Kenapa Manusia Harus Beragama?

mengapa_beragama
Di dalam diri manusia terdapat kekuatan yang senantiasa mengajak hidup baik, yaitu yang sering dinamakan “hati nurani”. Tetapi di samping itu terdapat juga kekuatan yang menarik-narik ke arah keburukan, kekuatan ini dinamakan “hawa nafsu”.

A. Pengertian Agama

Cukup banyak definisi agama yang dirumuskan oleh para ulama maupun pakar, namun pada bagian ini disampaikan cukup dua definisi, selebihnya peserta pengajian Ahad Pagi dapat menulusuri pada buku-buku agama dan dapat pula mengakses di internet.

  • Syeh M. Abdullah Badran, seorang Guru Besar Al-Azhar, dalam bukunya Al-Madkhal ila Al-Adyan, menjelaskan arti agama diawali dengan pendekatan kebahasaan, yaitu Diin yang biasa diterjemahkan “agama” menggambarkan hubungan.antara dua pihak di mana yang pertama Kholiq mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada yang kedua makhluq. Dengan demikian.agama adalah“ hubungan antara makhluq dan Kholiqnya”.
  • Syeh Mahmud Syaltut menyatakan bahwa “agama adalah ketetapan-ketetapan Ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup manusia”.

B. Perlunya Manusia Beragama

Dua pakar berikut akan menyampaikan mengapa manusia beragama, membutuhkan agama, memakai agama dalam kehidupannya. Namun demikian peserta pengajian.bisa mempunyai alasan lain dan bisa disampaikan dan didiskusikan dalam kajian-kajian mendatang.

1. Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Setidaknya ada dua alasan yaitu:

Pertama. Manusia memiliki naluri ingin tahu. Dengan menggunakan panca indera, akal dan jiwanya, sedikit demi sedikit pengetahuannya bertambah. Namun demikian, keterbatasan panca indera dan akal menjadikan sekian banyak tanda tanya.yang muncul dalam benaknya tidak terjawab. Hal ini dapat mengganggu perasaan dan jiwanya, dan semakin mendesak pertanyaan tersebut semakin gelisah bila tidak terjawab. Hal ini antara lain karena manusia memiliki.naluri ingin tahu. Kalau demikian manusia membutuhkan informasi tentang apa yang tidak diketahuinya itu, khususnya dalam hal-hal yang sangat mengganggu ketenangan jiwanya atau syarat bagi kebahagiannya. Di sinilah informasi Tuhan itu datang (Agama itu dibutuhkan).

Kedua. Kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendirian. Banyak kebutuhan yang tidak dapat dipenuhinya sendiri, karena berbagai keterbatasan waktu, pengetahuan dan kemampuan yang lainnya. Hidup manusia bagaikan lalu lintas, masing-masing ingin berjalan dengan selamat sekaligus cepat sampai tujuan. Namun, karena kepentingan mereka berbeda-beda, maka apabila tidak ada peraturan lalu lintas kehidupan, pasti akan terjadi benturan dan tabrakan. Dengan demikian manusia membutuhkan peraturan demi lancarnya lalu lintas kehidupan. Di sinilah Agama sangat diperlukan.

Siapakah yang mengatur lalu lintas kehidupan itu? manusiakah? Layakkah mereka mengatur hidupnya sendiri?

Paling tidak dalam persoalan pengaturan di atas, manusia mempunyai dua kelemahan, yaitu:

Pertama, keterbatasan pengetahuan, dan

Kedua, sifat egoisme, ingin mendahulukan kepentingan diri sendiri.

Apa akibatnya bila manusia, yang mempunyai dua kelemahan itu, mengatur lalu lintas kehidupan ? Banyak muncul ketidakharmonisan dalam kehidupan. Dengan demikian yang berhak mengatur lalu lintas kehidupan adalah:

  • Yang paling mengetahui kehidupan, dan sekaligus
  • Yang tidak mempunyai kepentingan sedikitpun.

Dialah Allah swt yang menetapkan peraturan, baik secara umum, berupa niali nilai, maupun secara rinci. Peraturan itulah yang kemudian dinamai agama.

