Ketakutan Akan Tertinggal Mempengaruh Semua Umur

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Bagi mereka yang ingin mengurangi FoMO, haruslah juga mencoba mengatasi persepsi diri negatif mereka, seperti melihat kekurangan yang dimiliki diri sebagai peluang untuk terus tumbuh.

Tertinggal akan informasi merupakan sesuatu yang dapat dianggap bencana untuk remaja kini, apa lagi mereka yang “kecanduan” dengan media sosial. Namun, ternyata bukan hanya remaja saja yang dapat merasakan Fear of Missing Out yang juga dikenal sebagai FoMO.

Sebuah studi terbaru oleh para peneliti Washington State University yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships mengatakan bahwa usia bukanlah hal yang menyebabkan FoMO ini. Namun aspek persepsi diri, seperti kesepian, rendah harga diri, dan belas kasihan diri yang rendah, lebih erat terkait dengan kecemasan sosial bahwa orang lain akan melakukan hal lain atau bersenang-senang tanpa diri kita .

Menurut Chris Barry, seorang profesor psikologi WSU dan penulis utama studi ini mengatakan bahwa FoMO bukanlah saja permasalah bagi remaja atau dewasa muda. FoMO dapat terjadi pada siapa saja dan masing-masing individu berbeda, terlepas dari usia. Barry beranggapan bahwa FoMO lebih tinggi pada kelompok usia yang lebih muda, terutama karena banyaknya perkembangan sosial yang terjadi pada saat itu. Namun demikian temuan dari studinya berkata lain.

Dalam studi ini Barry dan rekan penulisnya Megan Wong yang merupakan seorang mahasiswa sarjana WSU, melakukan survei pada lebih dari 400 orang di seluruh Amerika Serikat dari beragam kelompok usia mulai dari 14 hingga 47. Mereka memberikan beragam pertanyaan yang berkaitan dengan persepsi diri, kepuasan hidup dan penggunaan media sosial.

Para peneliti tersebut menemukan bahwa penggunaan media sosial bukanlah prediktor yang baik dari FoMO. Sebagai contoh, dua orang yang menghabiskan waktu di dalam media sosial yang sama mungkin terpengaruh secara berbeda. Salah satunya mungkin memiliki sedikit perasaan negatif pada saat melihat aktivitas yang dilakukan teman-temannya, sementara yang lainnya tidak merasa senang atau bahkan merasa kesal.

Barry berpendapat bahwa tidak semua orang rentan terhadap Fear of Missing Out atau Ketakutan akan Ketertinggalan. Bagi yang merasa takut, penggunaan media sosial dirasanya dapat memperburuk kondisi, oleh karena media sosial memungkinkan kita untuk menyaksikan apa yang dilakukan orang lain dan apa yang terjadi dalam hidup mereka. Jika sudah terdapat FoMO pada diri kita, maka melihat media sosial dinilai memperparah keadaan ini.

Bagi mereka yang mengalami kondisi kesusahan semacam ini, disarankan untuk mengurangi penggunaan media sosial atau bahkan menghentikannya secara keseluruhan untuk jangka waktu tertentu.

Studi ini menemukan suatu hal yang menarik. Bahwa meskipun FoMO dapat berdampak negatif, hal tersebut nampaknya tidak memiliki kaitan pada kepuasan hidup responden. Menurut Barry hal ini menunjukkan bahwa FoMO bukanlah kecemasan sosial yang berlebihan.

Para peneliti menyarankan bahwa bagi mereka yang ingin mengurangi FoMO, haruslah juga mencoba mengatasi persepsi diri negatif mereka, seperti melihat kekurangan yang dimiliki diri sebagai peluang untuk terus tumbuh, mengambil langkah untuk mengurangi kesendirian dan mengalihkan fokus yang lain daripada melihat pengalaman orang lain yang jauh dari diri kita.

Barry mengatakan bahwa untuk mengatasi FoMO, seorang individu dapat menumbuhkan rasa keterhubungan nyata yang lebih besar dengan orang lain yang akan mengurangi perasaan terisolasi. Juga akan lebih bagus untuk fokus pada apa yang ada saat ini dan berkonsentrasi pada apa yang ada di depan kita daripada berfokus pada hal lain yang sedang terjadi di luar jangkauan kita. (Disadur dari situs sciencedaily)

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora