Keteladanan Nabi Muhammad SAW Pada Kehidupan Pribadi dan Keluarga

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Manusia adalah Makhluk ciptaan Tuhan, yang tak sia-sia tetapi berfungsi dan akan bertanggungjawab kepada-Nya kembali.

A. Siapa manusia itu ?

Pandangan dalam mengartikan manusia secara umum:

  • Animal rasional = hewan berpikir
  • Homo socius = makhluk sosial
  • Homo economicus = makhluk ekonomi, dll.

Islam memandang manusia sebagai makhluk fungsional yang punya tugas dan bertanggungjawab. Dalam QS. Al-Mukminun, 23: 115:

Artinya:

Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Berdasarkan ayat di atas, terdapat 3 penegasan, yaitu:

  • Manusia makhluk ciptaan Tuhan,
  • Manusia diciptakan tak sia-sia tetapi  berfungsi
  • Manusia akan dikembalikan (dan bertanggungjawab) kepada  Tuhan.

B. Apa fungsi manusia?

Manusia dalam eksistensinya adalah:

  • Berpribadi, artinya berfungsi pada dirinya. Ia punya 3 unsur: perasaan, akal dan jasmani. Hal ini harus seimbang.
  • Hidup dengan orang lain, artinya berfungsi pada  masyarakat: berlaku baik pada  sesama manusia.
  • Hidup  dalam alam, artinya berfungsi pada  alam: melestarikan alam.
  • Diciptakan dan diasuh Tuhan, artinya berfungsi pada Tuhan: memuja dan menyembah Tuhan.

Dalam menfungsikan pribadinya, apabila lebih menitikberatkan pada

  • perasaan => spirualistis
  • akal        => rasionalistis
  • jasmani  => materialistis / positivistis

   Islam mengajarkan keseimbangan.

Unsur perasaan cenderung pada:

  • rindu kebaikan => terpenuhi  bila diisi dengan nilai moral;
  • kemuliaan        => terpenuhi bila  diisi dengan nilai taqwa;
  • kesucian          => terpenuhi bila  diisi dengan sifat-sifat terpuji;
  • keindahan       =>terpenuhi bila  diisi dengan nial budaya.

Semua unsur di atas ditempuh untuk mencapai taqwa.

Sebagai manusia taqwa maka ia harus menyesuaikan diri sebagai makhluk Tuhan, sebagai diri pribadi, sebagai masyarakat, sebagai. bagian dari alam dengan. berpedoman ajaran Tuhan. Berfungsinya manusia menunjukkan ia taqwa, dan taqwa artinya ibadah. Dengan demikian apabila ia berfungsi maka ia telah beribadah.

C. Kehidupan pribadi

Ada beberapa akhlak yang perlu diusahakan secara terus menerus ditanamkan dan diaplikasikan dalam kehidupan pribadi, di antaranya adalah:

1. Hidup Shidiq-Benar-Jujur
Shidiq-Benar-Jujur ini lawan dari dusta atau bohong. Antara hati, perkataan dan perbuatan harus sama. Bentuknya dapat berupa:

  • Benar perkataan, selalu berkata yang benar
  • Benar pergaulan, selalu berperilaku benar, tidak menipu, tidak khianat
  • Benar kemauan,  selalu berusaha melakukan hal-hal baik yang bermanfaat
  • Benar janji, selalu menepati  janji yang disampaikan, bahkan niat melakukan yang baik (azam) pun diusahakan dipenuhi
  • Benar kenyataan, menampilkan diri seperti keadaan yang sebenarnya.

