23.4 C
Yogyakarta
3 Agustus 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Kembalinya Tasmanian Devils ke Benua Australia

Setelah 3.000 tahun lamanya, langkah kaki dari Tasmanian devil kembali terdengar di alam daratan utama Australia setelah satu kelompok Devils dilepaskan di Taman Nasional Barrington Tops, yang berlokasi sekitar 120 mil (200 kilometer) utara dari Sydney.

Tasmanian devils (Sarcophilus harrisii), merupakan marsupial (mamalia berkantung) pemakan daging terbesar di dunia, yang telah lama hilang dari sebagian besar benua Australia, dan hingga kini, populasi liar yang masih tersisa hanyalah di pulau Tasmania. Devils yang berada di daratan utama kemungkinan besar kalah dalam kompetisi melawan dingo, anjing liar yang masuk benua Australia sekitar 3,500, dan kini dingo dianggap sebagai spesies hama.

Namun demikian, setelah dilakukannya pemberantasan dingo selama satu dekade ini telah memberikan kesempatan kedua bagi para Tasmania devils. Bedasarkan pernyataan yang dirilis pada 5 Oktober oleh Konservasi Satwa Liar Global (GWC), dengan menyingkirkan para dingo dan memperkenalkan kembali devils ke Barrington Tops, para konservasionis berharap bahwa hal tersebut tidak hanya membangun kembali populasi liar marsupial yang ikonik ini, tetapi juga membantu melindungi spesies asli lainnya yang juga terancam dari predator invasif ini.

Aussie Ark, yang merupakan sebuah organisasi nirlaba satwa liar di Australia, telah mengembangbiakkan dan mempelajari Tasmania devils selama lebih dari satu dekade dengan tujuan akhir yaitu memperkenalkan kembali devils ke alam liar setelah kondisi telah cocok untuk kelangsungan hidup mereka. Untuk pelepasan yang baru-baru ini dilakukan, Aussie Ark bermitra dengan GWC dan WildArk, organisasi nirlaba konservasi satwa liar lainnya. Dengan bantuan tersebut, mereka melepaskan 11 Tasmanian Devils pada 10 September yang lalu.

Menurut informasi yang ada pada Museum Australia, Tasmania devils merupakan mamalia berbulu hitam dengan moncong tumpul dan anggota tubuh yang pendek dengan ukuran panjang berkisar antara 22 hingga 26 inci (55 hingga 65 sentimeter) dan tinggi sekitar 12 inci (30 cm) di bahu. Devils yang hidup di pulau Tasmania tidak mendapat ancaman dari dingo, oleh karena mereka tidak pernah menapakkan kaki di sana. Akan tetapi, di pulau tersebut Tasmania devils menghadapi ancaman mematikan lainnya, yakni kanker yang sangat menular dan fatal dikenal sebagai penyakit tumor wajah setan (DFTD). Menurut pernyataan GWC, penyakit ini pertama kali terdeteksi pada 1990-an. Sejak saat itu kanker tersebut telah memusnahkan sekitar 90% Tasmania devils, dan hanya menyisakan 25.000 di alam liar.

Presiden GWC Don Church mengatakan bahwa para pakar konservasi di Tasmania telah bekerja untuk mengisolasi devils yang sehat dari yang sakit, dan membiakkan populasi yang sehat. Tapi di pulau tersebut terdapat sedikit kesempatan untuk memperkenalkan kembali devils yang sehat dan memisahkan mereka dari setan yang terinfeksi, dan mengatakan bahwa masih tidak mungkin untuk memberantas penyakit tersebut.

Namun, menurut Church, oleh karena kanker tersebut hanya menyebar lewat kontak wajah langsung antara dua devils. Biasanya ketika mereka tengah saling menggigit untuk merebutkan makanan, maka devils yang tidak terjangkit penyakit ini di daratan utama akan aman dari ancaman penyakit ini.

Membawa kembali Tasmania devils ke benua Australia juga dapat membantu untuk mengatasi ancaman ekologis mengerikan lainnya yang ditimbulkan oleh kucing dan rubah domestik. Keduanya bukanlah spesies yang asli dari benua tersebut, dan keduanya diperkenalkan ke Australia pada abad ke-18 oleh penjajah Eropa. Dingo sebelumnya pernah membantu untuk menjaga populasi kucing dan rubah agar terkendali, akan tetapi karena dingo dimusnahkan selama dekade terakhir, jumlah kucing dan rubah kini mengalami pelonjakan, dan dampaknya terhadap satwa liar asli sangat menghancurkan. Kucing di Australia membunuh lebih dari 2 miliar hewan liar setiap tahun. Menurut laporan sebelumnya, hanya dalam satu hari, jutaan kucing Australia membunuh sekitar 1,3 juta burung, 1,8 juta reptil, dan lebih dari 3,1 juta mamalia.

Menurut Church, dengan diperkenalkannya devils lagi dalam ekosistem, populasi dari predator invasif ini mungkin akan menurun atau pola berburu mereka akan rusak oleh adanya kompetitor baru. Dengan adanya devils, yang merupakan hewan nocturnal, kucing menjadi tidak dapat berburu seleluasa sebelumnya pada malam hari. Dengan ini, kucing harus berpindah untuk berburu pada siang hari, yang dimana tidaklah seefektif saat malam hari.

Sedangkan untuk para rubah, dahulu penjajah Eropa telah berusaha untuk memperkenalkan mereka sebanyak setidaknya enam kali di pulau Tasmania dan tidak ada dari usaha tersebut yang membuahkan hasil. Hal ini mungkin disebabkan oleh keberadaan devils yang telah menetap di pulau tersebut. Menurut Church tidak terdapat studi yang menyelidiki mengapa usaha tersebut tidak pernah berhasih, oleh karena pulau tersebut cocok dengan habitat rubah dan terdapat banyak mangsa yang daat diburu. Namun terdapat satu hipotesis yang mengatakan bahwa keberadaan Tasmania devils mencegah para rubah untuk mengambil alih pulau tersebut sebagai predator tertinggi.

Meski Tasmanian devils adalah hewan karnivora, namun mereka tidak merusak keanekaragaman hayati asli seperti kucing atau rubah oleh karena devils adalah marsupial. Oleh karena mereka adalah marsupial, mereka memiliki tingkat metabolisme yang lebih rendah dibandingkan karnivora plasenta, dan juga mereka tidak makan terlalu sering. Devils juga lebih suka memakan hewan yang sudah mati, dimana hal ini juga ikut mengurangi dampak negatif terhadap sumber daya ekosistem.

Church mengatakan bahwa area Barrington Tops memiliki sekitar 40 spesies yang diketahui memililiki masalah. Dirinya berharap bahwa kehadiran devils akan menjadi suatu solusi ekologis, yang dapat berkontribusi untuk mengatasi pemicu utama kepunahan di benua Australia, yaitu keberadaan kucing dan rubah liar. Dan juga diharapkan dalam jangka waktu panjang kehadiran para devils di daerah tersebut akan membantu mencegah jumlah spesies yang dipermasalahkan tersebut untuk bertambah secara terkontrol, dan menjadi suatu solusi alami untuk masalah tersebut.

Setelah beberapa minggu, para ilmuwan akan kembali menangkap beberapa devils yang telah dilepaskan dan memasangi mereka dengan tali pemancar radio. Hewan ini tidak bisa memakai kalung pelacak oleh karena mereka tidak benar-benar memiliki leher. Survei dan kamera akan memberikan data tambahan tentang bagaimana para devils tersebut beradaptasi dengan rumah baru mereka. Tetapi bukti nyata dari kesuksesan para ilmuwan akan tersedia sekitar Juni 2021, yakni jika devils baru mulai lahir dari kantong ibu mereka, yang menurut Church, merupakan indikator yang baik untuk menentukan apakah mereka dapat hidup dengan sendirinya ataukah tidak.

Sumber:
Disadur dari situs livscience. Materi berasal dari Live Science. Naskah pertama kali ditulis oleh Mindy Weisberger. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA