Kembalilah Kepada Jalan Kebenaran!

agus salim copy
Saatnya instropeksi, mengapa musibah kerap datang silih berganti.

Oleh: Drs. Agus Salim Matondang, M.M.,CFS.

Manusia yang normal alias waras, senantiasa mendambakan kebahagiaan, bukan musibah. Perilakunya pun cenderung pada hal yang membuatnya nyaman. Baik secara fisik maupun batiniah.  Para ahli bahasa menjelaskan bahwa hakikat musibah adalah hal-hal yang tidak disukai yang menimpa seseorang. Atau segala sesuatu yang menyusahkan dan menimpa seorang mukmin. Itulah kemudian musibah atau bencana senantiasa dihindari orang, sekecil apa pun yang biasanya selalu dikonotasikan dengan keburukan. Pandemi

Covid 19 yang sedang mewabah di dunia ini tidak terkecuali Indonesia, dapat dipandang sebagai musibah. Musibah pasti ada maksudnya, dan sepengetahuan serta seizin Sang Pemilik dunia dan seisinya. “Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf 7:168). Saatnya instropeksi, mengapa musibah kerap datang silih berganti. Jawabannya : Disebabkan perbuatan atau kesalahan manusia itu sendiri!  Penegasannya jelas, bahwa setiap kesalahan dan kebaikan walaupun seberat atom, akan diberikan ganjaran.

Jika kezaliman (ketidakadilan) merajalela, kebohongan, penipuan-tipu muslihat, orang yang benar disalahkan alias dipersekusi.  Sebagai contoh dalam  hal penguasaan aset-kekayaan negeri ini didominasi oleh segelintir warga negara (aseng dan asing), sekitar satu persen menguasai 50,3 persen asset nasional. Maka tunggulah hasil buruknya, tidak saja bagi oang-orang tertentu, tetapi pada semua orang,  sebagai akibat dari perbuatan yang tidak adil dan buruk tersebut!

Bahwa  pandemi covid 19 sepertinya setiap hari masih terus saja bertambah korbannya. Sementara menurut laporan resmi korban meninggal pun masih lebih banyak dari pada  yang telah sembuh. Belum lagi jumlah yang tidak terdeteksi dan tidak terlaporkan, dapat saja lebih banyak lagi jumlahnya.  Wabah yang sedang dihadapi ini telah menyangkut keselamatan warga bangsa, dan telah menyebar nyaris ke setiap provinsi, tanggung jawab utama dan terdepan ada pada penyelenggara negara.

Feter F. Drucker dalam The Effective Executive, menyebutkan jika ingin membuat seorang pemimpin menjadi efektif yang harus dilakukan adalah: 1). Dapat menentukan, terhadap apa yang paling tepat dilakukan. 2). Bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah diambil. 3).Berkomunikasi dengan baik dan jelas, sehingga dapat dipahami oleh pihak lain. 4).Fokus pada peluang penyelesaian masalah. 5). Melibatkan pihak-pihak lain yang terkait.

Epicentrum covid 19 sementara ini ada di DKI, sejak Jumat, 10 April 2020 telah diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan (AB) menjadi penting dan sedang mendapat ujian besar yang belum pernah dialami sebelumnya. Posisi seorang pemimpin adalah di depan. Menjadi petunjuk jalan kebaikan, membimbing rakyatnya untuk sesuatu kemaslahatan. Sejauh ini kepemimpinan AB terlihat telah mencakup kelima hal di atas, sehingga kepemimpinannya diharapkan dapat berjalan secara efektif.

Kondisi yang ada terus saja semakin mengkhawatirkan. Pilihannya adalah menyelamatkan rakyat dari korban berjatuhan yang semakin banyak.  Negara mempunyai kewajiban untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Tidak  dapat ditawar sebagai amanah konstitusi. Hal ini tidak mudah, tergantung kepada kualitas kenegarawan seorang pemimpin. Masih segar dalam ingatan, pada awalnya para petinggi negeri ini menganggap remeh wabah covid 19 tersebut. Setelah keadaan berbalik, virus corona pun menyerang negeri ini, korban terus saja berjatuhan tidak tertahankan. 

Negara mempunyai kewajiban untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Tarik-menarik pun terjadi (apapun alasan dan argumentasinya). Satu pihak berpendapat diberlakukan lockdown. Pihak lain cukup dengan pembatasan sosial saja. Kini Indonesia menjadi sorotan dunia dalam penanganan virus corona. Semua sepakat betapa buruknya cara Indonesia menghadapi pendemi covid 19. Indonesia pun berpotensi menjadi epicentrum covid 19 di dunia.

Pemberlakuan PSBB di DKI tidak akan efektif, jika kemudian daerah berdekatan dengannya tidak melakukan hal yang sama. Sudah pasti akan menimbulkan beberapa akibat, roda ekonomi akan menjadi lumpuh. Terjadi banyak pengangguran, terutama pekerja informal dan kompleksitas persoalan sosial lainnya.

Di samping penanganan di lapangan yang sedang berjalan, hal yang mendesak dilakukan adalah kembalilah kepada Allah, dengan bertaubat: “Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kamu kepada Allah, dengan taubat yang sesungguhnya, kiranya Tuhan kamu akan menghapus segala keburukan dan memasukkan kamu ke dalam taman-taman surga..” (QS. At-Tahrim 66:8). Taubat nasuha, adalah kembali dengan sungguh-sungguh kepada Allah dengan ketulusan dan kemurnian.

Tanpa ada maksud-maksud lainnya, dengan demikian juga berfungsi untuk memberikan nasihat kepada pihak-pihak lain, sehingga orang dapat berbuat hal yang sama. Indikator diterimanya pertaubatan salah satunya adalah: Antara kata yang diucapkan dengan perbuatan  akan sama; Selalu menjaga urusan dan amanah yang diberikan kepadanya; Setiap saat melakukan muhasabah (evaluasi diri), dengan terus berusaha untuk melengkapi dan menyempurnakan kewajiban-kewajibannya. Wallahu’alam.

Penulis : Alumni HMI Cabang Yogyakarta.


“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).”

QS. Al-A’raf 7:168

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close