Ditulis oleh 5:23 am KALAM

Khotbah Idul Adha 1441 H : Empat Teladan dari Nabi Ibrahim AS

Setiap kita harus mau berusaha secara halal, sesulit apapun keadaannya dan sekecil apapun peluangnya, hal ini karena peluang selalu ada dan memang selalu ada celah di tempat yang sempit sekalipun.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Allahu Akbar Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Sepanjang malam kalimat takbir, tahlil dan tahmid berkumandang bersahutan menggetarkan hati, menyentuh kalbu jiwa-jiwa yang beriman, lalu pagi ini dengan penuh kebersamaan walau dalam kondisi pandemi covid-19, laki-laki dan perempuan, tua-muda, yang sedih atau gembira semua datang untuk berjamaah bersama di bumi Allah menghidupkan sunnah sebagai bukti rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Sementara saudara-saudara kita yang menjadi tamu Allah di tanah suci tahun ini tertahan tidak bisa diberangkatkan ke tanah suci untuk melakukan ibadah haji, menambah semakin semaraknya ibadah qurban di tanah air. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti. Takbir, tahlil dan tahmid tersebut merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut disembah kecuali Allah. Dan itulah salah satu ciri orang beriman.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal (QS Al An faal (8): 2).

Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu. Iman yang sejati ialah keyakinan penuh (al-Yaqinu kulluh) yang terhunjam di dalam hati, dengan tidak ada perasaan ragu, serta mempengaruhi arah dan orientasi kehidupan, sikap dan aktifitas keseharian. Iman adalah perpaduan antara amalan hati, amalan lisan dan amalan anggota tubuh.

Iman tidak sekedar amal perbuatan, dan tidak pula sebatas pengetahuan tentang arkanul iman. Iman adalah membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta menegakkan syariat-Nya di muka bumi ini. Iman tidak sekedar ucapan lisan seseorang yang memberikan pengakuan dirinya bahwa ia orang beriman. Sebab orang munafik pun dengan lisannya memproklamirkan hal yang sama, namun hatinya mengingkari apa yang diucapkan. Iman juga bukan sebatas amal perbuatan yang secara lahiriyah tampak merupakan karakteristik orang-orang beriman. Sebab orang-orang munafik pun tidak sedikit yang secara lahiriyah/sekilas terlihat mengerjakan amal ibadah dan berbuat baik, sementara hati mereka kontradiktif dengan perbuatan lainnya, apa yang dilakukannya tidak dimotivasi oleh ketulusan niat untuk mencari ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Lain di mulut lain pula di hati.

Ciri orang-orang beriman memandang bahwa ketetapan Allah dinomor satukan, jika dihadapkan beberapa pilihan. Tanpa ada rasa keberatan, pura-pura dan pamrih. Jumhur Ulama mengatakan, “Iman adalah membenarkan di dalam hati (at Tashdiqu bil qalbi), diucapkan dengan lisan (qaulun billisan), dan dibuktikan dengan amal anggota tubuh (amalun bil arkan wal jawarih). Jadi iman itu refleksi Refleksi Hati, Ucapan dan Sikap/Perbuatan.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd.

Idul Adha merupakan salah satu momentum yang luar biasa dalam sejarah umat manusia. Dalam hari raya Idul Adha terdapat kisah Nabi Ibrahim yang diperintah Allah untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail AS. Drama yang dibuat oleh Allah SWT ini tentu bukan kebetulan semata. Melainkan ada nilai-nilai yang harus dijadikan pedoman manusia agar selamat di dunia hingga di akhirat kelak.

Dikisahkan sebelum Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah Nabi yang sangat dermawan ia biasa menyembelih seribu ekor domba, tiga ratus lembu dan seratus ekor unta untuk sabilillah, banyak orang yang berdecak kagum bahkan para malaikatpun menganguminya. Melihat dan mendengar kekaguman tersebut Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata: “Kalau saja aku punya seorang anak dan Allah meminta agar aku mengorbankannya maka niscaya akan aku korbankan dia”.

Pada malam tarwiyyah tanggal 8 Dzil Hijjah Allah menguji ketaqwaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, beliau bermimpi diperintah “penuhilah nadzarmu” yaitu menyembelih putra kesayangannya. Waktu itu Nabi Ibrahim belum yakin dan dan masih berfikir apakah perintah itu datang dari Allah atau hanya dari syaitan yang ingin merusak keharmonisan rumah tangganya yang akhirnya kita kenal dengan yaumut tarwiyah.

Keesokan harinya pada tanggal 9 Dzil Hijjah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi lagi dengan mimpi yang sama. Maka yakinlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bahwa mimpi itu benar-benar datang dari Allah SWT. Maka, tanggal 9 Dzil Hijjah kita sebut yaumu ‘Arafah

Dalam hadits Nabi disebutkan: “Bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa ‘Arafah maka beliau menjawab : Barang siapa mau berpuasa pada hari Arafah maka Allah akan mengampuni dosanya satu tahun sebelum dan sesudahnya”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahilhamd

Pada malam ketiganya Nabi Ibrahim bermimpi lagi dengan impian yang sama maka beliau bertekad untuk memenuhi nadzarnya yaitu menyembelih putra kesayangannya, maka pada hari pelaksanaannya disebut dengan “yaumun nahr“ hari pelaksaanan penyembelihan.

Kisah Qurban penyembelihan Nabi Ismail ‘alaihissalam oleh ayahandanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat ash shaffat 102:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.(37. Ash Shaffat: 102).

Hadirin jamaah ‘Iedul Adha yang dimulyakan Allah.

Yang namanya iblis selamanya tidak akan pernah diam melihat manusia akan melaksanakan ibadah menaati perintah Allah SWT, maka satu-persatu dari keluarga mulia ini digodanya, mulai dari dari Ibrahim ‘alaihissalam sebagai kepala keluarga, Siti Hajar ibu rumah tangga, lalu Isma’il sebagai anggota keluarga terakhir tak luput dari godaannya. Benteng ketaqwaan dan keshalihan yang kokoh dari seluruh anggota keluarga ini tak mampu dikoyak oleh iblis laknatullahi ‘alaih.

Sungguh pelajaran yang sempurna dari Allah, bahwa setiap keluarga muslim pasti akan mendapatkan godaan iblis laknatullahi ‘alaih, terkadang godaan itu lewat ayah, ibu atau bahkan lewat orang-orang yang kita sayangi yaitu anak-anak kita.

Semoga seluruh anggota keluarga mampu memetik pelajaran indah dan hebat dari kisah keluarga nabi Ibrahim ‘alaihim as salam, kita yang menjadi ayah semoga bisa menjadi seorang ayah yang demokratis, adil dan bijaksana sebagaimana Nabi Ibrahim yang mengajak putranya bermusyawarah untuk melaksanakan perintah besar dari Allah, para wanita yang ditaqdir oleh Allah menjadi ibu, semoga mampu meneladani Siti Hajar profil ibu rumah tangga yang mendukung, membantu dan mendo’akan suami dalam menaati perintah Allah, Yang saat ini masih anak-anak, remaja semoga bisa meniru keshalihan Isma’il yang dengan keimanan yang menancap kelubuk hati dan ketawaannya yang tinggi menjadikan ia sabar dan ikhlas untuk berbakti kepada orang tuanya sekalipun ia harus “dikorbankan” oleh Ayahnya sendiri demi mengikuti perintah Allah.

Bila sebuah keluarga sudah kuat maka Negara akan menjadi kuat dan hebat. Karena itu, Allah SWT menjadikan Nabi Ibrahim as dan keluarganya sebagai figur teladan sepanjang masa, bahkan tidak hanya kita yang harus meneladaninya, tapi Nabi Muhammad saw juga harus meneladaninya, Allah swt berfirman:

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (60. Al Mumtahanah:4).

Ada banyak sisi keteladanan dari Nabi Ibrahim yang amat penting untuk kehidupan kita, diantaranya: Pertama, memegang prinsip kebenaran sejak muda hingga usia tua dan mencapai kematian. Memahami, meyakini nilai-nilai kebenaran merupakan prinsip yang harus selalu dipegang manusia. Pada sosok Nabi Ibrahim, ada idealisme berkelanjutan. Ini amat penting, karena banyak orang buruk saat muda, baru baik saat tua. Ada pula yang baik saat muda, buruk saat tua, bahkan ada yang buruk dari muda sampai tua dan mati.

Kesimpulan ini kita dapatkan dari kisah Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala saat masih muda dan menunjukkan ketaatan yang luar bisa dengan menyembelih Ismail saat sudah amat tua. Nabi Ibrahim mencontohkan kepada kita bahwa prinsip ketuhanan dan aqidah yang benar merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena itu, sejak muda remaja, Nabi Ibrahim sudah berjuang agar keluarga dan masyarakatnya hingga para pemimpin terbuka hati dan pikirannya atas kesesatan bertuhan kepada selain Allah SWT. Ibnu Abbas seperti dikutip Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menyebutkan tentang pentingnya masa muda. “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan anak muda. Dan seorang yang alim tidaklah diberi Allah ilmu melainkan di waktu muda.”

Rasulullah saw bersabda:
Tiada sesuatu yang lebih disukai Allah daripada seorang pemuda yang bertaubat (HR. Ad Dailami).

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah.

Kedua, kritis. Keharusan berlaku baik pada siapapun tidak boleh menghilangkan daya kritis, sebagaimana daya kritis tidak boleh juga menghilangkan kebaikan kita kepada orang yang harus kita perlakukan dengan baik. Nabi Ibrahim kritis kepada ayahnya, kepada masyarakatnya dan kepada pemimpin serta apa yang diajarkan. Dalam kehidupan sekarang daya kritis amat kita butuhkan. Ini akan membuat kita bisa menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.

Teladan ketiga dari Nabi Ibrahim dan Ismail as yang harus kita bangun pada generasi kita adalah menunjukkan kematangan pribadi. Hidayah sempurna dari Allah SWT yang dimilikinya membuatnya memperoleh kematangan daya berpikir, kecerdasan dan kejernihan hati. Sebagai anak yang baru gede, kematangan diri Ismail tidak hanya dari sisi fisik yang sudah baligh. Tapi ada tiga kematangan pada dirinya: Pertama, Kematangan berpikir sehingga ia bisa diajak berdialog dan dimintai pendapat, bahkan pendapatnya luar biasa, ini menunjukkan ada ketegasan dan kesamaan persepsi atau pemahaman dengan ayahnya. Ismail berpendapat tentang mimpi ayahnya: “Wahai ayah, kerjakan apa yang Allah perintah kepadamu.” Ia tidak mengatakan: “Wahai ayah, kalau memang engkau pahami perintah Allah demikian, kerjakan saja, risiko tanggung sendiri.” Kedua, Kematangan jiwa untuk menerima dan melaksanakan perintah yang berat, bahkan ia mengatakan: “Insya Allah, engkau dapati aku termasuk orang yang sabar.” Ia tidak mengklaim diri sebagai anak yang paling sabar, apalagi satu-satunya orang yang sabar. Ini menunjukkan akhlaknya yang sangat mulia. Ismail berusaha menjadi orang yang sebaik mungkin, tapi ia tidak mengklaim sebagai yang paling baik apalagi merasa sebagai satu-satunya orang yang baik. Ketiga, Kematangan dalam memahami sejarah, sehingga punya kesadaran sejarah, ia memahami dan menyadari bahwa generasi terdahulu banyak yang sabar, bahkan jauh lebih sabar dari dirinya. Ini membuatnya menjadi tawadhu (rendah hati), tidak sombong atas kebaikan dirinya. Sekarang ini berapa banyak orang yang berusaha menjadi baik dan benar, tapi kemudian menyombongkan diri karena begitu mudah menganggap orang lain salah dan ia pun merasa benar sendiri, bahkan melupakan sejarah masa lalu.

Keempat yang merupakan teladan dari Nabi Ibrahim as dan keluarganya adalah semangat berusaha dan berjuang untuk melanjutkan kelangsungan hidup dan perjuangan menyebarkan dan menegakkan nilai-nilai kebenaran. Siti Hajar mencontohkan kepada kita bagaimana ia mau berusaha mencari rizki meskipun situasi dan kondisinya sangat sulit, karenanya ia berjalan menuju bukit shafa hingga Marwa, berusaha dan berusaha meski tidak mengabaikan perhatiannya kepada anak kesayangannya Ismail. Dalam haji dan umrah, apa yang dilakukan Siti Hajar ini diabadikan dalam bentuk sai yang artinya usaha, usaha dari hati yang suci (shafa) dan tidak mengabaikan nilai-nilai idealisme (Marwa).

Dalam konteks kehidupan sekarang, setiap kita harus mau berusaha secara halal, sesulit apapun keadaannya dan sekecil apapun peluangnya, hal ini karena peluang selalu ada dan memang selalu ada celah di tempat yang sempit sekalipun. Bila kaleng diisi kerupuk hingga penuh, masih ada celah untuk dimasukkan kacang bila kaleng itu digerak-gerakkan, bahkan meskipun sudah penuh dengan kerupuk dan kacang, gula pasir masih bisa dimasukkan, begitu juga dengan tepung yang lebih halus lagi. Hanya orang yang tidak mau berusaha dan berjuang yang menganggap sudah tidak ada peluang lagi, Allah swt berfirman:

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (67. Al Mulk:15).

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Akhirnya, jika kita belum mampu menyembelih hewan qurban tahun ini, maka sembelihlah sifat sombong dalam diri kita, yang selalu merasa benar, selalu merasa pandai, selalu merasa kuat dan selalu merasa ‘alim. Jika kita belum diberi kesempatan melempar jumrah tahun ini, maka lemparlah sifat iri, dengki, amarah dan dendam dalam diri kita. Jika kita belum sempat melaksanakan mengelilingi ka’bah tahun ini, maka kunjungilah tetangga, saudara dan sahabat kita agar terjalin silaturahmi yang erat antara sesama hamba Allah yang beriman. Manakala kita mau meneladani kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya, niscaya terbentuk kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa dan negara yang diridhai Allah swt.

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (7. Al A’raf: 96).

Demikian khutbah kita hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, akhirnya marilah kita tutup dengan doa kepada Allah SWT agar seluruh ibadah kita diterima oleh Allah, diampuni dosa dan kesalahan, serta kita selalu berada dalam hidayah-Nya guna meraih ridla serta karunia-Nya. Kita doakan agar saudara-saudara kita yang masih menderita untuk diringankan dan diberi kebebasan oleh Allah Yang Maha Segalanya. Kita juga berdoa bagi saudara-saudara kita yang sakit, terkena musibah atau terkena covid-19 di manapun berada agar diberi kesembuhan, kesabaran, keringanan, dan keberkahan oleh Allah Yang Maha Rahman dan Rahiim. Tak lupa pula kita juga berdoa agar para pemimpin bangsa ini selalu dalam hidayah Allah dan dihindarkan dari sifat dzalim oleh Allah SWT, sehingga bangsa dan negara ini menjadi baldatun wa rabbun ghofur. Tata titi tentrem kertoraharjo.

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi, say’un fil ardhi walafissamaai wahuwa samiul’alim

(Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui).

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

Wassalamu’alaikum wr. wb.

(Visited 168 times, 4 visits today)
Tag: , , Last modified: 31 Juli 2020
Close