Konservasi Energi Positif Kepemimpinan: Dari Keluarga Untuk Bangsa

prof. heru
Mari membangun bangsa dengan merawat dan melestarikan energi positif untuk menumbuhkan kepemimpinan, dimulai dari keluarga.
Oleh: Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono, SE, M.M

Pagi ini saya memberi kultum subuh. Sengaja saya menyampaikan kultum tidak on line, karena saya menyampaikan bagi istri dan ketiga anak saya di ruang shalat tidak permanen pada salah satu sudut ruang keluarga. Ini adalah pengalaman pertama melakukan semua ibadah Ramadhan di rumah nyaris tanpa diwarnai aktifitas di masjid. Hal ini menyikapi suasana pandemi Covid-19 yang menyebabkan umat manusia sangat membatasi aktifitas di luar rumah mereka. Namun demikian kebahagiaan adalah sebuah keputusan dalam menjalani Ramadhan di dalam keluarga dalam situasi apapun.

Berangkat dari pertanyaan anak saya yang sedang studi di jurusan Teknologi Industri Pertanian UGM yang menanyakan bahwa apakah Allah sudah memilih pemimpin? Saya merespon sekaligus mengingatkan diri saya sendiri dan keluarga saya tentang musibah pandemi Covid-19 yang dialami umat manusia. Dalam surat Al Insyirah ayat 5: Fa innama ‘al ‘usri yusraa, “maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. Hal ini menunjukkan bahwa manusia diberi kesempatan untuk membuat keputusan untuk mengakses kesulitan itu berlarut larut (tidak move on) ataukah memilih opsi kemudahan. Ini adalah diskresi luar biasa yang diberikan Allah SWT untuk setiap manusia sebagai sosok pemimpin. Kemudian saya mendefinisikan bahwa sosok pemimpin adalah sosok berenergi positif yang mempengaruhi orang lain dengan energi positifnya untuk mencapai tujuan kebaikan melampaui kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Berangkat dari definisi pemimpin yang saya sampaikan pada kultum saya maka sosok pemimpin seharusnya berpikir tidak hanya dengan brain namun juga dengan hati (heart). Pemimpin yang juga berpikir dengan hati selalu menjadikan produk-produk pikirannya yang bersifat tentatif dikomunikasikan pada kebenaran hati. Pemimpin itulah yang selalu merasakan getaran cinta dengan Allah SWT dan menjadikan dirinya rahmat bagi pribadi, keluarga dan lingkungan karena sebaik baik kita adalah yang paling bermanfaat buat lingkungan. Terakhir, sosok pemimpin tersebut menjadikan dirinya pembelajar yang siap mendengarkan suara Tuhan melalui pesan-pesan dalam kehidupan. Kehidupan ini adalah universitas untuk terus memperbaiki diri agar dirinya dan umat mencapai derajat husnul khotimah.

Sebagai penutup saya menyampaikan pada istri dan anak-anak saya untuk bersyukur pada setiap tarikan nafas agar rahmatNya senantiasa memenuhi ruang pikir dan relung hati. Lahir mimpi besar dari sudut ruang kecil pada rumah kami untuk melahirkan pemimpin-pemimpin dengan energi positif besar yang mengubah lingkungan menjadi lebih baik. Para pemimpin inilah sosok penyala cahaya bagi lingkungan mereka. Oleh karena itu menjadi pemimpin dimulai dari kebiasaan bersyukur membangun energi positif. Allah SWT berfirman bahwa mereka yang bersyukur akan semakin melipatgandakan rahmatNya. Mereka selalu membersihkan hati, menjernihkan pikiran lalu menjadikan sikap dan perilaku mereka menjadi catatan sejarah kebaikan. Mereka mulai membangun bangsa dari keluarga. Mari kita konservasi (rawat dan lestarikan) energi positif kita untuk tetap menumbuhkan kepemimpinan berenergi positif. Konservasi energi positif bagi bangsa ini dimulai dari keluarga.

Penulis: Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen mengajar di UMY, UII dan UGM/Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan

Sumber Foto: Facebook Heru Kurnianto Tjahjono

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020