24.1 C
Yogyakarta
16 September 2021
BENTARA HIKMAH
KABAR

Keteladanan Nabi Ibrahim Dalam Membangun Keluarga

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

Diantara karunia dan rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya yang beriman, Dia menjadikan waktu-waktu tertentu sebagai musim ibadah yang memiliki nilai dan pahala agung. Demikian itu agar mereka dapat menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah memiliki keistemewaan dan juga keutamaan dibanding dengan yang lainnya.Allah SWT berfirman :

Firman Allah Suhanahu wata’ala

 وَالْفَجْر  وَلَيَالٍ عَشْر 

“Demi fajar dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr :1-2)

Sebahagian besar ahli tafsir menafsirkan bahwa makna “Malam yang sepuluh”  adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan sumpah Allah  Subhanahu Wata’ala atas waktu tersebut menunjukkan keagungan dan keutamaannnya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:535 dan Zaadul Maad 1:56)

Nabi kita Muhammad SAW bersabada dalam sebuah hadits :

روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun“.

Diantara amalan-amalan yang dilakukan dalam hari-hari tersebut adalah meningkatkan amal shalih baik dari kwalitas maupun kwantitas, baik yang wajib maupun yang sunnah secara umum, sedangkan yang khusus adalah ;

  1. Haji
  2. Qurban
  3. Puasa hari arafah

Amalan amalan tersebut tidak terlepas dari sejarah nabi Ibrahim Alaihissalam yang seluruh episod kehidupannya hendaknya kita jadikan teladan bagi kehidupan kita.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Bagi kalian (wahai orang-orang yang beriman) ada teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya, manakala mereka berkata kepada kaum mereka yang kafir kepada Allah, “Sesungguhnya kami berlepasdiri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, berupa sekutu-sekutu dan tandingan-tandingan, kami kafir kepada kalian dan mengingkari kekafiran yang kalian pegang. Telah tampak di antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian selamanya selama kalian tetap di atas kekafiran sehingga kalian beriman kepada Allah semata.” Akan tetapi permohonan Ibrahim kepada Allah agar mengampuni bapaknya tidak termasuk ke dalam yang diteladani (darinya), karena hal itu Ibrahim lakukan sebelum dia tahu bahwa bapaknya adalah musuh Allah, Ibrahim berlepasdiri darinya. Wahai Tuhan kami, hanya kepadaMu kami bersandar, hanya kepadaMu kami kembali dengan bertaubat dan hanya kepadaMu tempat kembali pada Hari Kiamat. (QS Almumtahanah: 4)

Maka disini akan kita cuplik salah satu episod kehidupan nabi Ibrahim yaitu ketika baru saja dikaruniai anak yang lama didambakan, nabi Ibrahim pada waktu itu membawa Istri Hajar dan anaknya Ismail disuatu lembah yang tidak ada tanaman bahkan tidak ada orang dan tiba tiba nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk meninggalkan anak dan istri dengan kondisi seperti diatas.

Jika ketika meninggalkan keluarga tersebut kemudian meminta kepada Allah agar keluarganya diberi kecukupan hidup berupa sandang pangan maka permintaan itu manusiawi akan tetapi prioritas permintaan Nabi Ibrahim bukan itu sebagaimana yang dilukiskan dalam surat Ibrahim ayat 37 :
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Permitaan pertama adalah : agar mereka mendirikan shalat

Permintaan Kedua : maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka

Permitaan ketiga : berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ini yang juga perlu kita teladani dari nabi Ibrahim dalam merumuskan visi membangun keluarga.
Visi yang dicanangkan nabi Ibrahim dalam membangun keluarga prioritas utama adalah menjadikan keluarga menjadi keluarga bertauhid yang berimplikasi selalu menjalankan ibadah utamanya shalat.

Tersirat dari rangkaian ayat tersebut tidak ada manfaatnya suatu  keluarga yang terpenuhi kebutuhan hidupnya jika keluarga tidak dibangaun diatas iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Keluarga yang dibangun dengan kokoh keimanan dan ketaqwaan bahkan tidak hanya merasakan kebahagiaan di dunia tapi di akhiratpun akan bersama sama di Surga :

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” [Ath Thuur: 21]

Permitaan nabi Ibrahim yang kedua walaupun masih terkait dengan keluarga akan tetapi mempunyai dampak sosial yang luas yang bisa digunakan sebagai konsep membangun peradaban.

Ketika suatu negri banyak dikunjungi orang maka akan terjadi interaksi sosial yang akan mewujudkan pertukaran informasi ,mendorong adanya traksasi dan mengasilkan keuntungan berupa komisi.

Hal ini bisa dijadikan suatu konsep membangun peradaban jika  ingin suatu bangsa menjadi bangsa yang maju mesti harus menyediakan segala fasilitas agar banyak didatangi orang dari berbagai penjuru dengan berbagai potensi positif yang dimilikinya. 

Permintaan Nabi Ibrahim yang ketiga betapun waktu itu secara manusiawi adalah merupakan kebutuhan yang pokok tapi posisinya pada doa berada pada urutan yang terakhir itupun tidak hanya agar terpenuhi hajat hidupnya akan tetapi agar keluarganya  menjadi manusia yang syukur.

Banyaknya nikmat tanpa diikuti dengan bersyukur tidak akan membahagiaan bahkan sebaliknya akan menjadikan manusia semakin serakah di dunia dan nista di akhirat :

Allah berfirman dalam surat attaubah ayat 34:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗوَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,

(35). يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖهَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ
pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.

Dan ketiga doa nabi Ibrahim semua dikabulkan :

Keluarga dan keturunannya menjadi orang orang shalih bahkan keluarga para nabi dan rasul.

Doa kedua terbukti dengan inginnya semua orang khususnya kaum muslimlin  ingin datang ke Makkah untuk menjalankan haji.

Doa yang ketiga bisa disaksikan siapun yang pergi haji maupun umroh bagaimana disana betapa melimpahnya buah buahan dan kebutuhan hidup yang lain dengan kwalitas terbaik walupun banyak diantara buah buahan yang ada tidak ditanam di negeri itu.

Jika ibadah haji hanya bisa dilakukan oleh orang yang mampu begitu juga berqurban yang keduanya merupakan ibadah yang terkait dengan nabi Ibrahim maka sebenarnya masih banyak sisi sis kehidupan nabi Ibrahim Alaihissalam yang bisa diteladani oleh siapapun salah satunya adalah dalam membangun keluarga dan mendidik anak.

Doa yang dipanjatkan nabi Ibrahim merupan visi yang dibangun oleh nabi Ibrahim dalam mendidik anak  yaitu agar senantiasa mendirikan shalat dimana tersirat didalamnya harus beriman dengan kuat sebab tidak mungkin seseorang akan mendirikan shalat jika iman tidak kuat.

Doa juga merupakan sarana yang sangat penting bagi setiap muslim dalam meraih cita cita dan harapan hidup termasuk dalam mendidik anak.

Kalau kita amati pendidikan yang secara langsung dilakukan Nabi Ibrahim terhadap Ismail tidak terlalu intensif karena ketika Ismail baru saja lahir sudah ditinggal Ibrahim sampai ketemu lagi setelah remaja.

Begitu juga di era yang serba sibuk orang tua kadang tidak begitu banyak memiliki kesempatan waktu untuk membersamai anak anak secara intensif sementara pengaruh kehidupan yang serba digital anak bisa berintersai dengan siapapun, maka peran doa orang menjadi sangat urgen.

Wallahu a’lam

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA