23.1 C
Yogyakarta
23 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Krisis Oksigen

Dengan jumlah orang yang kini terkena virus COVID-19 dunia yang kian hari kian bertambah, kini permasalahan besar lainnya muncul, tidak cukupnya oksigen medis. Dengan jumlah korban COVID-19 dunia yang kini hampir mencapai 10 juta, banyak negara mengalami kekurangan konsentrator oksigen, menurut Organisasi Kesehatan Dunia.

Oksigen Langka

Salah satu cara yang efektif untuk menyelamatkan hidup mereka yang terkena adalah menyediakan oksigen bagi yang membutuhkannya. Namun kini permintaan akan oksigen telah melebihi pasokan yang tersedia.

Pandemi virus COVID-19 kini telah mencapai angka hampir 10 juta orang dan menewaskan lebih dari hampir setengah juta orang di seluruh dunia dengan peningkatan jumlah kasus sekitar 1 juta kasus per minggu. Kondisi Ini telah mendorong permintaan oksigen menjadi 88.000 silinder besar oksigen per hari, atau 620.000 meter kubik oksigen, menurut WHO.

Peningkatan jumlah yang terus bertambah dan tidak diduga telah menyebabkan kelangkaan konsentrator oksigen yang dibutuhkan untuk membantu pernapasan pasien COVID-19 yang menderita gangguan oleh karenanya. Bagi banyak pasien yang sakit parah, hipoksia – kadar oksigen dalam darah yang sangat rendah – kondisi ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kegagalan organ dan berujung kematian. Hanya oksigen murni dalam jumlah besar yang dapat memberikan waktu untuk pulih.

WHO telah membeli 14.000 konsentrator oksigen dan berencana mengirimnya ke 120 negara.

Kini perkiraan luas menunjukkan setidaknya setengah dari populasi dunia tidak memiliki akses ke oksigen medis. Melihat hal ini WHO telah membeli 14.000 konsentrator oksigen dan berencana mengirimnya ke 120 negara dalam beberapa minggu mendatang. 170.000 konsentrator selanjutnya akan berpotensi tersedia selama enam bulan ke depan.

Beberapa perusahaan mendominasi 80 persen pasar oksigen medis global, dan di sebagian besar negara, komoditas itu mahal dan sulit didapat, menyoroti ketidaksetaraan yang mematikan baik antara maupun di dalam negara.

Hingga kini belum ada penelitian global yang ditujukan untuk menunjukkan berapa banyak orang yang kekurangan pengobatan oksigen. Tetapi perkiraan luas menunjukkan setidaknya setengah dari populasi dunia tidak memiliki akses ke sana.

Di negara-negara kaya seperti Eropa dan Amerika Utara, rumah sakit memperlakukan terapi oksigen sebagai kebutuhan mendasar. Ini dikirim dalam bentuk cair oleh truk tangki dan disalurkan langsung ke tempat tidur pasien COVID-19. Dengan keadaan seperti ini rasanya aneh ketika dikatakan kita kehabisan sumber daya yang bisa ditarik dari udara.

Di Spanyol, ketika kematian akibat virus COVID-19 meningkat, para insinyur meletakkan tabung sepanjang tujuh kilometer dalam waktu kurang dari seminggu untuk memberikan pasokan oksigen murni langsung pada 1.500 tempat tidur di rumah sakit dadakan. Tetapi di Kongo, hanya 2 persen dari fasilitas perawatan kesehatan yang memiliki oksigen; di Tanzania, 8 persen, dan di Bangladesh, 7 persen, menurut survei terbatas untuk USAID. Sebagian besar negara bahkan tidak pernah disurvei.

Di Bangladesh, kurangnya sistem terpusat untuk pengiriman oksigen ke rumah sakit telah menyebabkan pasar yang berkembang dalam penjualan silinder pribadi ke rumah-rumah. Pengadilan telah menghukum sekitar selusin orang karena menjual dan menimbun tabung oksigen yang tidak sah, seringkali dengan harga yang sangat mahal.

Menambah Jumlah Oksigen

Hingga 2017, oksigen bahkan tidak ada dalam daftar obat esensial WHO, seakan hilang dalam agenda global selama beberapa dekade. Artinya sedikit jumlah sumbangan dana dan tekanan pada pemerintah negara-negara untuk berinvestasi untuk pengetahuan oksigen, akses atau infrastrukturnya.

Di Peru, di mana kasus-kasus meningkat dengan cepat, Presiden sekarang telah memerintahkan pabrik-pabrik industri untuk meningkatkan produksi guna penggunaan medis atau membeli oksigen dari luar negeri. Dia mengalokasikan sekitar 28 juta US dollar untuk tangki oksigen dan pabrik baru.

Masalah ini mendapat lebih banyak perhatian setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson selamat dari serangan COVID-19, mengkredit pemulihannya ke Layanan Kesehatan Nasional dan “berliter-liter oksigen”. (disadur dari situs Sydney Morning Herald/smh)

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA