22.9 C
Yogyakarta
27 Juli 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Kolaborasi

Oleh: Dr. Untoro Hariadi, M.Si

Sampai kini, belum nampak tanda bahwa penyebaran wabah akan mereda. Bahkan jika merujuk pada laporan rutin perkembangan kasus, maka yang tersaji sebaliknya.

Kasus bertambah dan meluas. Data dunia demikian halnya. Amerika dan beberapa negara Eropa secara mengejutkan telah melampaui China dalam jumlah korban dan luasnya penyebaran.

Dalam situasi yang demikian yang dibutuhkan tentu adalah sikap tawakal, yang diwujudkan dengan sikap tenang, arif dan saintifik. Tenang berarti tidak panik, dan terus fokus. Arif berarti penuh pertimbangan, dan tetap bersandar pada prinsip mengutamakan keselamatan bersama. Saintifik berarti percaya pada metode sains.

Dalam hal wabah ini, masalah utamanya adalah bahwa sampai kini belum ada “obatnya”. Upaya sedang dilakukan, namun butuh waktu untuk menemukan dan memproduksinya. Karena obat harus diuji, secara bertingkat, sampai benar-benar dinyatakan aman. Para ahli harus diberi waktu yang cukup untuk bekerja.

Dalam masa penantian tersebut, satu-satunya cara untuk menghadapi wabah adalah tidak tertular. Artinya: (1) secara pribadi, masing-masing orang harus dengan sadar menghindari kemungkinan tertular. Semua celah penularan harus ditutup.

Itulah sebab setiap individu harus menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, dan terus meningkat daya tahan tubuh. Jika setiap individu dengan penuh sadar menjaga dirinya, maka kemungkinan penularan akan hilang.

(2) Secara publik harus ada kebijakan pengendalian penyebaran. Kebijakan tersebut tentu harus mendapatkan dukungan penuh dari publik. Hanya dengan cara ini, kesadaran individu berubah menjadi kesadaran publik.

Kesadaran publik tentu membutuhkan daya dukung untuk menjadi operasional dan efektif. Jaga Jarak dan berdiam di rumah, tentu punya konsekuensi. Pangan harus tersedia. Bagi yang tidak mampu, tetap terlindungi dengan bantuan negara.

Publik yang sadar pasti juga memahami situasi yang sulit. Karena itu, mekanisme saling bantu pasti akan berjalan. Sekarang ini saja, sudah nampak gerakan saling bantu, melalui ragam donasi, bahkan sampai menghimpun bantuan untuk alat pelindung diri bagi petugas medis.

Hal ini berarti dengan kesadaran individu yang bertransformasi menjadi kesadaran publik, yang didukung oleh kebijakan publik yang tepat, akan menjadi kekuatan besar menghadapi wabah. Kekuatan yang dimaksud adalah kemampuan mengendalikan penyebaran wabah.

Dengan pengendalian penuh, maka jumlah korban dapat pula dikendalikan, sehingga kemampuan layanan kesehatan akan terus terjaga. Layanan medis yang terjaga akan membuat yang sakit dapat ditangani dengan baik, sehingga harapan untuk sembuh lebih besar.

Jika yang sakit bisa sembuh, maka pasti rasa percaya diri dari publik akan meningkat. Rasa percaya diri, akan makin memperkuat keyakinan bahwa hanya dengan kesadaran publik masalah yang berat dapat diatasi. Kecepatan mengatasi wabah merupakan kunci untuk mencegah jangan sampai wabah menimbulkan masalah yang lebih besar dan kompleks.

Memang kesadaran publik tidak hadir begitu saja. Kesadaran publik merupakan produk usaha bersama seluruh elemen bangsa, dalam format kolaborasi. Dengan kolaborasi, kita percaya kesadaran publik segera muncul dan bekerja. Keseluruhan itulah dasar keharusan kolaborasi.

Penulis: Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra/Ketua Dewan Pengurus Yayasan Abdurrahman Baswedan

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA