Laba-laba yang Mendengar dengan Kaki

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilmuwan telah lama menduga bahwa laba-laba memiliki suatu cara agar dapat mendengar mangsa yang mendekat dan memungkinkan mereka menangkapnya di udara.

Laba-laba memiliki banyak cara untuk menangkap mangsa, mulai dari menggunakan perangkap jaring hingga melompat untuk menyergap mangsa mereka. Satu laba-laba, laba-laba ogre-faced memiliki cara yang unik untuk menangkap mangsa. Mereka bergelantungan dengan benang jaring mereka, dan mereka akan melompat balik untuk menangkap mangsa, yaitu serangga terbang, di udara. Hal tersebut sangat mengagumkan, namun terdapat pertanyaan, bagaimana laba-laba tersebut dapat mendengar datangnya mangsa? Jawabannya mungkin akan mengejutkan. Laba-laba ini mendengar dengan kakinya.

Berdasarkan studi terbaru, organ tersebut berada di dekat ujung setiap kaki laba-laba, masing-masing panjangnya antara 0.0000003 dan 0.000007 inci (10-200 nanometer). Organ ini mengandung sel saraf yang mendeteksi perubahan tekanan setiap menitnya yang disebakan gelombang suara yang bergerak melalui udara. Organ tersebut kemudian megirimkan sinyal tersebut menuju otak dan memberi tahu laba-laba bila terdapat mangsa.

Laba-laba ogre-faced (Deinopis spinosa) dapat mendengar suara hingga 2 meter jauhnya dan menangkap getaran antara 100 hingga 10,000 hertz. Untuk perbandingan, manusia dapat mendengar suara antara 20 hingga 20,000 hertz.

Manusia tentunya membutuhkan gendang telinga untuk dapat menangkap suara, sedangkan laba-laba tidak memilikinya. Hal inilah yang membuat para ilmuwan bingung dengan adanya sistem sensor semacam ini. Ilmuwan telah lama menduga bahwa laba-laba memiliki suatu cara agar dapat mendengar mangsa yang mendekat dan memungkinkan mereka menangkapnya di udara. Studi baru yang dilakukan para ilmuwan ini mendukung dugaan tersebut.

Menurut penulis studi, laba-laba tersebut akan melompat balik jika terdapat suara tertentu, yang seakan secara instan membuat laba-laba bereaksi dan melakukan lompatan ke belakang untuk menangkap mangsa. Laba-laba ogre-faced ini hidup di area hutan di Australia, Afrika dan Amerika Serikat. Laba-laba ini berukuran 1.5-2.5 cm dan biasa bersembunyi dedaunan palem dan tumbuhan lainnya dan memangsa serangga seperti ngengat dan nyamuk yang bergerak dengan cepat.

Ilmuwan terkagum-kagum dengan kemampuan laba-laba ini yang dapat secara akurat dan cepat menangkap mangsanya saat mereka terbang. Namun demikian, secara umum, laba-laba ini lebih dikenal untuk penglihatan mereka daripada pendengaran mereka, oleh karena laba-laba ini memiliki mata terbesar bila dibandingkan dengan laba-laba yang lain.

Pada siang hari laba-laba ini bersembunyi dari pemangsanya dan mulai berburu pada malam hari dengan menggunakan matanya untuk mendeteksi mangsa. Untuk menangkap mangsa di tanah laba-laba ini bergelantungan dengan jaringnya di dekat tanah dan mengikatkan jaringnya juga pada empat kaki depannya sebagai alat menyergap.

Laba-laba ini juga melakukan teknik ini ketika ingin menangkap mangsa di udara, namun mereka melompat ke belakang untuk menangkap mangsanya. Hal inilah yang membingungkan dan belum jelas untuk para ilmuwan, apakah penglihatan malam laba-laba ini juga digunakan untuk mendeteksi mangsa yang terbang di atasnya.

Para ilmuwan telah melakukan percobaan untuk mengetes teori tersebut dengan cara menutupi mata laba-laba dan melihat bagaimana laba-laba tersebut berburu. Hasilnya terlihat bahwa laba-laba tersebut tidak lagi berburu serangga di tanah, tapi tetap dapat berburu serangga yang ada di udara. Hal ini menyebabkan para ilmuwan berspekulasi bahwa laba-laba ogre-faced ini menggunakan cara lain untuk menangkap mangsa di udara.

Dengan studi terbaru, ditemukan bahwa terdapat suara tertentu yang dapat memicu reaksi dari laba-laba untuk melakukan gerakan melompat “salto” nya. Suara yang memicu reaksi tersebut berfrekuensi rendah diantara 150 Hz dan 750 Hz, yang dimana suara ini serupa dengan suara kepakan sayap dari berbagai serangga terbang.

Untuk suara berfrekuensi tinggi, laba-laba tersebut tidak menunjukkan reaksi seperti pada suara berfrekuensi rendah. Namun demikian, ditemukan bahwa dalam otak mereka terdapat bagian yang menangkap suara berfrekuensi tinggi, tepatnya 1,000 Hz and 10,000 Hz. Para peneliti berpendapat bahwa karena serangga tidak mengeluarkan frekuensi tingkat tinggi, maka kemungkinan laba-laba mendengarkan suara berfrekuensi tinggi dari burung pemangsa, layaknya sistem peringatan.

Selain itu studi juga menemukan bahwa laba-laba tersebut tidak memerlukan frekuensi suara untuk menangkap mangsa di tanah, membuktikan bahwa laba-laba tersebut memang menggunakan penglihatannya untuk berburu serangga di tanah dan tidak menggunakan pendengaran.

Studi mengenai pendengaran laba-laba ini memang tergolong sebuah studi yang baru, namun peneliti telah mencatat bahwa terdapat juga laba-laba lain yang dapat juga mendengar suara. Sebagai contoh laba-laba pelompat merasakan dan merespon terhadap suara yang berjarak 3 meter jauhnya. Laba-laba ini menggunakan bulu yang sensitif terhadap tekanan yang merespon pergerakan partikel udara di sekitar mereka dan juga mereka diketahui memiliki organ sensor yang sama seperti laba-laba ogre-face, yang juga memiliki bulu sensitif layaknya laba-laba pelompat.

Penemuan ini tentu memberikan pengetahuan lebih sekaligus tambahan pertanyaan seperti bagaimana laba-laba ini membedakan arah suara, dapatkah mereka menangkap suara datangnya predator lain selain burung, seperti misalnya kelelawar, dan masih banyak lagi.

Sumber:
Situs livescience

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti