Ditulis oleh 9:39 am COVID-19

Kesadaran Bersama

Kesadaran bersama, bukan saja berbentuk langkah masing-masing individu, tetapi berdampak. Maksudnya, setiap individu, menjadikan dirinya agen bagi gerakan membangun kesadaran bersama.

Oleh: Syamsudin, S.Pd., MA*

Setiap hari, atau bahkan setiap detik berita tentang wabah muncul, melalui banyak media. Baik media mainstream, media sosial atau bahkan media tradisional. Berita tersebut, mulai dari hal yang sangat sederhana, mengenai keharusan mencuci tangan dengan sabun, sampai dengan sas sus yang tidak punya arah, atau tidak jelas juntrungannya. Ada pula jenis berita yang bersifat puja puji, ada pula yang berupa kritik. Semua bercampur baur, laksana adonan bumbu gado-gado.

Bagaimana menggunakan seluruh berita tersebut, agar daripada muncul sesuatu yang berarti bagi upaya bersama dalam mengatasi wabah? Pertanyaan ini terdengar aneh di tengah perlombaan mengisi ruang informasi dengan berita apapun. Mungkin banyak orang berpikir, bahwa tidak penting memikirkan arah dari banjir berita tersebut, yang terpenting adalah bagaimana ikut menjadi penyumbang banjir tersebut. Oleh sebab itulah, partisipan bertambah besar, sementara arah tidak pernah terpikir, atau malah menjadi barang terlarang.

Dengan mengingat makin besarnya jumlah korban dan makin luasnya penyebaran wabah, rasanya baik jika ada kesediaan untuk memeriksa kembali dengan sungguh-sungguh, apakah sebaran berita/informasi yang sekarang ini berkembang merupakan bagian dari langkah menghambat laju penyebaran wabah, ataukah tidak. Atau malah sebaliknya, yakni pola produksi dan penyebaran berita/informasi tersebut justru menjadi bagian yang mempercepat penyebaran wabah. Bagaimana cara memeriksanya?

Untuk memeriksa, dibutuhkan kejelasan tentang arah yang harus dituju, agar penyebaran virus dapat dihentikan, yakni adanya kesadaran bersama menyangkut: (1) secara disiplin menjaga jarak fisik dan sejauh mungkin tetap dirumah (bekerja, belajar dan aktivitas lain); (2) secara disiplin menjaga kebersihan diri dan lingkungan, termasuk mencuci tangan dengan sabun; (3) menjaga kesehatan dengan perilaku hidup sehat dan selalu optimis, agar imunitas terjaga.

Kesadaran bersama, bukan saja berbentuk langkah masing-masing individu, tetapi berdampak. Maksudnya, setiap individu, menjadikan dirinya agen bagi gerakan membangun kesadaran bersama. Artinya, setiap individu menjadikan dirinya bukan sebagai pembawa wabah, tetapi pembawa pesan baik. Pesan yang membuat tumbuh kesadaran bersama tentang pentingnya kebersamaan dalam mengatasi wabah. Hanya dengan kebersamaan seluruh warga, masalah dapat diatasi.

Mengapa harus ada kebersamaan yang dilandasi oleh kesadaran bersama? Karena masalah yang sedang dan atau akan dihadapi, merupakan masalah yang kompleks, karena tidak sekedar masalah medis, namun menyangkut masalah yang tidak kalah penting, yakni (1) memperkuat kekuatan armada kesehatan, yang hari-hari ini telah makin kewalahan; dan (2) membantu para pekerja harian dan mereka yang kekurangan akibat aktivitas ekonomi melambat. Intinya, perlu memperkuat kemampuan bersama dalam mengatasi wabah. Disiplin diri mengikuti protokol menghadapi wabah dan kemampuan yang meningkat tentu akan membantu program pemerintah dalam menanggulangi wabah.

Jika demikian itu arah utamanya, maka akan mudah memeriksa kualitas dari banjir informasi yang ada. Seluruh berita yang tidak cenderung meningkatkan kesadaran diri untuk secara disiplin mengikuti protokol yang ada, atau malah sebaliknya, yakni berita/informasi yang membuat warga abai dan menyepelekan wabah, sehingga ruang penyebaran terbuka, harus dihentikan. Berita jenis tersebut harus dihentikan dan digantikan dengan berita dengan arah memperkuat kesadaran bersama. Siapa yang dapat menghentikan berita/informasi jenis itu? Tidak lain adalah warga sendiri. Saling mengingatkan merupakan cara baik dan beradab. Sudah saatnya setiap warga menjadi agen pembawa pesan baik. Dengan itu, warga boleh optimis bahwa wabah pasti berlalu, setelah kesulitan pasti datang kemudahan.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga keselamatan seluruh warga dan bangsa.


Penulis: Direktur Pelaksana Yayasan Abdurrahman Baswedan/Dosen Administrasi Negara, Fisipol, UP45

(Visited 40 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 29 Maret 2020
Close