Kisah Yusuf Penawar Duka di Tengah Pandemi Corona

Banyak pesan dan pelajaran yang dapat kita petik dalam kisah Yusuf terutama saat menghadapi kesulitan. Apa saja itu?

Dua bulan lebih duka nestapa melanda bangsa Indonesia akibat virus corona,  hampir semua netizen telah merasakan getir akibat wabah yang hingga saat belum mau  beranjak meninggalkan kita, satu fenomena yang baru kali ini terjadi dan berdampak pada kehidupan anak bangsa di bidang psikologi, sosial, ekonomi, dan khususnya kehidupan beragama secara massif. Data statistik pemerintah belum menunjukkan ada gejala yang mengindikasikan penurunan kuantitas dampaknya dibanding negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan terutama Thailand yang saat ini sudah menunjukkan gejala signifikan tanda-tanda akan purnanya musibah global ini.

Salah satu sifat yang dianugerahkan Tuhan kepada makhluk ciptaanNya dalam menghadapi perubahan pola hidup adalah kemampuan beradabtasi dengan suasana dan lingkungan baru. Pertanyaan yang relevan saat ini bukan lagi kapan musibah akan berakhir, tetapi bagaimana setiap warga harus mampu survive di tengah kondisi perang melawan pandemi ini. Akibat kebijakan social distancing, masing-masing diharapkan mampu untuk beradaptasi dengan tradisi baru tinggal dirumah (stay at home) yang harus dilakukan dengan tetap berupaya mampu memelihara kebiasaan hidup yang produktif. Bila tidak, perasaan-perasaan bosan, jenuh, gelisah, sedih, dan putus harapan barangkali akan terus menghantui masing-masing individu netizen. Bila tradisi baru work from home ini sudah terbentuk dengan baik dan dijalani dengan  sepenuh hati, dengan kesabaran dan harapan akan datangnya rahmat dan pertolongan Tuhan, insya Allah semua perasaan dan pikiran-pikiran negatif di atas akan mudah tertepis dan sirna sendiri. Manusia yang hidup dan lekat dengan tradisinya akan merasa nyaman sebagaimana kata sosiolog Ibn Khadun bahwa al-insanu ibnu ‘awa`idihi “manusia itu tidak lain adalah anak atau potret dari kebiasaannya”. Menjalankan tradisi kehidupan yang baik berlandaskan kesabaran dan harapan akan datangnya rahmat Tuhan adalah salah satu siprit utama al-Qur`an yang harus dipertahankan,  wa la tai`asu min rauhillah innahu la yai`asu min rauhillah illa al-qaumu al-kafirun, ‘jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmatNya kecuali orang-orang kafir’ (Yusuf; 87).

Pertanyaan yang relevan saat ini bukan lagi kapan musibah akan berakhir, tetapi bagaimana setiap warga harus mampu survive di tengah kondisi perang melawan pandemi ini.

Dalam bulan Ramadhan yang sarat berkah, membaca kisah al-Qur`an, menjadi salah satu sarana penenang bagi orang yang sedang dilanda kesedihan sebab kisah al-Qur`an selain mengandung pesan-pesan positif yang terpancar di dalamnya spirit ilahiah, ia adalah teladan (ibrah), nasehat (mau’idah) dan super motivator dalam menghadapi tantangan hidup. Kisah Yusuf merupakan kisah terbaik (ahsan al-qasas) yang disajikan dalam narasi dan fragmentasi runut, logis dan lengkap dalam satu kesatuan surat yang disebut dalam al-Qur`an. Nahnu naqussu ‘alaika ahsan al-qasasi bima auhaina ilaka haza al-Qur`an ‘ Kami kisahkan kepadamu kisah terbaik ‘the best history’ (ahsan al-qasasi) dengan mewahyukan al-Qur`an ini kepadamu’ (Yusuf 3).  Kisah Yusuf tidak sebagaimana kisah Ibrahim, Nuh, Musa dan nabi-nabi lain yang dinarasikan dalam fragmen yang terpisah-pisah dan menuntut kecerdasan dan ketelitian tersendiri dalam memahami, baik dari segi ekspresi bahasa maupun diakronika dari setiap episodenya. Meskipun berupa kisah, kisah Yusuf adalah kisah Qur`ani yang merupakan sebuah fakta kebenaran dalam kehidupan dan bila dibaca dengan mata hati dan pikiran yang jernih, kisah tersebut seakan mampu mentransformasikan dirinya menjadi sebuah audio-visual dari kehidupan nyata di hadapan pembacanya. Kisah Yusuf yang berawal dari sebuah mimpi, berakhir menjadi sebuah wujud nyata. Ya abati haza ta`wilu ru`yaya min qablu qad ja’alaha rabbi haqqan, ‘Duhai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dulu itu, kini oleh Allah dijadikan kenyataan’. (Yusuf, 100).

Baca juga: LAILATUL QADAR: Menemukan Sejatining Kebenaran, Merevolusi Jiwa

Kisah Yusuf diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw pada tahun kesepuluh kenabian di saat beliau sedang dirundung kesedihan akibat penetrasi kaum kafir yang memuncak, dan pada saat yang sama beliau ditinggal istri beliau, Khadijah binti Khuwailid diikuti kemudian pamannya,  Abu Thalib, menghadap Sang Khaliq. Oleh karenanya, tahun kesepuluh dari risalah tersebuti dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kedukaan. Sebagian ahli menyatakan turunnya Surat Yusuf selain sebagai peristiwa hadirnya wahyu Tuhan kepada Nabi Muhammad saw,  juga merupakan bacaan pelipur lara (syifa`un lima fi as-sudur) bagi siapa saja yang sedang berduka. Ulama mengatakan, ‘Membaca surat Yusuf di kala sedih, membuat pembacanya terhibur’.

Dalam kisah Yusuf, peristiwa demi peristiwa disajikan lewat alur cerita yang mampu membangkitkan gejolak emosi dan menggugah rasa, terutama bagi mereka yang membacanya dengan penuh penghayatan akan makna, kandungan pesan, dan misi yang diperankan oleh kisah. Kisah al-Qur`an merupakan fenomena yang menjelaskan peristiwa kehidupan masa lalu sekaligus menjelaskan apa yang tengah terjadi saat ini dan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Tokoh Yusuf dan saudara-saudaranya meskipun pernah hidup jauh di masa lalu, akan tetapi fenomena yang mengikuti kisah tersebut akan tetap aktual karena secara teoretis dan dari segi peran pragmatis, kisah tersebut masih dapat digunakan untuk memahami berbagai kejadian saat ini dan yang akan datang.  Di dalam kisah terkandung tanda-tanda kebesaran Allah dan nilai-nilai kemanusiaan berikut tabiat-tabiat dan relasinya dengan peristiwa-peristiwa yang saling mengisi dan melengkapi satu sama lain dalam kehidupan nyata hingga akhir jaman.

Baca juga: Hijrah: Strategi Mencapai Kemenangan

Dalam kisah Yusuf diilustrasikan dengan begitu jelas pesan-pesan yang mendalam mengenai nilai-nilai kemanusiaan berikut karakter dan sifat-sifat baik dan buruk yang beroposisi secara biner, terutama  dilihat dari hal-hal positif yang bisa menjadi teladani hidup serta menjadi pelajaran bagi semua, antara lain cinta dan kasih sayang (hubb) hasad dan kecemburuan (la Yusufu wa akhuhu ahabbu ila abina minna), makar dan tipu daya (wa alquhu fi gayabati al-jubb, iz ajma’u amrahum wa hum yamkurun), tipu muslihat dan kepura-puraan ( wa ja`u abahum ‘isya`an yabkun), kesaksian palsu (bi dam kazib), rayuan cinta ( rawadathu `an nafsihi), asmara (syagaf),  godaan nafsu (inna an-nafsa la`ammarutn bi as-su`i), cercaan dan hinaan ( wa lamma sami’at bi makrihinna), ikhlas berkorban demi mempertahankan kemuliaan dan kebenaran (ribbi as-sijnu ahbbu ilayya), kesabaran (sabrun jamil), ketabahan menahan derita (innama asyku bassi wa huzni ila Allah),  pribadi  jujur dan terpecaya (Yusuf ayyuha as-siddiq), meraih kedudukan mulia dengan cara terhormat (wa kazalika makanna li Yusuf), menahan amarah (fa asarraha Yusuf ` fi nafsihi wa lam yubdiha lahum), pantang berputus asa (wa la tai`asu min rauhillah), berani mengakui kesalahan (in kunna lakhati`in), mudah memaafkan (la tasriba ‘alaikum al-yauma), memohon ampunan atas dosa-dosa (ya abana istagfir lana zunubana), berbakti pada kedua orang tua (wa rafa’a abawaihi ‘ala al-arsy), bersyukur (rabbi qad ataitani min al-mulki) dan permohonan husnul khatimah (tawaffani musliman wa alhiqni bi as-salihin)

Membaca kisah al-Qur`an berarti juga mentadabburi kalam Tuhan yang semestinya dilakukan setiap orang beriman apalagi yang tengah menjalankan siyam di bulan Ramadhan dan di tengah karantina virus covid-19 untuk memperteguh keyakinan, mempertebal keimanan dan ketaqwaan pada sang Khaliq, menjadi pribadi-pribadi yang tabah dan tangguh (ketahanan diri yang dalam teori Stold menjadi bagian dari kecerdasan adversitas) dalam menjalani takdirNya. Wabah yang sedang melanda dunia merupakan fenomena alam yang Ia ciptakan dalam dua dimensi sekaligus, dimensi alam nyata atau ‘in praesentia’ (alam asy-syahadah) sebab virus tersebut dapat dideteksi gejalanya dan dirasakan akibatnya bagi yang terindikasi, dia adalah makhluk super kecil yang hanya mampu dilihat oleh mikroscop atau lewat teknologi nano. Di lain, ia pihak ia merupakan fenomena alam yang menyerupai gejala ‘in absentia’ (alam gaib) karena sampai saat ini tidak ada atau belum diketahui secara pasti dari mana asal dan kapan berakhirnya, dan belum ditemukan vaksin ampuh penangkalnya, ia lepas dari tangkapan indera mata manusia meskipun menebar terburai di sekitar dirinya. Hanya Dia yang mengetahui rahasia makhluqNya sebab Ia adalah alimu al-gaibi wa asy-syahadah ‘Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata’. Dia yang mampu meniupkan angin yang dapat dirasa meski tidak terlihat oleh indera seperti  sering disebut para teolog, ar-ruh ka ar-rih, bahwa roh (ruh) itu seperti angin (rih). Keyakinan qadariyah (free will) kita melazimkan untuk selalu waspada dengan menjalani dan melaksanakan semua aturan dan protokol medis serta upaya ikhtiari sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi agar terhindar dari wabah yang sedang merebak.

Keyakinan jabariah (fatalism) kita mendorong kita untuk selalu bersabar, tawakkal dan berdoa semoga badai covid-19 ini cepat berlalu. Membaca dan mentadabburi al-Qur`an adalah bagian dari zikr yang harus diperbanyak pada Ramadhan ini sebab hanya dengan berzikir hati menjadi tenang.  Ala bi zikr Allah tatma`innu al-qulub, ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram’ (ar-Ra’d 28).  Al-Qur`an itu adalah syifa` ‘obat penawar’, wa nunazzilu min al-Qur`ani ma huwa syifa`un wa rahmatun li al-mu’minin, ‘dan Kami turunkan dari al-Qur`an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman’ (al-Isra` 82) Kegelisahan merupakan tanda awal dari sakit, ketenangan adalah obat penawarnya dan kesabaran adalah jalan terbaik menggapai rahmat dan ridhaNya. Wallahu a’lam bi as- sawab

(Visited 203 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020