Ditulis oleh 9:25 am KALAM

Kromo Ngepot

Mungkin karena nasib percintaan Kromo amat mirip dengan lirik lagu yang dinyanyikannya, sehingga tanpa terasa mengalir butiran air mata di pipi karena penghayatan yang maksimal.

Namanya Kromo Ngepot, nama asli Jawa yang identik dengan semua ciri khasnya. Mulai dari suka pada makanan dan minuman yang serba manis, makanan bersantan kental yang kalau semakin sering di panasi rasanya akan semakin enak. “Soyo kerep le ngengeti soyo mak nyus” celoteh Kromo pada suatu jamuan pertemuan antar teman di alun-alun kota. Untuk urusan pakaian selain selalu menggunakan surjan (pakaian keseharian Jawa). Kromo Ngepot tidak pernah absen menggunakan blangkon (topi khas Jawa) seakan telah menjadi topi kebesarannya yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi.

Tentu bukan hanya masalah makanan dan pakaian kita bisa mengidentifikasi Kromo Ngepot sebagai orang Jawa tulen. Akan sangat kentara ketika kita mendengar Kromo Ngepot berbicara dengan logat boso Jowo yang medok maka kita akan bisa menyatakan bahwa Kromo Ngepot adalah orang Jawa asli 100%, bukan blasteran apalagi imitasi. Ketika ngomong medok, Kromo seperti orang berkendara yang ngepot sana ngepot sini sehingga istilah ngepot kemudian disematkan teman-temannya menambah nama Kromo menjadi lengkap.

Kromo juga selalu mendengarkan lagu berbahasa Jawa, apalagi jika penyanyinya adalah Sang Lord. Begitu julukan penyanyi pujaan Kromo yang terkenal seantero nusantara bahkan mancanegara. Lirik demi lirik mengalir dari mulut Kromo yang fasih mendendangkan lagu putus cinta dalam bahasa Jawa tersebut. Mungkin karena nasib percintaan Kromo amat mirip dengan lirik lagu yang dinyanyikannya, sehingga tanpa terasa mengalir butiran air mata di pipi karena penghayatan yang maksimal.

*****

Suatu hari Kromo mengajakku menonton konser penyanyi pujaannya di stadion sepak bola terbesar di kotaku.Aku mengiyakan saja karena kebetulan sedang tidak ada kerjaan. Sesampai di stadion aku sempat miris juga melihat kerumunan manusia yang begitu banyaknya menyemut mulai dari loket pembelian tiket sampai di depan panggung yang besar dalam stadion. Tata lampu yang megah dan sound yang menggelegar menambah apik konser pertunjukan Sang Lord malam itu.

Lebih mengherankan lagi penonton yang begitu banyak pada malam itu didominasi oleh kawula muda generasi mileneal yang hafal luar kepala lirik lagu yang dibawakan Sang Lord dengan boso Jowo. Ekspresi mereka persis seperti Kromo saat menyanyikan lagu boso Jowo itu dengan sangat emosional. Mereka bergoyang dan berjoget menggerakkan seluruh anggota tubuh tanpa kenal lelah persis seperti orang kesurupan. Padahal lagunya adalah lagu sedih orang patah hati lah koq malah joget habis sampai tamat.

Interaksi Sang Lord dengan penontonnya pun tidak kalah heboh dengan berbagai candaan yang penuh kesedihan karena patah hati berkeping-keping. Sang Lord sudah menguasai jiwa dan raga penonton. Dia menyihir penikmatnya dengan mantra-mantra lagu berbahasa Jawa medok.

*****

Dulunya banyak orang yang mempercayai stigma buruk bahasa Jawa. Boso Jowo itu bahasanya orang kampung, udik dan ndeso. Wong Jowo itu kampungan, apalagi kalau mereka sudah bicara dengan logat medoknya. Kromo Ngepot adalah orang yang selalu melawan stigma buruk tersebut dengan terus ngomong dengan boso Jowo yang medok tanpa perduli dianggap kampungan. Baginya bahasa Jawa adalah bahasa yang canggih dan lengkap. Ada strata dalam bahasa Jawa yang menyebabkan bagaimana seorang anak berbicara kepada orang tuanya berbeda dengan ketika dia berbicara kepada temannya. Budaya Jawa secara keseluruhan adalah budaya yang telah berumur ribuan tahun sehingga tidak mengherankan sudah menjadi tradisi yang mendarah daging bagi para penduduk asli.

Melihat pertunjukan malam itu sirnalah semua stigma buruk tentang boso dan wong Jowo yang kampungan. Generasi mileneal tidak malu menyanyikan lagu boso Jowo dengan fasih, mereka bernyanyi bersama dengan Sang Lord dari awal sampai akhir, mereka bangga dan menikmatinya. Konser seperti malam ini sudah dilakukan hampir ke seluruh pelosok negeri bahkan sudah menembus batas negara ke seluruh penjuru dunia. Semua antusias bernyanyi dengan boso jowo medok, semua berjoget dalam kesedihan patah hati yang tak berujung.

*****

Kemarin malam aku mendapat berita dari Kromo Ngepot kalau penyanyi idolanya menghembuskan nafas terakhir dengan amat mendadak. Betapa hancur hati Kromo Ngepot dan jutaan penggemar fanatik Sang Lord seakan tidak percaya pelantun lagu boso Jowo pujaan mereka telah tiada. Seluruh negeri berduka bahkan seluruh negara di penjuru dunia turut besedih dan menangis.

Keesokan harinya aku mendengar siaran radio kesukaanku dengan boso Jowo medok tidak seperti biasanya. Aku coba untuk mengganti saluran radio lain, sia-sia saja karena semua jaringan radio yang ada menyiarkan acara mereka dengan boso Jowo medok. Tidak percaya dengan apa yang kudengar kucoba nyalakan TV, sama saja. Ternyata semua chanel TV yang ada baik dalam dan luar negeri menyiarkan berita duka kepergian Sang Lord dengan boso Jowo medok, penyiar bulenya juga berbahasa Jowo medok. Terakhir ku coba membaca koran dan media online yang akupun sudah tidak mampu membacanya lagi karena semua tulisannya sudah berubah menjadi aksara Jawa ………

Jogjakarta, 17 Mei 2020

#tributetodidikempot
#teruslawancovid19
#putuspenyebarancovid19
#stayathome#Prayathome#workathome

(Visited 31 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 27 Mei 2020
Close