2. Hidup Amanah-Dipercaya

Sifat amanah lahir dari iman. Bentuknya dapat berupa:

  • Memelihara titipan dan mengembalikannya seperti keadaan semula
  • Menjaga rahasia, baik rahasia pribadi, keluarga, organisasi atau rahasia Negara
  • Tidak menyalahgunakan jabatan, baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun orang lain
  • Menunaikan kewajiban dengan baik
  • Memelihara nikmat yang diberikan Allah seperti umur, kesehatan, harta, ilmu, anak  dan nikmat lainnya

3. Hidup Istiqomah-Teguh Pendirian dalam kebaikan

  • Istiqomah harus ditegakkan dalam kehidupan kita
  • Orang beriman harus istiqomah dalam hati, lisan dan perbuatan
  • Orang yang istiqomah akan siap hadapi cobaan buruk dan yang menyenangkan
  • Istiqomah menjadikan orang siap hadapi masa depan, terhindar dari rasa takut dan sedih yang mendalam
  • Orang yang istiqomah akan dilindungi Allah dan mudah mencapai sukses

4. Hidup Iffah-Menjaga diri

Iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkannya. Untuk itu kita harus selalu berusha menjauhkan dari segalla perbuatan yang dilarang Allah. Bentuk iffah diantaranya adalah:

  • Menjaga diri dari hubungan sex bebas dan pergaulan yang mengarah padanya
  • Menjaga diri dari meminta-minta
  • Menjaga diri dari yang membuat orang tidak percaya pada kita seperti melakukan bohong, ingkar janji, khianat.

5. Hidup Mujahadah-Mendekat Allah

Mujahadah adalah suatu uapaya perjuangan mencurahkan segala kemampuan untuk melepaskan diri dari segala hal yang menghambat pendekatan diri terhadap Allah, baik hambatan internal (hati) maupun hambatan eksternal (lingkungan).  Minimal ada 6 hal yang dituju dalam mujadalah; yakni:

  • Jiwa yang selalu mendorong melakukan hal-hal negatif, kedurhakaan kepada Allah
  • Hawa nafsu yang tidak terkendali yang selalu ingin melakukan yang negatif dan yang dilarang Allah
  • Syaitan yang selalu menggoda  manusia mengikuti nafsu yang berakibat lupa diri dan lupa Allah
  • Hati yang di dalamnya bersemayam kecintaan terhadap dunia berlebihan sehingga mengalahkan kecintaannya kepada akhirat
  • Orang kafir dan munafik yang selalu berusaha orang lain mengikuti jejaknya
  • Pelaku kemaksiatan dan kemunkaran yang selalu merugikan diri dan orang lain di sekitarnya. Bahkan mereka menghambat orang lain melakukan kebaikan.

6. Malu melakukan yang Negatif

  • Malu merupakan sifat dan perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah dan tidak baik
  • Rasa malu merupakan sumber kebaikan dan unsur kemuliaan dalam setiap tindakan
  • Malu meliputi malu kepada Allah, malu kepada diri sendiri dan malu kepada orang lain
  • Malu merupakan refleksi iman. Iman yang kuat menjadikan kuat rasa malu
  • Malu menjadi kontrol bagi kegiatan yang negatif dan jika tidak punya malu orang  menjadi bebas melakukan apa saja yang diinginkan nafsunya.

D. Kehidupan keluarga

1. Birrul Walidain

Birrul Walidaini adalah berbuat kebajikan kepada kedua orang tua atau istilah lain “ihsan”. Kedudukan Birrul Walidain antara lain:

  • Perintah ini oleh Allah diletakkan sesudah perintah beribadah kepada Allah.
  • Allah mewasiatkan kepada manusia untuk berbuat ihsan kepada ibu-bapak.
  • Allah meletakkan perintah berterima-kasih pada ibu-bapak sesudah kepada Allah.
  • Rasulullah meletakkan birrul walidain sebagai amalan terbaik nomor dua setelah shalat.
  • Rasulullah meletakkan uququl walidain (durhaka kepda kedua orang tua) sebagai dosa besar kedua setelah meninggalkan shalat.
  • Rasulullah mengaitkan keridlaan dan kemarahan Allah dengan keridlaan dan kemarahan Allah.

Berbakti Kepada Ibu Bapak

  • Ibu-Bapak sebagai perantara kelahiran kita ke dunia
  • Ibu dengan susah payah mengandung, bersama bapak merawat dan mendidik sehingga berbaktilah dan hormat keapa orang tua.
  • Berbakti kepada orang tua yang pokok: penerimaan terhadap keberadaan orang tua sebagai mana adanya:
    • fisik: dimungkinkan tampil low profil / performance, sementara anak lebih muda, tegar dan cakep.
    • non fisik: pengetahuan, pemikiran, kebiasaan; ketinggalan, sementara anak  lebih pintar, berwawasan luas, modern dan cakap.

Oleh karena itu terima dan hormatilah kondisi apa adanya itu.

Manakala diajak mengikuti ide pemikiran dan perintahnya:

  • bila baik (sejalan) makaikuti (1)
  • bila menyimpang tidak sejalan maka hubungan komunikasi tetap baik (2)

Oleh karena itu dalam Al-Qur’an cukup dilambangkan dengan ajaran: jangan berkata “aah”

Bagaimana kalau berada dalam satu rumah:

  • bila sakit maka rawat dan hibur (3)
  • bila meninggal dunia maka selesaikan (4) dan do’akan (5)
  • Jangan dimasukkan  Panti jompo (6)

Uququl Walidain

Uququl walidin adalah durhaka kepada kedua orang tua. Durhaka masuk dosa besar, mengingat betapa istimewa kedudukan dan betapa besar jasa orang tua.

2. Membina Hubungan Suami Istri

Membentuk keluarga sakinah dengan kasih sayang (mawaddah dan rahmah). Mawaddah = jasmani => cantik, gagah; Rahmah = rohani => hubungan batin. Ketika masih muda: mawadah berperan. Ketika sudah tua: rahmah lebih berperan => ketika memilih pasangan keduanya jadi diperlukan pertimbangan. Ada 4 kriteria memilih pasangan:

  • karena Hartanya,
  • karena Keturunannya,
  • karena Kecantikannya,
  • karena Agamanya: => pilih agamanya

Memilih cara HAMKA: masing-masing kreteria bernilai 0 (nol) kecuali agama bernilai  1 (satu) à rangkai: 0 00 0001000

Hak-hak bersama Suami-Isteri

  • Hak tamattu’ badani yaitu saling menikmati hubungan sex yang halal
  • Hak saling mewarisi yaitu dapat warisan karena sebab perkawinan
  • Hak nasab yaitu pencantuman nama orang tua pada nama anaknya; bukan suami

Kewajiban Suami kepada Istri

  • Mahar
  • Nafkah
  • Gaul secara baik: buat senang, tidak curiga, jaga rasa malu, tidak buka rahasia, ijinkan kunjungi ortu dll
  • Membimbing dan mendidik agamanya

Kewajiban Istri kepada Suami

  • Patuh pada suami
  • Gaul secara baik: Menerima pemberiannya, beri perhatian, tampil menarik dll

3.    Mendidik Anak

Anak adalah amanah Allah sehingga anak perlu untuk dirawat, diberi kasih sayang, dan dididik. Dalam Hadits disebutkan tentang kewajiban orang tua yaitu:

  • memberi nama yang baik
  • mengajari tata krama
  • mengajari menulis
  • mengajari berenang dan memanah
  • memberi makanan halal dan baik
  • mengawinkan
  • mengajari menjahit bagi wanita

Dalam Islam: anak lahir dalam kondisi “fitrah” yaitu kondisi suci sehingga memiliki potensi menuju pada kebaikan. Orang tua wajib mendidik dengan :

  • Membimbing dengan mengembangkan  fitrah (potensi kebaikan) yang ada pada anak.
  • Mengembangkan fitrah  dengan mengenalkan  norma.
  • Mengenalkan norma dengan pengetahuan teori, teladan orang tua, teladanorang lain /famili, dan pengalaman diri sendiri
  • Dengan norma yang ia kenal itu akan melahirkan perilaku yang baik.

Terdapat beberapa tipologi anak, yaitu:

  • Anak sebagai perhiasan hidup dunia
  • Anak sebagai ujian
  • Anak sebagai musuh
  • Anak sebagai cahaya mata
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga.