22 C
Yogyakarta
28 Juli 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Kepemimpinan Keluarga: Berpikir Dengan Hati Menuai Hikmah Atas Musibah Covid-19

Oleh: Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono, SE, M.M

Musibah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia bahkan dunia merupakan pengalaman pertama manusia generasi saat ini. Beragam respon dapat kita lihat dan dengarkan di berbagai media sosial khususnya media sosial online. Ada tanggapan yang bersifat keluhan, kesedihan, kegelisahan dan ketakutan bahkan marah ibarat menggerutu dan memaki dalam kegelapan. Namun banyak pula yang bersifat menghibur, mencari hikmah dan tetap sabar serta bersyukur.

Hikmah dalam merespon suatu peristiwa merupakan level tertinggi pengetahuan manusia menggunakan kesadarannya untuk membuat respon terbaik dengan mendudukkan hakikat kehidupan mereka. Cara berpikir untuk memperoleh hikmah tidak hanya dengan brain, akan tetapi juga dengan hati. Hati mempunyai peran solutif yang hakiki karena berhubungan erat dengan nilai-nilai ilahiyah. Berpikir dengan hati mengajak kita mencari solusi yang lebih transendental.

Terasa begitu lelah mendiskusikan semata-mata produk pikiran yang berasal dari brain. Produk pikiran dengan brain bersifat tentatif dan relatif. Hasilnya juga demikian, sebagai contoh produk pikiran tersebut penuh ketidakjelasan seperti saat menentukan kapan pandemi ini berawal pertama kali di Indonesia, saat menentukan kapan pandemi ini berakhir di Indonesia, bahkan menentukan jam ataupun waktu terbaik untuk berjemurpun menjadi tidak mudah dengan adanya sejumlah pendapat ahli yang berbeda-beda.

Oleh karena itu harmoni berpikir dengan brain dan hati menjadi alternatif pendidikan keluarga dan bangsa di masa depan.

Spiritualitas, kepemimpinan dan manajemen keluarga

Hari ini kita melihat terjadi pengkondisian pada manusia untuk kembali berada di rumah. Rumah berpotensi memiliki kembali peran sentral dalam pendidikan manusia. Hubungan ayah bunda dan anak-anak untuk bertatap muka menjadi semakin intensif. Ini adalah waktu yang tepat untuk menggali nilai-nilai spiritualitas di dalam keluarga yang menjadi kunci bagi pendidikan anak. Pada saat ini penting bagi kita untuk menata kembali hubungan terbaik dengan pasangan, hubungan terbaik dengan anak dan hubungan terbaik dengan orang tua dan sesama saudara. Sebuah pertemuan yang mahal untuk dapat sering bertemu sesama anggota keluarga. Dengan demikian spriritualitas keluarga harus melampaui hubungan virtual yang sering terjadi berkaitan dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini.

Ini adalah waktu yang tepat untuk menggali nilai-nilai spiritualitas di dalam keluarga yang menjadi kunci bagi pendidikan anak.

Dalam konteks ini kepemimpinan dan manajemen keluarga memiliki peran penting. Kepemimpinan orang tua berperan dalam memberi makna atas peran kemanusiaan setiap pribadi. Kedua orang tuanya berperan menjadikan anak-anak memiliki cara pandang tertentu dalam melihat kehidupan. Peran kepemimpinan orang tua adalah menyampaikan pesan yang mempengaruhi anak-anak dan memberi makna tertentu atas apa yang mereka lakukan. Hal ini bermakna penting dalam menata ulang sikap, pikiran, tindakan, kebiasaan dan karakter anak. Pesan-pesan yang rasional dan disampaikan dengan hati memiliki efek luar biasa dalam pembentukan sikap dan perilaku anak manusia.

Dari sisi manajemen keluarga penting sebuah perencanaan pendidikan yang melibatkan kolaborasi cantik ayah dan bunda. Mereka adalah gambaran manajemen keluarga yang solid. Mereka harus saling mendukung baik dari sisi afektif, kognitif dan perilaku. Solidnya manajemen keluarga semakin meningkatkan respek anak-anak terhadap keputusan-keputusan keluarga yang melibatkan ayah dan bunda.

Solusi praktikal

Kepemimpinan dan manajemen keluarga dalam hal ini peran orang tua sudah seharusnya menguatkan nilai-nilai spiritualitas dalam menghadapi musibah untuk menghindari kekhawatiran dan kepanikan yang berlebihan karena sesuangguhnya sang pencipta memiliki takaran-takaran yang sudah diperhitungkan. Aktivitas mendekatkan diri pada Allah SWT menjadi prioritas mendesak dalam situasi ini.

Peran orang tua adalah menata kembali pola komunikasi yang selama ini kurang dalam melibatkan hati untuk menjadi landasan hubungan di antara anggota keluarga. Pesan-pesan kepemimpinan dan manajemen keluarga harus diikuti sikap dan perilaku pemegang otoritas dalam hal ini orang tua sehingga sikap dan perilaku mereka menjadi nasihat terbaik bagi anak-anak.

Pada setiap aktifitas keluarga di rumah penting bagi orang tua menjadikan percakapan yang bersifat reflektif dalam setiap pertemuan hangat seperti saat makan dan bercengkerama sehingga menghadirkan energi positif dan optimisme dalam mensikap musibah yang dialami umat manusia saat ini. Kepemimpinan dan manajemen keluarga bersama generasi muda bangsa di dalam keluarga bersama sama menjadikan aktifitas berpikir melibatkan hati.

Penulis: Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen mengajar di UMY, UII dan UGM/Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan


Peran orang tua adalah menata kembali pola komunikasi yang selama ini kurang dalam melibatkan hati untuk menjadi landasan hubungan di antara anggota keluarga.


Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA