Ditulis oleh 11:47 am KALAM

Kepemimpinan Rasuli

Apa itu kepemimpinan rasuli? Bagaimana kita dapat menerapkan kepemimpinan rasuli?

Terdapat dua pola dalam menuju kepemimpinan rasuli, yaitu: Pertama, pola yang merujuk kepada sifat-sifat khas seorang rasul. Sebagai manusia pilihan (al-mushthafa), rasul memiliki beberapa sifat utama, yang mana sifat-sifat utama itu disederhanakan dalam empat bentuk; yaitu :

  1. Jujur (shidiq), satu kepemimpinan rasuli yang jujur dan benar serta terhindar dari kedustaan dan kebohongan. Segala apa yang diucapkan patut didengar dibenarkan, dan satunya antara perkataan dan perbuatan. Indikator kepemimpinan yang bersifat shidiq adalah memiliki integritas kepribadian, niat yang tulus karena Allah SWT, bisa berfikir alternatif, berbicara dengan benar, memiliki sikap yang terpuji, dan memiliki perilaku teladan. 
  2. Terpercaya (amanah), satu kepemimpinan rasuli yang terpercaya dalam mengemban amanat atau kepercayaan orang lain. Ia tidak khianat atau mengingkari janjinya, sebab jika berperilaku yang seperti itu termasuk pemimpin yang munafik. Kepemimpinan yang amanah adalah kepemimpinan yang bertanggung jawab dengan indikator :  terpercaya, cepat tanggap, akurat, dan  disiplin.
  3. Menyampaikan perintah (tabligh), satu kepemimpinan rasuli yang menyampaikan dan menyebar luaskan informasi atau suatu perintah yang baik, tanpa ada upaya untuk menyembunyikan untuk dirinya sendiri. Kepemimpinan tabligh adalah kepemimpinan yang berlandaskan kasih saying, dengan indikator : komunikatif,  transparan, membimbing, visioner, dan  memberdayakan. 
  4. Cerdas (fathonah), satu kepemimpinan rasuli yang cerdas dalam mengemban amanat, baik secara intelektual, emosional, moral, bahkan spiritual. Pemimpin haruslah seorang yang cerdas. Ketololan dan kedunguan seorang pemimpin merupakan awal dari kesalah pahaman yang dipimpinnya, yang pada akhirnya mendatangkan perpecahan dan kehancuran. Kepemimpinan fathonah adalah kepemimpinan yang profesional dengan indikator : semangat perbaikan berkelanjutan (learning organization), cerdas, inovatif, terampil, dan adil. 

Kedua, pola kepemimpinan yang merujuk kepada kelebihan-kelebihan atau mukjizat para rasul. Jumlah rasul banyak sekali, tetapi yang wajib diketahui hanya 25 orang saja, mulai dari Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad saw. Bentuk-bentuk kepemimpinan rasuli berdasarkan mukjizat para Nabi dan Rasul adalah :

  1. Kepemimpinan Adami, yakni satu kepemimpinan yang memiliki keluasan ilmu pengetahuan. Jika bersalah karena mengikuti perilaku setan dalam memimpin, maka cepat-cepatlah bertobat, dan bersegera kembali ke jalan Allah swt.
  2. Kepemimpnan Idrisi, yakni satu kepribadian rasuli yang memiliki kemampuan melihat alam ghaib, berhitung secara tepat dan tepat, menguasai astronomi dan strategi berperang.
  3. Kepemimpinan Nuhi, suatu kepemimpinan rasuli yang mampu mengentaskan masyarakat dari banjir kemaksiatan melalui perahu keimanan; tidak membela dengan membabi buta kepada keluarga yang salah, dan menjadi pemula dalam pengembangan teknologi khususnya dalam pembuatan kapal.
  4. Kepemimpinan Hudi, yakni suatu kepemimpinan rasuli yang mampu memberantas para penyamun, perampok, pencuri, dan koruptor; melarang penyiksaan terhadap tawanan perang, karena bagaimanapun mereka adalah manusia makhluk Allah swt juga dengan seperangkat hak-hak yang melekat pada diri mereka.
  5. Kepemimpinan Shalihi, yakni suatu kepemimpinan yang salih, cerdas, serta dengan tubuh yang kuat; mampu memfungsikan batu seperti fungsi hewan unta; mendaya gunakan teknologi listrik (petir) untuk menghancurkan orang-orang yang durhaka tehadap Allah swt.
  6. Kepemimpinan Ibrahimi, satu kepemimpinan rasuli yang memiliki kepemimpinan ilahiah yang tangguh meskipun hidup dalam keluarga dan lingkungan yang korup; mampu bertahan hidup meskipun dibuang ke hutan belantara; perintis metode induktif dalam mencari kebenaran, sebagaimana ketika beliau mencari Tuhan; memiliki kemampuan diplomatik yang hebat ketika menghadapi penguasa yang zalim (Namrud). Menghancurkan sistem pemberhalaan kehidupan dalam segala hal; melerai panasnya amarah; mau menyembelih jiwa kebinatangan anaknya; dan menjadi bapak agama (millah Ibrahim) yang hanief bagi seluruh umat manusia, sehingga dibangunkan tempat kiblat orang yang beribadah yang disebut dengan Ka’bah atau Baitullah. Ibrahim adalah contoh seorang rasul yang senantiasa rindu kepada segala kesempurnaan.
  7. Kepemimpinan Luthi, yakni kepemimpinan rasuli yang mampu mencegah perilaku seks yang menyimpang, seperti homoseksual dan lesbian, karena hal ini telah merusak fitrah dan kepribadian manusia; tidak membela istri yang salah secara membabi buta.
  8. Kepemmpinan Ismaili, yakni suatu kepemimpinan rasuli yang mampu bertahan hidup pada situasi dan kondisi yang serba sulit, gersang dan tanpa tergantung pada orang lain, meskipun itu adalah orangtua sendiri; kepemimpinan yang siap ”dikorbankan” dalam rangka mencapai keridhaan Ilahi. Dengan injakan kakinya, maka muncullah air zam-zam, sehingga menjadi bapak pemula bagi penggalian tambang air dan mineral, minyak, emas, dan sebagainya.
  9. Kepemimpinan Ishaqi, yakni satu kepemimpinan rasuli yang saleh dan tertawa gembira tatkala mendapatkan anugerah dari Allah swt (Ishaq berarti tertawa gembira); memliki keturunan yang baik semisal Nabi Ya’kub as.
  10. Kepemimpinan Ya’qubi, yakni kepemimpinan rasuli yang berani perang melawan raja yang sombong, meskipun tanpa pasukan yang banyak; senantiasa menasihati keluarganya agar selalu menyembah kepada Allah swt.
  11. Kepemimpinan Yusufi, yakni suatu kepemimpinan rasuli yang tetap eksis meskipun dikucilkan atau dibuang oleh orang yang lain; kuat menghadapi fitnah cinta, yang dengan ketampanannya (berwajah flamboyant) tidak untuk berbuat mesum, meskipun dengan para selebritis; mampu memprediski masa depan melalui interpretasi mimpi; dan tidak membalas pada siapapun yang pernah menyakitinya.
  12. Kepemimpinan Ayyubi, satu kepemimpinan yang tabah, sabar, dan tawakkal terhadap musibah yang diberikan oleh Allah swt; berusaha mencari hikmah yang terkandung dalam musibah, baik berupa penyakit, kemiskinan, maupun penghinaan dari orang lain.
  13. Kepemimpinan Dzu al-Kiffli, suatu kepemimpinan rasuli yang karena tekun berpuasa, qiyaamul lail (beribadah di malam hari), dan tidak suka marah dapat melahirkan dirinya sebagai raja dengan penuh kemuliaan.
  14. Kepemimpinan Syu’aibi, yakni suatu kepemimpinan rasuli yang berani memberantas penganiayaan, dan penipuan dalam timbangan ataupun takaran.
  15. Kepemimpinan Haruni, yakni kepemimpinan rasuli yang mampu membantu sesama saudara dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.
  16. Kepemimpinan Musawi, yakni kepemimpinan rasuli yang berani menentang penguasa yang zalim; tetap eksis walaupun dibuang oleh musuhnya; bapak kedokteran yang karena ilmunya dapat menghidupkan (menyembuhkan) orang yang mati (sakit); memerangi Qarun yang tamak; memberantas penyembahan terhadap hal-hal yang ganjil seperti patung sapi; berguru kepada orang yang mengetahui masa depan semisal Nabi Khidhir; bapak pemula dalam pengembangan teknologi jembatan, melalui tongkat (beton) yang kokoh.
  17. Kepemimpinan Dawudi, yakni suatu kepemimpinan rasuli yang memiliki suara yang merdu, yang dengan kemerduannya itu untuk membaca Kitab Suci; mampu mengembangkan teknologi pemanfaatan besi, sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan tank dan baju besi.
  18. Kepemimpinan Sulaimani, yakni kepemimpinan rasuli yang kaya dan berkuasa, di mana dengan kekayaan dan kekuasaannya itu tidak untuk menindas atau menjajah yang lemah, melainkan untuk mengayomi dan memberikan kesejahteraan pada orang lain, baik lahir maupun batin; mampu menjadi hakim yang adil dan tidak merugikan salah satu pihak; tidak tunduk pada bujukan atau tipu daya jin melainkan mampu menguasainya, sebab kodrat manusia merupakan makhluk Allah yang paling mulia; mendayagunakan alam semesta untuk kesejahteraan, seperti angin untuk kendaraan dan binatang; mampu berkomunikasi dengan berbagai bahasa, termasuk bahasa hewan; memanfaatkan sumber daya laut yang isinya mutiara dan permata mutu manikam; mampu memindahkan atau mengubah singgasana dari yang buruk menjadi baik.
  19. Kepemimpinan Ilyasi, yakni suatu kepemimpinan rasuli yang mampu menebar rizki, sehingga lingkungan sekitarnya tidak menjadi kelaparan.
  20. Kepemimpinan Ilyasa’i, yakni kepemimpinan rasuli yang menebar kemakmuran atas dasar keimanan kepada Allah swt.
  21. Kepemmpinan Yunusi, yakni pola kepemiminan rasuli yang jujur, meskipun hal itu berakibat buruk bagi dirinya, sebab dengan kejujuran individu menjadi selamat, meskipun dibuang ke tengah laut yang kemudian ditolong ikan hiu.
  22. Kepemimpinan Zakariawi, yakni kepemimpina rasuli yang senantiasa memohon kepada Allah swt, meskipun secara rasional tidak ada pengaruh apa-apa, seperti maalah memohon anak pada usia tua, sedangkan istrinya sendiri sudah terkenal mandul; memiliki santri atau anak didik wanita yang shalihah bernama Maryam, yang karena pendidikannya Maryam memiliki keistimewaan khusus dari-Nya seperti memperoleh makanan secara langsung dari Tuhan melalui Malaikat Jibril dan mempunyai anak tanpa bapak.
  23. Kepemimpinan Yahyawi, yakni kepemimpinan rasuli yang berani menyatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim, meskipun dengan taruhan dipotong lehernya.
  24. Kepemimpinan Isawi, yakni kepemimpinan rasuli yang kehidupannya bersejarah, sehingga tercipta Tahun Masehi (Tahun Miladiah); mampu mengobati yang sakit, seperti buta, kusta, bahkan menghidupkan (memotivasi) orang yang mati (pesimis); bapak pemula dalam ilmu kedokteran.
  25. Kepemimpinan Muhammadi, yakni kepemimpinan rasuli yang kehadirannya membawa berkah dan kesejahteraan keluarga serta umat manusia baik secara jasmani maupun rohani; kehidupannya sederhana, jujur dalam berdagang dan dapat dipercaya; perilakunya qur’ani; hatinya bersih karena sering dioperasi oleh malaikat; tabah dalam menghadapi berbagai ejekan, cemooh, dan siksaan, tidak memiliki dendam kesumat pada orang yang menyakiti, seperti kaum Thaif; mampu mengendalikan diri dalam berperang, seperti tidak membunuh orangtua, wanita, dan anak-anak, dan yang telah menyerah. 

Mampu memperbanyak makanan atau minuman; melalui ujung jarinya, keluar mata air kasih sayang; bapak pemula dari penjelajahan ruang angkasa dalam peristiwa Isra’ Mi’raj; menjangkau masa lalu dan masa depan; melakukan imigrasi untuk menyebarkan agama; jiwa raganya bersih, sehingga lalat pun tidak pernah hinggap di tubuhnya; tidak pernah memiliki imajinasi yang buruk, sehingga tidak pernah mimpi mengeluarkan mani (ikhtilam); biarpun matanya terpejam, tetapi hatinya tetap terjaga untuk berdzikir kepada Allah swt. 

(Visited 47 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 17 Mei 2020
Close