2. A. Azhar Basyir. Dua alasan mengapa manusia membutuhkan agama:

Pertama, karena manusia ingin bertahan diri untuk.tetap menjadi makhluk Tuhan yang mulia. Untuk itu manusia harus beriman dan beramal shaleh, yang merupakan bagian utama bagi agama Islam. Dasar jawaban ini adalah mengacu pada QS, At-Tin, (95): 4-6 “Sesungguhnya telah Kami jadikan manusia itu dalam bentuk/konstrksi yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia menjadi serendah-rendah makhluk yang rendah. Kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh, mereka mendapat pahala yang tidak berkesudahan”.

Kedua, untuk membimbing akal agar mampu berpihak pada panggilan hati nurani. Di dalam diri manusia terdapat kekuatan yang senantiasa mengajak hidup baik, yaitu yang sering dinamakan “hati nurani”. Tetapi di samping itu terdapat juga kekuatan yang menarik-narik ke arah keburukan, kekuatan ini dinamakan “hawa nafsu”.Akal berfungsi pula antara hal-hal yang merupakan panggilan hati nurani dan yang merupakan bisikan hawa nafsu. Akal seharusnya senantiasa berpihak kepada panggilan hati nurani. Tetapi tidak selalu demikian halnya. Amat sering terjadi bahwa dalam menghadapi desakan-desakan hawa nafsu itu, akal tidak berdaya. Hawa nafsu juga yang menang. Hati nurani terdesak. Bahkan pertimbangan akal sering tertarik untuk membenarkan ajakan-ajakan hawa nafsu.

Di sinilah diperlukan adanya hal yang dapat mengatasi itu semua. Hal itu harus datang dari luar manusia, dan berupa ketentuan-ketentuan.yang pasti untuk menjadi pedoman hidup manusia. Tidak lain hal itu adalah agama yang datangnya dari Tuhan, bukan buatan manusia sendiri.

C. Informasi Kebenaran Diterima Manusia

Dalam rangka mendapatkan pengetahuan, manusia adakalanya berusaha dengan menggunakan potensi yang dianugerahkan Allah swt kepadanya. Tetapi ada pula manusia yang memperoleh informasi tanpa ada upaya darinya. Memperhatikan hal di atas, ilmuwan mengakui bhwa ada dua faktor setiap aksi pengetahuan, yaitu subyek dan obyek. Sehubungan proses pemahaman ada dua kemungkina.proses:

  • Subyek berusaha mengetahui obyek dengan potensi.(alat-alat) yang dimilikinya,
  • Obyek yang memperlihatkan dirinya sendiri kepada subyek

Jalur pertama adalah jalur ilmu pengetahuan dan filsafat; sedangkan jalur kedua adalah jalur agama yang dikenal dengan wahyu. Wahyu diterima.oleh manusia tertentu (Nabi), sedangkan manusia lain menerima dan membenarkannya dari Nabi, begitu manusia selanjutnya..

Memang ada saja manusia.yang meragukan kebenaran informasi itu. Jika itu terjadi, Allah memberikan bukti kebenaran. Mereka ditantang untuk membuat atau melakukan semacam apa yang dilakukan oleh para nabi. Bukti tersebut dalam bahasa agama.dinamai mu’jizat.

D. Agama yang Benar Menurut Ketentuan.Allah

Ada beberapa ketentuan Allah dalam memilih agama:

  • Agama yang datang dari Allah dan dibawa oleh para Rasul Nya.
  • Agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah agama penutup yang telah disempurnakan (QS, Al-Maidah, 5: 3).
  • Beragama adalah suatu anugerah dari Allah. “Barang siapa dikehendaki Allah untuk diberi petunjuk, dilapangkan dadanya utnuk menerima Agama Islam (QS, Al-An’am, 6: 125).
  • Orang yang menganut agama selain Islam, sama sekali tidak akan diterima Allah (QS, Ali Imran, 3: 83).
  • Agama yang diajarkan Allah kepada umat manusia hanya Islam (QS, Ali Imran, 3: 19).

Agama yang mengajarkan tauhid dan melarang.berbuat syirik. Inilah inti ajaran Islam yang membedakan dengan agama.lainnya yang tidak berasal dari Allah (QS, Al-Ambiya’, 21: 25 dan QS, Ali Imran, 2: 64).

Islam yang dibawa Nabu Muhammad (571 M) adalah mata rantai terakhir dari agama Allah yang diturunkan melalui para Rasul terdahulu. Inilah yang ditegaskan oleh QS, Asy-Syura, 42: 13. Sasaran agama Islam yang dibawa oleh Muhammad adalah ummat manusia seluruh alam (universal), QS Saba: 28, Al-Ambiya’: 107, Al’A’raf: 158. Sedangkan sasaran agama para Rasul sebelumnya adalah ummat atau kaum tertentu saja (lokal), QS, Ar-Rum: 47; Hud: 25, 50, 61, 84, 79; Ali Imran: 47, 47-49.

Seluruh Rasul Allah diutus untuk membawa ajaran yang sama yaitu Islam. Hal ini tersebut dalam al-Qur’an.antara lain:

  • Ibrahim (1800 SM), Ismail dan Ya’qub diutus dengan membawa Islam (Al-Baqarah, 2: 130).
  • Musa (1300 SM) diutus kepada Bani Israil dengan membawa Islam (QS, Al-A’raf: 125-126).
  • Isa diutus (juga) kepada Bani Israil dengan membawa Islam (QS, Ali Imran: 52).

Semua syariat samawi diturunkan Allah di kawasan Timur Tengah. Hal ini karena ada tiga alasan: (1) Letak geografis strategis (untuk bisnis), (2) Tabiat masyarakatnya seperti bahan baku yang mudah diolah dan (3) Perlu petunjuk Tuhan..Ajaran Islam diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari dan dibagi kepada dua periode Mekah (13 tahun) dan Madinah (10 tahun).

E. Islam Menghadapi Kaum Agama Lain

Beberapa hal perlu dipahami terutama ketika kita berhadapan dengan ummat yang berbeda agama:

  • Islam adalah agama rahmat bagi penghuni alam seluruhnya. QS,.Al-Ambiya’, 21: 107. Muhammad diutus sebagai rahmat. Oleh karena itu, maka Islam mewajibkan penganutnya hidup damai dan berbuat baik kepada para penganut agama-agama lain, bahkan juga kepada mereka yang tidak menganut agama apapun diberi beri.kesmpatan mereka menjalankan agamnya dengan aman selagi mereka tidak memusuhi Islam, umatnya dan.ajarannya (QS, Ak-Mumtahanah, 60: 8-9).
  • Islam mewajibkan umatnya untuk mendakwahkan (memperkenalkan) Islam kepada siapa saja dengan cara yang baik, sehingga mereka bisa paham apa yang dibawa Islam (QS, Ali Imran, 3: 104; An-Nahl, 16: 125; 34: 28).
  • Al-Qur’an melarang pemaksaan kepada siapapun untuk memeluk agama (QS, Al-Baqarh, 2: 256).
  • Manusia diberi kebebasan sepenuhnya untuk menentukan sendiri pilihan, apakah menerima kebenaran Islam atau menolaknya. QS, Al-Kahfi, 18: 29)
  • Adapun kemudian ada yang mendlolimi (merusak dan memerangi) Islam dan ummatnya, Islam memperbolehkan membalasnya dengan tidak berlebihan (QS, An-Nahl, 16: 125;Al-Baqarah, 2: 190; Al-Haj, 22: 39-40)
  • Semua agama samai benar dan mengajarkan sesuatu yang baik, tetapi Islam tidak membenarkan. Bahwa semua agama sama,.karena.masing-masing agama iu benar dan baik pada.masanya, tidak dalam waktu yang bersamaan (QS, Yunus, 10: 47).

F. Sikap Manusia Menghadapi Banyak Agama

Manusia sebagai makhluk sosial, ia tidak bisa menghindari untuk tidak berhubungan dengan orang lain. Ketika seseorang berhubungan, pengalaman dalam mengamalkan agama akan mempengaruhi dalam pergaulannya, termasuk sikapnya dalam menghadapi orang yang berbeda agama. Dalam hal ini manusia bisa terbagi menjadi tiga golongan:

  • Golongan orang yang apriori. Mereka beranggapan bahwa hanya agamnyalah yang benar; yang lain salah.
  • Golongan orang yang bersikap acuh tak acuh. Mereka.amat ringan memandang agama (termasuk agamnya sendiri). Semua agama sama saja.
  • Golongan orang yang mau membanding-bandingkan ajaran agama yang ada. Mereka berusaha memilih mana yang sesuai utnuk pedoman hidupnya. Golongan ini biasanya beragama dengan kesadaran.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020