahagiaan bila dibandingkan dengan bersama anak-anak atau teman-teman.

Dengan siapakah anda merasa bahagia? Bersama keluarga anda? Anak-anak anda? Pasangan anda? Ataukah dengan teman-teman anda? Jawabannya tentu beragam dan masing-masing orang belum tentu sama. Namun menurut profesor psikologi SMU Nathan Hudson, terdapat kemungkinan seseorang merasa lebih bahagia ketika dirinya dikelilingi oleh teman-temannya.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hudson, ditemukan bahwa dalam laporan tingkat kesejahteraan seseorang, nilainya lebih tinggi saat mereka bergaul dengan teman-teman mereka bila dibandingkan dengan mereka yang menghabiskan waktu dengan pasangan mereka atau anak-anak mereka. Dalam faktanya, di dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology, ketika berada di sekitar pasangan, dinilai paling sedikit dalam menghasilkan kebahagiaan bila dibandingkan dengan bersama anak-anak atau teman-teman.

Akan tetapi, Hudson menekankan, bahwa temuan tersebut lebih berkaitan dengan melakukan suatu aktivitas bersama dengan individu tertentu. Mengapa nilai ketika bersama teman-teman jauh melebihi bersama anak atau bersama pasangan? Hal tersebut menurut peneliti dikarenakan orang cenderung menghabiskan lebih banyak waktu mereka untuk melakukan aktivitas yang dianggap menyenangkan bersama dengan teman-teman mereka daripada dengan anggota keluarga. Dimana terkadang ketika bersama keluarga hal yang dilakukan cendurung kurang menyenangkan, seperti misalnya melakukan pekerjaan rumah atau melakukan tugas pengasuhan pada anak-anak atau balita.

Hudson mengatakan bahwa studi yang dilakukannya beserta rekan-rekannya menunjukkan bahwa hal tersebut tidak berhubungan dengan sifat dasar hubungan kawan versus kerabat. Ketika seseorang secara statistik mengontrol aktivitas yang mereka lakukan, ‘kehadiran’ anak-anak, pasangan romantis, dan teman-teman memiliki nilai tingkat kebahagiaan yang sama. Dengan demikian, makalah studi tersebut memberikan pandangan optimis tentang keluarga dan menyarankan agar orang-orang benar-benar menikmati diri mereka bersama pasangan dan anak-anak mereka.

Di dalam studi tersebut, terdapat lebih dari 400 peserta yang diminta untuk mengingat kembali saat mereka sedang bersama dengan teman mereka atau ketika bersama keluarga mereka. Para peserta diminta juga untuk mengidentifikasi aktivitas apa yang mereka kerjakan bersama dan menilai apakah pengalaman tersebut membuat mereka merasakan berbagai emosi, seperti bahagia, puas, dan dengan rasa makna. Dari setiap emosi, diberikan nilai dari 0 (hampir tidak pernah) hingga 6 (hampir selalu).

Dari informasi studi tersebut, serta juga tanggapan dan lain tentang bagaimana perasaan para peserta studi pada waktu yang berbeda yang memungkinkan Hudson dan rekan penulisnya, Richard E. Lucas dan M. Brent Donnellan, keduanya berasal dari Michigan State University, untuk memperkirakan tingkat kebahagiaan seseorang ketika bersama dengan teman dan keluarga mereka.

Dalam informasi studi tersebut, aktivitas yang paling sering dilakukan seseorang ketika meraka sedang bersama dengan pasangan mereka diantaranya adalah bersosialisasi, bersantai, serta makan bersama. Orang-orang juga cenderung melakukan aktivitas tersebut pada saat mereka juga bersama teman-teman mereka.

Di dalam studi ditemukan bahwa orang-orang cenderung hanya melakukan lebih banyak hal yang menyenangkan ketika mereka bergaul dengan teman-teman mereka dan lebih sedikit melakukan pekerjaan rumah. Sebagai contoh, 65 persen pengalaman yang melibatkan teman melibatkan sosialisasi. Sedangakan untuk pasangan anda, hanya 28 persen dari waktu anda yang akan anda bagi.

Hal yang sama juga bila bersama anak-anak. Menghabiskan waktu dengan anak-anak juga berarti lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang memiliki asosiasi negatif. Seperti melakukan pekerjaan rumah dan melakukan perjalanan pulang pergi ke suatu tempat untuk menyenangkan sang anak. Akan tetapi, aktivitas yang paling sering dilaporkan adalah pengasuhan anak, yang dimana hal ini dipandang secara positif. Dan secara keseluruhan, orang-orang melaporkan merasakan tingkat kesejahteraan yang sama saat berada di hadapan teman, pasangan, dan anak-anak setelah segala aktivitas “negatif” tersebut dikeluarkan dari persamaan.

Hudson mengatakan bahwa terdapat pelajaran di sini. Yaitu sangatlah penting untuk menciptakan peluang-peluang untuk melakukan dan mendapatkan pengalaman positif ketika kita sedang bersama dengan pasangan dan anak-anak kita dan untuk sangatlah penting untuk benar-benar menikmati saat-saat positif tersebut secara mental. Sebaliknya, hubungan keluarga yang tidak melibatkan apa-apa selain pekerjaan rumah, pekerjaan rumah, dan pengasuhan anak kemungkinan tidak akan menghasilakan banyak kebahagiaan, tambahnya.

Sumber:
Disadur dari situs sciencedaily. Materi berasal dari Southern Methodist University. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

(Visited 16 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 22 September 2020
Close