Kesenjangan Pendidikan Desa dan Kota

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Bayangkan jika akses pendidikan terbuka, maka ada kemungkinan desa akan penuh dengan para sarjana dan desa dibangun dengan keterpelajaran.

Pada abad XXI ini, apakah masih relevan untuk bicara tentang kesenjangan pendidikan desa dan kota? Sebagian dari kita mungkin keberatan dengan issue ini, sembari mengatakan bahwa usaha untuk pemerataan telah dilakukan. Sebagian yang lain tentu akan menyatakan bahwa masalah ini tetap relevan dan malah makin penting untuk dibicarakan, karena nyatanya demikian.

Jika memang tidak relevan kita tidak perlu membahasnya. Namun jika penting, maka pertanyaannya, darimana sebaiknya kita membahas masalah yang demikian penting tersebut?

**

Cara terbaik untuk memeriksa masalah kesenjangan adalah dengan menengok secara kongkrit, apa yang terjadi di desa atau apa yang ada di desa, persisnya kenyataan di desa hari-hari ini. Ulasan ini tidak akan menampilkan data statistik tentang tingkat pendidikannya orang desa dibandingkan dengan tingkat pendidikan mereka yang ada di kota.

Ulasan sederhana ini lebih mengajak kita untuk melakukan semacam refleksi dengan beberapa pertanyaan kecil, yakni apakah perguruan tinggi berpusat di desa? Mengapa anak-anak desa harus berjuang untuk mendapatkan pendidikan dan pergi ke kota-kota besar, hingga akhirnya tidak mengerti jalan untuk pulang membangun desa mereka?

Pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab secara terbuka dan cukup menjadi bahan renungan pribadi. Jangan-jangan kita bagian dari anak-anak desa, anak-anak dari daerah tertinggal yang berhasil keluar dari sana dan kemudian ada di kota-kota besar.

Jika benar demikian, tentu saja kenyataan tersebut merupakan hal baik, yakni bahwa anak-anak desa pada dasar adalah pribadi dengan kemampuan yang tidak perlu diragukan dan hanya karena akses yang tidak merata membuat mereka harus pergi dari desa.

Bayangkan jika akses pendidikan terbuka, maka ada kemungkinan desa akan penuh dengan para sarjana dan desa dibangun dengan keterpelajaran. Artinya desa dibangun dengan suatu kombinasi, pada satu sisi digerakkan oleh semangat nilai-nilai kebersamaan dan di sisi lain mengikuti tata cara keilmuan serta memanfaatkan teknologi secara tepat guna.

Oleh karena hal-hal tersebut masih belum berlangsung dan desa masih saja menjadi obyek dari kebijakan negara, yang masih terasa kurangnya kepercayaan pada kemampuan desa, maka dapat dikatakan bahwa kualitas pendidikan di desa atau tingkat keberpendidikan masyarakat desa masih rendah.

Kenyataan inilah yang seharusnya menantang kita semua untuk berpikir sekeras mungkin, yakni mengusahakan perubahan, yang dalam taraf yang paling elementer adalah mendorong pemerataan pendidikan, atau pembukaan akses pendidik bagi desa yang seluas-luasnya.

**

Pemerataan pendidikan atau perluasan akses pendidikan tidak perlu diartikan sebagai pembangunan infrastruktur fisik, berupa hadirnya bangunan sekolah-sekolah dari SD hingga Perguruan Tinggi di desa-desa. Pemerataan pendidikan harus diletakkan dalam ruang dimana teknologi telah berkembang demikian rupa.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi merupakan produk peradaban yang tidak perlu dihadapi dengan sikap terbelakang, melainkan perlu mendapatkan respon positif, kendati demikian sikap kritis tetap harus tegak. Artinya, kemajuan teknologi dapat menjadi pintu bagi akselerasi pemerataan pendidikan.

Ada tiga hal yang diusulkan, yakni: Pertama, penguatan infrastruktur teknologi, yang memungkinkan rakyat desa yang ada di pelosok, jauh dari kota, dan mereka yang ada di daerah terdepan, terisolasi dan tertinggal, mengakses informasi secara mudah, murah dan mutu.

Kedua, penguatan materi, subtansi atau bahan ajar. Jika bicara desa tidak perlu langsung dibatasi bahwa untuk desa hanya lah hal-hal yang bersifat praktis. Desa juga perlu wawasan dunia, perlu ilmu pengetahuan, dan pada tingkat praktis untuk mengurus produksi tentu dibutuhkan teknologi.

Ketiga, penguatan ekosistem pembelajaran. Desa harus menjadi semacam kelas bagi warga desa dan sekolah harus menjadi bagian dari hidup keseharian desa. Dalam hal ini penting untuk menengok pandangan Ki Hadjar Dewantara tentang tiga pusat pendidikan, yakni kelas, keluarga dan komunitas. Dengan penguatan pada tiga pusat pembelajaran tersebut, desa akan berubah menjadi tempat ideal bagi suatu proses belajar mengajar.

Ketiga hal tersebut merupakan cara untuk mengatasi kesenjangan pendidikan desa dan kota. Kita percaya bahwa upaya ke arah sana tidak mungkin jika hanya mengandalkan satu pihak. Kerjasama semua pihak sangat dibutuhkan. Akan sangat ideal jika komunitas desa, komunitas keilmuan (akademik), komunitas dunia usaha dan pemerintah bisa bekerja dalam kolaborasi yang didasarkan pada semangat mencerdaskan kehidupan bangsa.

Syamsudin, S Pd., MA

Syamsudin, S Pd., MA

Ketua Pusat Studi Pendidikan IKA UNY. Dosen UP45 Yogyakarta.