Kemungkinan Kehidupan di Planet Venus

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Mengkonfirmasi adanya kehidupan di atmosfer Venus akan menjadi sebuah terobosan besar untuk astrobiologi; dan oleh karenanya, penting untuk menindaklanjuti hasil yang menarik ini dengan studi teoretis dan observasi.

Penemuan-penemuan baru dari alam semesta kita mendapat tambahan lagi. Tim astronom internasional mengumumkan suatu penemuan molekul langka, yakni fosfin, pada awan di planet Venus. Di Bumi, gas ini hanya dapat dibuat melalui proses industri atau oleh mikroba yang berkembang di lingkungan bebas oksigen.

Selama beberapa dekade, para astronom telah berspekulasi bahwa awan tinggi yang ada di Venus dapat menjadi rumah bagi mikroba, yang mengambang bebas dari permukaan planet yang sangat panas, akan tetapi perlu memiliki tingkat toleransi akan keasaman yang sangat tinggi. Deteksi fosfin dapat mengindikasikan adanya kehidupan di luar planet bumi yang “mengambang” di planet Venus tersebut.

Jane Greaves dari Universitas Cardiff di Inggris mengatakan bahwa mereka sangat terkejut ketika mendapat petunjuk pertama tentang fosfin dalam spektrum Venus. Greaves pertama kali melihat tanda-tanda fosfin dalam pengamatan dari James Clerk Maxwell Telescope (JCMT), yang dioperasikan oleh East Asian Observatory, di Hawai’i.

Untuk mengonfirmasi temuan, mengharuskan mereka menggunakan 45 antena dari Atacama Large Millimeter / submillimeter Array (ALMA) di Chili. Serta menggunakan teleskop dengan tingkat sensitivitas yang tinggi, bekerja sama dengan European Southern Observatory (ESO). Kedua fasilitas tersebut mengamati Venus pada panjang gelombang sekitar 1 milimeter, lebih panjang dari yang bisa dilihat mata manusia, hanya dengan teleskop di tempat yang cukup tinggi dapat mendeteksinya secara efektif.

Tim internasional, yang di dalamnya terdiri dari para peneliti dari Inggris, AS, dan Jepang, memperkirakan bahwa fosfin di awan Venus ada dalam konsentrasi kecil, yakni hanya sekitar dua puluh molekul dalam setiap miliar. Melanjutkan dari pengamatan yang dilakukan, para peneliti menjalankan perhitungan untuk melihat apakah jumlah dari fosfin ini dapat berasal dari proses alami non-biologis dari planet Venus.

Terdapat beberapa gagasan sepertu diantaranya sinar matahari, mineral yang terlempar ke atas dari permukaan, gunung berapi, atau kilat, tetapi tidak ada yang bisa membuatnya cukup dekat. Sumber-sumber non-biologis ini, menurut temuan para peneliti, menghasilkan paling banyak sepersepuluh ribu jumlah fosfin yang dilihat oleh teleskop.

Untuk membuat jumlah fosfin yang diamati (yang terdiri dari hidrogen dan fosfor) di Venus, organisme darat hanya perlu bekerja pada sekitar 10% dari produktivitas maksimumnya, menurut tim. Bakteri bumi diketahui membuat fosfin: mereka mengambil fosfat dari mineral atau bahan biologis, menambahkan hidrogen, dan pada akhirnya mengeluarkan fosfin. Setiap organisme di Venus mungkin akan sangat berbeda dengan yang ada pada Bumi, akan tetapi mereka juga bisa menjadi sumber fosfin di atmosfer.

Meski penemuan fosfin di awan Venus merupakan sesuatu yang mengejutkan, para peneliti yakin akan deteksi mereka. Anita Richards dari Pusat Regional ALMA Inggris dan Universitas Manchester yang merupakan salah satu anggota tim peneliti mengatakan bahwa mereka sangat lega karena kondisi di ALMA bagus untuk pengamatan lanjutan, dan Venus berada pada sudut yang sesuai dengan Bumi. Namun demikian, pemrosesan data tersebut tidaklah mudah, karena ALMA biasanya tidak mencari efek yang sangat halus pada objek yang sangat terang, seperti Venus.

Greaves, yang juga merupakan pimpinan peneliti tersebut, mengatakan bahwa pada akhirnya, ditemukan bahwa kedua observatorium telah melihat hal yang sama. Yakni penyerapan samar pada panjang gelombang yang tepat menjadi gas fosfin, di mana molekul diterangi oleh awan yang lebih hangat di bawah.

Peneliti lainnya, Clara Sousa Silva dari Massachusetts Institute of Technology di AS, telah menyelidiki fosfin sebagai gas “biosignature” dari kehidupan non-oksigen di planet sekitar bintang lain, karena kimia normal membuat sangat sedikit. Dia memberikan komentar bahwa menemukan fosfin di Venus merupakan suatu bonus yang tidak terduga. Penemuan tersebut tentunya menimbulkan banyak pertanyaan, seperti bagaimana organisme dapat bertahan hidup. Di Bumi, beberapa mikroba dapat mengatasi hingga sekitar 5% asam di lingkungan mereka, akan tetapi awan Venus hampir seluruhnya terbuat dari asam.

Para peneliti percaya bahwa penemuan mereka amatlah penting oleh karena mereka dapat mengesampingkan banyak cara alternatif untuk membuat fosfin, tetapi mereka mengakui bahwa memastikan keberadaan “kehidupan” membutuhkan lebih banyak pekerjaan. Meskipun awan tinggi Venus memiliki suhu hingga 30 derajat Celcius, mereka sangat asam, yang diperkirakan mengadung sekitar 90% asam sulfat , dapat menimbulkan masalah besar bagi setiap mikroba yang mencoba untuk bertahan hidup di planet tersebut.

Astronom ESO dan Manajer Operasi Eropa ALMA Leonardo Testi, yang tidak berpartisipasi dalam studi baru tersebut menyampaikan bahwa produksi non-biologis fosfin di Venus tidaklah masuk dalam pemahaman terkini para penelitiara tentang kimia fosfin di atmosfer planet berbatu. Mengkonfirmasi adanya kehidupan di atmosfer Venus akan menjadi sebuah terobosan besar untuk astrobiologi; dan oleh karenanya, penting untuk menindaklanjuti hasil yang menarik ini dengan studi teoretis dan observasi untuk mengecualikan kemungkinan bahwa fosfin di planet berbatu juga mungkin memiliki asal kimia yang berbeda dari di Bumi.

Pengamatan lebih lanjut tentang Venus dan planet berbatu di luar Tata Surya kita, termasuk yang akan diamati oleh Teleskop Sangat Besar ESO yang akan segera datang, dapat membantu untuk mengumpulkan petunjuk tentang bagaimana fosfin dapat berasal dari mereka dan berkontribusi pada pencarian tanda-tanda kehidupan di luar Bumi.

Penelitian ini telah dipresentasikan dalam makalah “Phosphine Gas in the Cloud Decks of Venus” untuk dikeluarkan dalam Nature Astronomy.

Sumber:
Disadur dari situs sciencedaily. Naskah berasal dari ESONote: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti