Konsep 5C Dalam Pengembangan Sumberdaya Manusia Indonesia

Dr. Majang Palupi, BBA., MBA copy
Konsep 5C menjadi dimensi penting dalam membangun sumberdaya manusia Indonesia. Apa itu?

Oleh: Dr. Majang Palupi, BBA., MBA

Diskusi sumberdaya manusia (SDM) di Indonesia hingga saat ini tetap aktual dan menarik. Selama berkaitan dengan organisasi, maka manusia memiliki peran sentral di dalamnya. Demikian pula dengan organisasi yang bernama Indonesia. Manusia memiliki aspek yang berperan sedemikian kuat. Paparan saya ini bertujuan untuk memberikan sumbangan pemikiran konseptual tentang pembangunan manusia Indonesia dengan meminjam pandangan tiga professor.

Pertama, pemikiran Profesor Rosabeth Moss Kanter dari Harvard Business School terkait dengan 3C dalam studi bisnis. Pertama pentingnya dalam pengembangan SDM. Pertama adalah concept yang menggarisbawahi pengetahuan (knowledge) dan menyoroti urgensi inovasi yang muncul tidak hanya dari Research and Development, namun dari berbagai sumber termasuk SDM. Pengembangan sumberdaya manusia di Indonesia harus memiliki konsep yang jelas. Kapabiltas sumberdaya manusia Indonesia dibangun atas tuntutan strategis Indonesia dengan mempertimbangkan aspek eksternal dan internal. Aspek eksternal berkaitan dengan posisi Indonesia dalam percaturan bangsa dan posisi internal berkaitan dengan keunggulan bersaing yang bersifat local wisdom atau kearifan lokal di Indonesia. Dengan demikian konsep di atas menggambarkan kapabilitas sumberdaya manusia yang kompetitif dan berkearifan lokal sehingga mampu menerobos kesempatan bersaing di pasar internasional. Keunggulan kompetitif saat ini telah dianggap sebagai standar industri di masa mendatang.

Kedua adalah competence ataukompetensi. Kompetensi berkaitan dengan profil SDM Indonesia harus memiliki pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill) dan karakter yang mencerminkan nilai-nilai yang diyakini oleh bangsa Indonesia. Pengetahuan dan ketrampilan berhubungan dengan kemampuan SDM Indonesia dalam memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa dan negara.

C yang ketiga adalah connection, yang selanjutnya saya terjemahkan dengan modal sosial yang menjadi penting dalam membangun SDM di Indonesia. Modal sosial di sini menekankan pada aspek saling percaya (trust), hubungan timbal balik (reciprocal) dan interaksi sosial yang mendukung dalam pencapaian SDM yang unggul, tidak hanya dari sisi knowledge dan skill, namun juga dari sikap atau attitude.

Kedua adalah pandangan Profesor Djamaludin Ancok dari Universitas Gadjah Mada yang menambahkan 2 C berikutnya yaitu credibility (kredibilitas) dan caring (kepedulian) untuk melengkapi pemikiran Moss Kanter di atas. Berkaitan dengan pengembangan SDM di Indonesia, kredibilitas dalam pandangan saya bermakna bahwa pengembangan SDM harus melahirkan sosok yang amanah dan memiliki komitmen kebangsaan dan cinta tanah air.

Sosok SDM yang demikian menunjuk pada sosok pribadi yang memadukan secara produktif nilai-nilai luhur bangsa dan nilai-nilai relijiusitas sehingga melahirkan SDM yang kredibel. Sementara kepedulian (caring) menunjuk pada pada karakter saling peduli dan membantu pihak yang lemah. Kepedulian harus dibangun sejak dini sehingga kualitas kepedulian akan semakin tinggi dengan berjalannya waktu. Kepedulian tidak berbicara tentang nominal yang besar, tetapi lebih pada pengembangan empati terhadap apa yang terjadi di lingkungannya. Kepedulian yang tinggi akan terefleksi pada kesiapan berkontribusi sebagai sosok anak bangsa Indonesia.

Ketiga adalah paparan Profesor Heru Kurnianto Tjahjono yang menjelaskan pentingnya mengembangkan cara belajar dan berpikir yang memadukan otak (brain) dan hati (heart). Untuk itu pendidikan tidak cukup mengembangkan aspek brain yang menghasilkan knowledge, akan tetapi perlu melibatkan heart sehingga outcome yang dihasilkan akan lebih seimbang dan optimal.Kepemimpinan keluarga menjadi fundamental dan strategis dalam memfasilitasi pendidikan tersebut. Peran orang tua menjadi sedemikian sentral dalam kepemimpinan dan pendidikan keluarga khususnya dalam membangun karakter bangsa.

Perubahan yang terjadi saat ini menuntut orangtua untuk lebih kreatif dan selalu mau belajar dalam rangka pemilihan pendekatan yang tepat dalam membersamai anak dalam perkembangannya. Orangtua harus dapat memainkan perannya sebagai pemimpin dalam keluarga, pendidik dan pengasuh ketika membersamai anak di rumah dan partner anak di masa-masa tertentu. Ini hanya bisa tercapai dengan adanya keseimbangan antara brain dan heart.

Sinergi aspek 3C Profesor Rosabeth Moss Kanter dan 2C Profesor Djamaluddin Ancok menjadi dimensi penting dalam membangun sumberdaya manusia Indonesia. Sementara keterlibatan keluarga dan pendidikan yang mengikutsertakan heart dalam utilisasi brain menjadi prioritas penting sekaligus tahapan yang sangat mendasar dalam membangun SDM Indonesia yang berkarakter, yang di masa depan mampu. Insya Allah pengembangan manajemen SDM Indonesia dapat memperkuat keunggulan kompetitif bangsa.

Penulis adalah Assistant Professor Ilmu Manajemen SDM Universitas Islam Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close