Ditulis oleh 8:28 am COVID-19

Kemudahan di Balik Kesulitan

Jika kesulitan hidup dipandang sebagai tantangan, maka hidupnya didasari optimisme. Cenderung berakhir dengan keberhasilan.

Oleh: Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., MA

Simplicity is a quality that not only evokes passionate loyalty for a product design, but also has become a key strategic tool for businesses to confront their own intrinsic complexities”.
– John Maeda –

Kemudahan dan kesulitan merupakan sunnatullah. Adanya selalu berpasang-pasangan. Sebagaimana sunnatullah lainnya dalam kehidupan kita. Dibalik kesedihan ada kesenangan. Di balik kesempitan, ada kelonggaran. Di balik kekalahan, ada kemenangan. Di balik kegagalan, ada kesuksesan. Inilah realitas kehidupan.

Manusia itu adakah makhluk yang dinamis, bukan statis. Berubah dari waktu ke waktu. Demikian pula lingkungan fisik dan sosial terus berubah. Dalam proses perubahan, dari satu fase ke fase berikutnya, selalu ada kesulitan. Kesulitan bisa terjadi awal, pertengahan, atau akhir fase. Kesulitan bisa bersifat sederhana, bisa juga bersifat kompleks. Kesulitan yang sederhana, biasanya dapat diselesaikan sendiri, tetapi kesulitan yang kompleks kadang-kadang diperlukan bantuan dan pertolongan dari orang lain.

Kesulitan hidup ada yang berakibat terhadap gangguan penyesuaian diri dengan sesama. Ada juga yang bisa berakibat terhadap gangguan syaraf menjadi, depresi. Tetapi kesulitan hidup yang berat bisa fatal hingga menimbulkan penyakit jiwa, menjadi psikosis. Orang awam sering memberi sebutan orang gila. Bahkan yang lebih berat lagi, kesulitan hidup yang sangat berat bisa berakhir dengan bunuh diri.

Kesulitan hidup itu bisa diartikan sebagai hambatan. Bisa juga dipahami sebagai tantangan. Jika dipandang sebagai hambatan, maka hidupnya didasari pesimisme. Cenderung berakhir dengan kegagalan. Jika kesulitan hidup dipandang sebagai tantangan, maka hidupnya didasari optimisme. Cenderung berakhir dengan keberhasilan.

Kesulitan hidup perlu disikapi dengan benar, sehingga memperoleh keuntungan dan kemenangan. Jika salah bersikap, yang akan kita dapatkan kerugian dan kekalahan. Mari kita cermati dua ayat firman Allah swt dalam QS Al Insyirah:5-6, yang artinya. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al Insyirah:5-6). Ayat ini mengandung arti bahwa :(1) Di balik satu kesulitan, ada dua kemudahan, (2) Akhir berbagai kesulitan adalah kemudahan, (3) Di balik kesulitan, ada kemudahan yang begitu dekat. Kedua ayat ini mempertegas anggapan dan kita harus meyakini bahwa kesulitan yang kita hadapi dengan sabar dan sungguh-sungguh, insya Allah kita akan jumpai kemudahan dan kesuksesan atau kemenangan.

Berakit-rakit ke hulu, berenang-tenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Peribahasa ini sering menjadi pegangan orang-orang yang hidupnya dalam kesulitan yang ingin berjuang secara all-out. Apakah karena yatim dan piatu, atau ketidakberuntungan secara ekonomi, sehingga hidupnya prihatin dan penuh riyadhoh. Tidak sedikit orang yang sukses berangkat dari nol. Juga menjalani hidup prihatin sejak kecil, hingga remaja dan dewasa. Belajar dan berjuang sungguh-sungguh hingga studinya selesai dan sukses.

Jika memperhatikan orang-orang sukses yang berawal dengan prihatin, kita ingat ada satu kata hikmat (mahfudzot), yang berbunyi :

وَ لَا حُزْنٌ يَدُوْمُ وَلَا سُرُوْرُ # وَلَا عُسْرٌ عَلَيْكَ وَلَا رَخَـاءُ

Tak ada kesedihan yang terus berkelanjutan, dan begitu pula kesenangan. Tiada pula kesulitan selalu mendatangimu, dan begitu pula kemudahan. Mahfudzot ini mengingatkan kita bahwa kesulitan hidup tidak perlu diratapi terus, apalagi untuk apologi, melainkan kita jadikan motivasi untuk maju. Karena akan bisa berakhir dengan kemudah. Apalagi diperkuat dengan Mahfudzat lainnya, yaitu:

وَمَا اللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَبِ

“Tidak ada kenikmatan kecuali setelah kepayahan.” Kenikmatan yang didapatkan tanpa usaha dan pengorbanan adalah kenikmatan sesaat yang akan segera hilang, namun kenikmatan yang didapatkan setelah melalui perjuangan akan selalu dikenang.

Sebaliknya, kita harus sungguh berhati-hati, bahwa kemudahan yang diperoleh di awal kehidupan tanpa dibarengi dengan kesungguhan hidup, apalagi dengan sikap dan pola hidupnya yang manja dan tidak fokus dsn serius, maka bisa jadi pada akhirnya studinya gagal, bahkan bisa juga hidupnya. Yang selanjutnya mereka cenderung menjumpai kesulitan hidup, yang tidak bisa dihindari. Tidak sedikit kasus bahwa anak orang kaya yang gagal masa pertumbuhan dan perkembangannya berujung dengan kesulitan yang menyedihkan.

Implikasi dalam menghadapi Cavid 19, bahwa siapapun atau negara manapun yang menghadapi persoalan Covid 19 dengan sungguh-sungguh yang melibatkan semua aspek atau pihak secara all out dengan segala kerumitan dan kesulitannya, maka pada akhirnya dapat meraih keberhasilan dan kemudahan hidup bagi semua. Sebaliknya bahwa siapapun atau negara manapun yang menganggap mudah, menyepelekan, maka kini dapat kita lihat mereka hadapi kesulitan, yang bisa sebabkan orang hadapi kesulitan atau frustasi. Di sinilah kematangan dan tanggung jawab menjadi salah satu faktor penting dalam menyikapi Covid 19.

Akhirnya bahwa kesulitan pada awal perjalanan hidup hakekatnya bukanlah bersifat final dan bukan segala-galanya. Jika kesulitan hidup bisa dihadapi dengan sikap positif, optimis, dan sungguh-sungguh, maka dengan seijin Allah swt, akan ditemukan kemudahan (Man jadda wajada). Yang penting kita perlu terus berikhtiar mencari solusi persoalan hidup, walau di tengah-tengah kesulitan pada tataran global. Semoga kita bisa segera tuntaskan semua kesulitan dan menemukan kemudahan. Aamiin.

(Rochmat Wahab, 03/04/2020, Jumat, pk. 02.00)

Penulis: Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta

(Visited 82 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 April 2020
Close