Kembalinya Fungsi Keluarga di Tengah Pandemi

keluarga_002aa
Anjuran untuk diam di rumah ternyata juga mampu memulihkan beberapa fungsi keluarga yang sudah bergeser/berubah.

“Apa pun ciptaan Allah dan situasi kondisi yang dikehendaki Allah, tidak ada yang sia-sia, semua mengandung manfaat dan hikmah jika manusia pandai mencarinya”

A. Fungsi Keluarga di Era Modern

Keluarga merupakan institusi dasar terbentuknya norma sosial yang memiliki fungsi pokok: keagamaan, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, dan pelestarian lingkungan (BKKBN., 2013), pengawasan sosial, dan pemberian status. Seharusnya, fungsi-fungsi tersebut dapat dijalankan dengan baik agar terwujud keluarga harmonis, namun adanya berbagai perubahan ternyata berpengaruh signifikan terhadap fungsi keluarga tersebut.

Keluarga pada masyarakat modern, khususnya yang hidup di perkotaan,  terbagi dalam tiga kelas. Pertama, kelas bawah dengan ciri berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar sehingga seluruh anggota keluarga harus bekerja, rumah kecil, dan banyak tekanan hidup yang mengakibatkan terjadinya disfungsi dalam pendidikan dan kasih saying, kurangnya otoritas orang tua, dan menurunnya bahkan tidak adanya kontak emosional antar anggota keluarga.

Kedua, kelas menengah dengan ciri tingkat pendidikan lebih tinggi dan ayah/ibu bekerja di luar rumah dan disebut dengan tipe bourgeuis family yang menempatkan pendidikan anak sebagai aspek yang penting.

Ketiga, kelas menengah atas (hipermodernitas) dengan ciri kedua orang tua berpendidikan tinggi, lebih individualistik, para isteri/ibu mempunyai banyak kebutuhan aktualisasi diri sehingga berorientasi keluar, baik dalam pekerjaan maupun pergaulan, akibatnya anak-anak terpisah dari orang tua dan harus memperoleh figur pengganti (baby sitter, guru, pengasuh anak, asisten RT, dsb.).

Dengan mencermati uraian tentang keluarga di era masyarakat modern bahkan hipermodernitas yang ditandai dengan berkembangnya teknologi canggih seperti sekarang ini, sesungguhnya hampir seluruh fungsi keluarga sudah mengalami pergeseran/perubahan. Sebagian besar fungsi keluarga sudah diambil alih, baik oleh tehnologi maupun oleh pihak-pihak diluar keluarga, baik secara institusional (sekolah, tempat penitipan anak, dsb.) maupun secara personal (babby sitter, pembantu rumah tangga, tetangga, dsb).

Dalam fungsi ekonomi, keluarga tidak lagi bersifat produktif, tetapi lebih bersifat konsumtif. Mungkin yang belum mengalami pergeseran dan perubahan secara ekstensional adalah fungsi reproduksi, walaupun dalam pengembangan keturunan secara kuantitas sudah sangat terbatas/dibatasi, dengan alasan agar kualitas hidup, masa depan anak, dan kehidupan keluarga lebih baik. Padahal, menurut Samsuddin (2016, 90-91) ‘orientasi material lebih menjadi dasar prinsip pada pembatasan fungsi reproduksi dalam keluarga”, meskipun sudah  tidak lagi berlaku konsep “banyak anak banyak rezeki”.

B. Fungsi Keluarga di Tengah Pandemi

Mewabahnya  Covid-19 yang begitu dahsyat sehingga WHO memutuskan sebagai pandemi, membawa dampak yang luar biasa pada kehidupan manusia di seluruh belahan dunia. Keputusan #diam dirumah aja#, belajar, bekerja, dan ibadah di rumah yang membatasi gerak manusia, operasional kendaraan, industri, dsb. ternyata membawa dampak besar bagi bumi seisinya.  Bukan hanya memperlambat persebaran virus, tetapi menurut para ahli geografi juga memperbaiki dan memulihkan fungsi dan tampilan bumi. Subhanallah.

Bukan hanya itu, #diam dirumah aja# ternyata juga mampu memulihkan beberapa fungsi keluarga yang sudah bergeser/berubah, terutama setelah memasuki bulan Ramadhan. Keluarga terus berkumpul di rumah, ayah/bunda WFH di dekat anak-anak sehingga bisa mengawasi dan memperhatikannya. Belajar di rumah, membuat ayah/bunda harus mendampingi anak-anak secara langsung. Dalam waktu luang/kosong keluarga bisa bercanda sehingga bisa merekatkan emosional seluruh anggota keluarga, bisa meningkatkan ikatan kasih sayang.

Hikmah luar biasa yang bisa kita temukan, terutama setelah memasuki Ramadhan adalah: munculnya ‘pesantren-pesantren kecil’ dalam keluarga. Subhanallah. Kondisi ini secara tidak langsung mampu mengembalikan dan memulihkan sebagian besar fungsi keluarga yang sudah melemah. Menjalankan puasa bersama keluarga, berbuka dan sahur bersama, tadarus bersama, selalu sholat lima waktu secara berjama’ah, dan juga sholat tarawih. Bahkan adanya larangan mudik atau pulang kampung, mampu menyadarkan kita, betapa penting dan berharganya keluarga, akan menjadi ‘tolok ukur’ sekaligus ‘batu ujian’ kecintaan dan kasih sayang kita pada keluarga. Bisakah dan mungkinkah ‘pesantren-pesantren kecil’ ini terus tumbuh dan bertahan? Wallahua’lam. Semoga kita tergolong orang-orang yang penyabar dan orang-orang yang pandai mensyukuri ni’mat Allah. Aamiin.


Referensi:

  1. Wirdhana, Indra, dkk. 2013. Buku Pegangan Kader BKR tentang Delapan Fungsi Keluarga. Jakarta: BKKBN Direktorat Bina Ketahanan Remaja.
  2. Samsuddin. 2016. Sosiologi Keluarga (Studi Perubahan Fungsi Keluarga). Bengkulu: Pustaka Pelajar.

Baca juga: Covid 19 dan Kepedulian Sosial

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close