Ditulis oleh 4:49 pm COVID-19

Kerjasama Bangsa-Bangsa

Secara global, angka yang ditampilkan menunjukkan kurva menanjak dan jumlah korban terus meningkat.

Angka korban wabah di tingkat dunia, bergerak sangat cepat. Yang terkonfirmasi positif, telah melewati angka 1,6 juta orang. Mengapa demikian besar? Apakah tidak ada upaya bersama untuk mengatasi masalah ini?

Apa yang nampak adalah langkah masing-masing negara menghadapi serangan wabah yang membuat keadaan darurat kesehatan. Ada negara yang kini mungkin telah mulai dapat mengatasi, terutama jika dilihat dari kurva jumlah korban. Dimana kurva telah menunjukkan telah dilewati masa puncak dan kini tengah bergerak menurun.

Sementara itu ada negara yang masih terus berjuang. Angka yang ditampilkan menunjukkan kurva menanjak dan jumlah korban terus meningkat. Cara penyajian data dimana grafik merupakan korban fungsi waktu, sebenarnya tidak mempunyai informasi apa-apa, kecuali angka-angka. Oleh sebab itu, kadang justru dijadikan sasaran perbandingan. Padahal perbandingan juga bukan merupakan metode yang benar.

Hal yang mungkin dapat dikategorikan sebagai langkah global adalah upaya segera menemukan vaksin untuk mengatasi wabah. WHO mengabarkan tengah melakukan uji coba. Demikian pula beberapa negara, mengungkapkan rencana yang tengah dilakukan dan target yang dicanangkan untuk agar segera menemukan dan kemudian memproduksi vaksin dimaksud.

Namun upaya tersebut membutuhkan waktu. Sementara, gerak waktu berbanding lurus dengan gerak penyebaran. Seiring dengan gerak waktu, jumlah korban bertambah. Mungkin itulah pesan tersembunyi dari grafik yang ditampilkan, yakni agar segera ada langkah kongkrit, baik dalam hal mengatasi penyakit maupun dalam hal mengendalikan penyebaran wabah.

Tidak nampaknya upaya antara bangsa-bangsa, tentu merupakan hal yang memprihatinkan. Keadaan ini dapat dibaca dari dua jurusan. Pada satu sisi memperlihatkan makin menonjolnya politik kepentingan nasional, sehingga langkah global tidak mendapatkan tempat. Dan sisi yang lain, memperlihatkan tidak hadirnya kepemimpinan global.

Kekosongan ini tentu perlu menjadi perhatian bersama. Barangkali inilah momen penting bagi masyarakat sipil untuk menggalang kerjasama internasional, suatu kerjasama antar warga. Kerjasama yang dapat dilakukan, bukan hanya dalam bentuk penggalangan sumber daya, terutama ketika keadaan makin buruk, namun juga dapat berbentuk pertukaran pengalaman.

Pertukaran pengalaman sebenarnya dapat dimulai dari tingkat lokal, yakni saling berbagi pengalaman antar komunitas, yang kemudian ditingkatkan menjadi semacam pertukaran pengalaman antar daerah dan pada akhirnya pertukaran pengalaman antar bangsa. Hal ini sangat penting, karena model tersebut akan meningkatkan kualitas komunikasi antar bangsa, juga merupakan sarana untuk meningkatkan solidaritas antar bangsa. Bagi Indonesia hal ini sejalan dengan amanat konstitusi, sebagaimana termuat dalam Pembukaan UUD 1945.

(t.red)

(Visited 37 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 10 April 2020
Close