23 C
Yogyakarta
20 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Kunci Kebahagiaan Hidup : Qalbun Syakirun

Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si.

Qalbun syakirun dapat diartikan sebagai  hati yang senantiasa  bersyukur. Dalam arti luas,  diartikan selalu menerima dengan rasa bersyukur apapun yang telah Allah SWT berikan kepada kita dengan penuh keikhlasan.  Hati manusia  dinamakan qalbun karena cepat dan dahsyatnya mengalami pergolakan atau berbolak-balik dan senantiasa terombang-ambing dalam setiap kondisi dan keadaan.

Sabda Rasulullah Muhammad SAW :  “Sesungguhnya dinamakan qalbun karena gampang berbolak-balik. Sesungguhnya perumpamaan hati adalah seperti bulu yang tergantung di atas pohon yang dapat dibolak-balikkan hembusan angin, ke kiri dan ke kanan”. (HR. Ahmad).

Sedangkan kata syukur terambil dari mashdar kata kerja syakaro – yasykuru- syukron. Kata syakaro  diartikan dengan membuka, yang merupakan lawan dari kata kafara/kufur yang diartikan dengan menutup  atau melupakan nikmat serta  menutup-nutupi kenikmatan itu. Contoh dari sikap membuka atau menampakkan nikmat Allah SWT antara lain dalam bentuk memberi sebagian dari nikmat itu kepada orang lain, teristimewa di saat Pandemi Covid-19 masih sangat mengkhawatirkan, sedangkan menutupinya adalah dengan bersifat kikir atau pelit kepada orang lain.

Banyak orang yang lupa jika sebenarnya hati adalah pengendali dirinya.  Karena sebenarnya karena  hati lah seseorang  merasakan hidupnya bahagia, terharu, sedih, cemburu, gelisah, dan berbagai perasaan lain. Al-Quran banyak menegaskan pentingnya bersyukur pada segala nikmat yang telah Allah SWT berikan kepadanya. Firman Allah SWT: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu menginkari (nikmat)-Ku”.  (QS Al-Baqarah, 2 :152).

Pada ayat ini, ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam kehidupan orang yang beriman, yaitu untuk senantiasa mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya,  dan tidak mengingkari berbagai  nikmat-Nya. Qalbun syakirun muncul karena kesadaran kita akan banyaknya karunia Allah yang telah diberikan, dan tidak mungkin dapat mengghitungnya. Firman Allah SWT : “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.  Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS An-Nahl, 16 : 18).

Sebagai orang yang beriman, kita kadang-kadang juga lupa tentang bagaimana  caranya bersyukur kepada-Nya.  Padahal Allah SWT telah menyatakan bahwasanya tidak ada nikmat yang bisa kita dustakan dengan firman-Nya : “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman, 55  : 13).

Dalam ayat lain Allah SWT mengingatkan kita semua dengan tegas untuk bersyukur dan tidak mengingkari nikmatnya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim, 14 : 7). Dari ayat ini  kita bisa melihat betapa indahnya Islam dan Allah Yang Maha Pengasih,  di saat kita sudah merasa bersyukur maka Allah menambahkan nikmat untuk kita. Namun dalam ayat yang sama juga terdapat peringatan yang tegas, yaitu ketika seseorang mengingkari nikmat Allah, maka yang diterimanya adalah Azab yang pedih. Nauzubillah summa nauzubillah.

Sungguh beruntunglah setiap orang yang mempunyai hati yang selalu bersyukur. Musibah sebesar  apapun jika  ikhlas menerimanya, insya Allah akan menjadi penghapus dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Kesedihan dan kesenangan adalah ujian, apapun yang kita alami di dunia ini adalah ujian. Tinggal siapa dari kita yang ikhlas menghadapi semua ujian ini, dengan tetap beramal shaleh, berbuat kebaikan terhadap sesama dan selalu mengedepankan qalbun syakirun (hati yang selalu bersyukur).

Firman Allah SWT : “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS Al-Mulk, 67 : 2).  Semoga dengan  munculnya wabah Covid-19 ini menjadikan kita untuk mampu memperbaiki diri dari sifat yang kurang bersyukur menjadi senantiasa bersyukur dan mengingat Allah setiap saat dan kesempatan. Aamiin.

Penulis adalah Dosen Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga


“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.  Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS An-Nahl, 16 : 18).


Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA