Local Genius Budaya Jawa untuk Penanaman Nilai-Nilai Moralitas Bangsa

genius
Pikiran dan rasa Jawa itulah yang bercampur manis sehingga membuat orang Jawa lebih bijak, termasuk dalam hal menyampaikan nilai-nilai moral kepada generasi berikutnya.

Local Genius orang Jawa adalah sebuah pilar pemikiran orang Jawa yang hebat, yakni sebuah pemikiran yang didasarkan pada watak tradisi. Karena orang Jawa tak sekadar mengembangkan pemikiran dalam hidup, local genius tersebut telah berbaur dengan rasa.

Pikiran dan rasa Jawa itulah yang bercampur manis sehingga membuat orang Jawa lebih bijak, termasuk dalam hal menyampaikan nilai-nilai moral kepada generasi berikutnya. Dan modal yang seperti ini akan memberikan konstribusi yang sangat besar bagi penanaman nilai-nilai moralitas dan watak bangsa yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bangsa sekarang ini.

1. Paribasan, Bebasan, lan Saloka

  • Adigang, adigung, adiguna, artinya orang yang hanya mengandalkan kekuatan, kekuasaan (kebesaran) dan kepandaian.
  • Aji godhong garing, artinya sesuatu barang yang tidak berharga sama sekali.
  • Arep jamure emoh matange, artinya mau enaknya tidak mau resikonya.
  • Bathok bolu isi madu, artinya orang yang tidak berpangkat tetapi memiliki kepandaian.
  • Becik ketitik ala ketara, artinya orang yang baik akan ketahuan, orang yang jelek juga akan ketahuan.
  • Beras wutah arang mulih marang takere, artinya segala sesuatu yang sudah berubah jarang bisa kembali seperti semula.
  • Ojo cedhak kebo gupak, artinya kalau dekat dengan orang yang melakukan kejelekan, pasti akan tersangkut dengan kejelekan itu.
  • Blilu tau, pinter durung nglakoni, artinya orang yang bodoh tetapi sering mencoba akan lebih berhasil daripada orang yang pandai tetapi belum pernah mencoba.
  • Cuplak andheng-andheng ora prenah panggonane, artinya orang yang selalu berbuat onar sebaiknya diasingkan saja.
  • Didhadunga medhot, dipalangana mlumpat, artinya orang yang sudah punya kemauan yang besar, tidak dapat dicegah.

2. Tembang Macapat : Pesan Moral yang Menyenangkan

Nama-nama tembang Macapat yang sebelas memberikan tuntunan atau ajakan berperilaku yang baik.

  • Mijil yang berarti ”keluar” terkandung faktor-faktor waku, tempat dan keadaan, maka dalam menyampaikan nasehat atau ”tutur” dengan orang lain harus mengingat faktor-faktor : (1) waktu yang sesuai, (2) tempat yang berarti ”empan papan” dimana menyampaikan sesuatu haruslah memilih tempat yang sesuai. (3) keadaan orang yang menerima nasehat, umurnya, tingkat pengetahuannya, golongannya, dan sebagainya. Konon, Mijil disusun oleh Sunan Gunung Jati atau Feletehan atau Fatahilah di Cirebon dan Banten. Mijil artinya keluar, yang mengandung makna jangan asal bicara saja. Dalam arti lain, orang juga harus siap untuk mengeluarkan sesuatu bagi orang lain (berderma).
  • Pangkur yang berasal dari kata ”nyimpang lan mungkur”, artinya dalam hidup ini jangan sampai menyimpang dari perintah agama, namun simpangilah serta tinggalkanlah kejahatan. Tembang Pangkur dikarang oleh Sunan Muria yang teguh sekali dalam memegang dan melaksanakan perintah agama.
  • Kinanthi yang berasal dari ”kanthi” diberi sisipan ”in” menjadi ”Kinanthi”, yang artinya dikanthi, digandeng, disertai, ditemani. Terutama orang-orang yang masih ”buta” dari tuntunan agama, harus ditemani untuk dituntun menuju kepada hidup beragama yang lebih baik. Dalam mengajak kepada kebaikan hendaknya banyak berusaha untuk mencari teman baru, tidak mengadakan permusuhan. Tembang Kinanthi dikarang oleh Sunan Giri, guru dari Sunan Kalijaga.
  • Dhandhanggula, yang berasal dari kata ”dhandhang” dan ”gula” yang berarti pengharapan yang manis dalam hidup ini. Ajakan kepada kebaikan haruslah disampaikan dengan enak dan menyenangkan , karena yakin dan percaya akan Kebijaksanaan, Kemurahan, Keagungan, Kekayaan, Keadilan dari Allah, Tuhan Semesta Alam ini. Dhandhanggula ini disusun oleh Sunan Kalijaga.
  • Sinom, yang berarti daun muda ”pupus” (daun muda) pohon asam atau rambut halus di atas dahi wanita, yang mengandung arti bahwa ajakan kebaikan dengan cara yang menggembirakan akan meresapkan rasa keagamaan, yang merupakan hiasan bagi hidup manusia dan menjadikan manusia yang penuh harapan (optimis) dan tampak awet muda, karena bersih lahir batin. Tembang Sinom disusun oleh Sunan Giri.
  • Asmaradana, yang berasal dari kata ”asmara” dan ”dana” yang artinya suka memberi. Ajakan kebaikan yang berhasil dapat menjadikan manusia yang suka memberi atau suka mengeluarkan infak, derma dan sadakah, suka menolong sesama, tanpa pamrih. Disusun oleh Sunan Giri.
  • Megatruh yang berasal dari kata ”megat” dan ”ruh”, yang berarti memisahkan roh dari pemikiran yang tidak baik atau menahan hawa nafsu. Ajaran agama pada dasarnya membawakan keimanan untuk menjalankan ibadah dengan menjauhkan hawa nafsu, berbuat baik dengan mentaati perintah Sang Pencipta dan menjauhi kejahatan serta menghindari larangan-larangan Allah dan menjauhi iblis. Disusun oleh Sunan Giri.
  • Durma, yang berasal dari kata ”dur” dan ”ma” yang artinya mundur saka M5 atau menjauhi dari maksiat yang lima, yakni : (1) madon = berzina; pelanggaran dalam hal ini sangat mengacaukan kehidupan masyarakat, (2) minum = minuman keras, yang akibatnya merusak kesehatan lahir batin, keturunan, masyarakat dan rumah tangga, (3) madat = menghisap obat yang memabukkan, membuat orang tidak ingat : mariyuana, morfin, candu, mirasantika, yang sangat merusak kesehatan lahir batin. Akibatnya merusak perekonomian perseorangan dan masyarakat, (4) main = berjudi, mengadu untung, dan (5) maling = mencuri (termasuk didalamnya menggelapkan, korupsi, menipu, memeras dengan riba). Durma disusun oleh Sunan Bonang (baboning kemenangan) putrera dari Sunan Ampel.
  • Maskumambang, yang berasal dari ”emas” lan ”kumambang” (emas yang terapung), maknanya karena ajaran agama itu indah dan baik, sekalipun berat, asal ada jiwa mengabdi kepada-Nya, aka semua itu akan menjadi ringan. Emas adalah logam mulia yang paling berat dan paling baik. Maskumambang disusun oleh Sunan Maja Agung.
  • Pucung = mati (”dipocong” = dibungkus mori putih, luar dan dalam suci), atau puncak (sudah yang tertinggi; sudah habis). Maknanya : ajaran agama menuju kepada kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat, kesempurnaan dalam arti kebahagiaan. Pucung dikarang oleh Sunan Gunung Jati.
  • Gambuh = ”sak madya”, artinya orang dalam hidup supaya apa adanya. Sadarlah akan posisi kita masing-masing, jangan terkena penyakit ”lali” = lupa. ”Gambuhke olehe dadi menungsa”.

3. Nasehat dengan ”Tembang Dolanan”

a. Tembang ”Sluku-sluku Bathok”

Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si rama menyang Solo
Oleh-olehe payung motha
Mak jenthit loloba
Wong mati ora obah
Nek obah medeni bocah
Nek urip goleko dhuwit

Untuk menjaga kesucian batin (hati), Sunan Kalijaga menciptakan syair berjudul Sluku-sluku Bathok. Syair itu, mungkin awalnya Bahasa Arab. Karena, di zaman wali masih jarang yang mampu mengucapkan bahasa Arab, gubahan lagu ini menjadi bernada Jawa. Padahal, kalau dirunut, sluku-sluku bathok dari bahasa Arab ”ghusluk-ghusluk batnaka”, artinya : bersihkanlah perutmu atau batinmu. Sucikanlah hatimu. Pembersihan ini dengan jalan kalimat tauhid bathoke ela-elo(”batnaka laa ilaha illallah”) – yaitu dengan menyebut ”tiada Tuhan selain Allah”. Tidak cukup itu, manusia, manusia juga harus si rama menyang solo (”siruma yasluka”). Kata siruma menunjuk kepada Nabi Muhammad saw, yasluka bisa berasal dari salaka (berjalanlah) – yaitu pada ’jalan’ yang dilalui siruma, Nabi Muhammad saw. Maksudnya, harus percaya dan ’ittiba’ pada ajaran Nabi.

Kalimah tauhid tersebut harus berlaku oleh-olehe payung motha (”laa ilaha illallah hayun wal mauta”). Artinya mengucapkan ”laa ilaha illallah” mulai lahir (hayun) sampai mati (mauta), agar mendapatkan khusnul khotimah. Dalam sufisme Jawa, konteks demikian akan dinamakan ”manusia sempurna”, manusia sejati. Kalimat oleh-olehe payung motha, tafsiran lain bisa juga perubahan dari lafal : ”laa haula wala quwwata illah billah”, maksudnya supaya banyak dzikir dan pasrah kepada Allah. Tidak ada kekuatan lain, keculai dari Allah swt.

Manusia juga belum dapat dikatakan sempurna seratus persen, jika belum disertai kalimat mak jenthit loloba, dari ”mandzolik muqarrabah”. Kata mandzolik bisa berasal dari kata mudzalika, artinya berhati-hati agar tidak bertindak kesalahan. Boleh jadi juga, mak jenthit itu perubahan dari kata ”mukhasib”, maksudnya selalu menghitung-hitung kesalahan. Sadar diri. Sedangkan muqarrabah berarti selalu mawas diri, introspeksi atau self-evaluation. Sikap yang demikian yang dikehendaki dalam paham hidup orang Jawa disebut satriya pinandita – yakni orang yang mampu memayu hayuning bawana (menjaga keseimbangan, keselamatan dunia akhirat).

Orang yang telah mencapai derajat seperti itu, tak lain akan mencapai tingkatan makrifat kehidupan. Karena itu mereka selalu mengucap wong mati ora obah (”hayun wal mauta innalillah”) Maksudnya hidup dan mati itu hanya kepunyaan Allah. Manusia sudah digariskan oleh takdir Allah, terutama yang terkait dengan kematian, jodoh, dan wahyu. Manusia harus sadar akan sangkan paraning dumadi. Yakni tergambar dalam kalimat nek obah medeni bocah (”mahabatan mahrojuhu taubatan”). Artinya, mahabatan : senang kepada Alah agar dicintai Allah juga. Agar dikasihi Allah, manusia harus mahrojuhu mencari dalan padhang (berbuat kebaikan) dengan jalan ”taubatan” (bertobat).

Perlu diingat bahwa manusia bisa hidup itu karena ada ’yang menghidupi’. Seperti dalam kalimat nek urip goleka dhuwit (”yasrifu inna khalaqnal insana min dhofiq”). Maksudnya, manusia bisa mulia itu sebenarna diciptakan dari dhofiq (dari air mani-madi-manikem). Dengan mengingat sangkan paraning dumadi, diharapkan manusia tidak akan sombong di hadapan Allah maupun di hadapan sesama manusia.

Itulah sebabnya, manusia dalam menjalani hidupnya harus selalu memegang hakekat hidup. Hidup tidak harus selalu bersenang-senang. Hanya saja, hidup ini memang harus dijalani dengan perasaan senang. Senang yang berlebihan, akan membuat seseorang lupa diri. Yang penting, dengan mengetahui asal-usul kejadiannya, manusia akan semakin insyaf bahwa hidup harus dijalani dengan ibadah.

b. Tembang ”E Dhayohe Teka”

E dhayohe teko e gelarna klasa
E klasane bedhah
E tambalen jadah
E jadahe mambu e pakakna asu
E asune mati e buwangen kali
E kaline banjir e buwangen pinggir
E pinggire lunyu e yo golek sangu

Lagu ini memberikan gambaran terhadap umat Islam bahwa ’dhayoh’ idenik dengan tamu (bulan Ramadhan) sudah tiba. Marhaban Ya Ramadhan. Untuk itu umat Islam diharapkan dengan gembira menyambut bulan suci yang penuh barakah itu. Caranya yaitu dengan cara ’nggelar klasa’ (memasang tikar) yang suci, hati suci. Saat ini mulailah membersihkan /menjernihkan pikiran, perasaan dan keinginan. Agar jangan sampai hati kita ’bedhah’ (sobek) seperti tikar. Kendatipun hati terpaksa sobek, harus diusahakan dengan menambal dengan ’jadah’. Maksudnya, jadah adalah makanan yang berasal dari ketan, karenanya jangan sampai di bulan Ramadhan ini raket dengan setan. Dekatlah kepada Allah — dengan jalan mujahadah dan muhasabah.

Dhayoh dalam pandangan sufisme Jawa juga bermakna bayi yang baru lahir. Bayi itu bersih, suci, belum ternoda. Karena itu, penyambutan bulan Ramadhan juga diharapkan seperti halnya orang yang sedang mendapatkan anugerah kelahiran anak – gembira dan penuh pengharapan. Untuk itu, mereka laksanakan padusan, agar suci bersih. Perasaan senang, ridha, ikhlas, senantiasa menyertai dalam hati.

4. Pola Interaksi dalam Budaya Lokal Jawa

Bahasa Jawa baku merupakan bahasa Jawa yang digunakan di wilayah Yogyakarta dan Surakarta, bahasa Jawa yang digunakan di kedua wilayah ini dianggap sebagai bahasa Jawa baku oleh masyarakat bahasa Jawa pada umumnya. Ciri utama yang menandai bahasa Jawa baku adalah hadirnya seluruh ragam tutur ngoko, madya, krama dalam percakapan sehari-hari baik dalam situasi formal maupun informal.

Bahasa Jawa memiliki nilai sastra yang tinggi, serta struktur dan tata bahasa yang rumit. Untuk menerapkannya sangatlah tidak mudah apalagi bagi orang awam yang belum mengetahui bahasa Jawa sama sekali. Hal ini disebabkan penggunaannya bukanlah menurut waktu jenis lampau, sekarang, maupun waktu yang akan datang seperti layaknya bahasa Inggris yang memiliki tenses sehingga cukup mudah untuk dipelajari, melainkan menurut status orang yang berbicara dan dengan siapa ia berbicara. Menurut Bastomi bahasa Jawa memiliki pembagian tingkatan-tingkatan bahasa yang cukup rinci. Penempatan bahasa Jawa berbeda-beda sesuai pada perbedaan umur jabatan, derajat serta tingkat kekerabatan antara yang berbicara dengan yang diajak bicara, yang menunjukkan adanya ungah-ungguh bahasa Jawa.

Dialek baku bahasa Jawa, yaitu yang didasarkan pada dialek Jawa Tengah, terutama dari sekitar kota Surakarta dan Yogyakarta. Beberapa jenis bentuk ragam tutur dalam bahasa Jawa yang disebut juga unggah-ungguhing basa ini dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu (1) bahasa ngoko (ngoko lugu, ngoko alus), (2) bahasa madya (madya ngoko, madya krama), (3) bahasa krama (krama andhap, krama inggil).

1. Bahasa Jawa Ngoko

Ragam bahasa Jawa ngoko digunakan untuk penutur dan mitratutur yang mempunyai kedudukan yang akrab atau kedudukan penutur lebih tinggi daripada mitratutur. Bahasa Jawa ngoko sering digunakan oleh orang yang usianya sebaya maupun oleh orang-orang yang sudah akrab. Bahasa ngoko ini dibagi atas ngoko lugu,dan ngoko alusNgoko lugu digunakan untuk menyatakan orang pertama. Ngoko alus digunakan oleh orang pertama dengan lawan bicaranya yang sebaya atau yang sudah akrab, bahasa ini santai namun sopan.

Contoh:

Ngoko lugu:
Mas Totok nggawekake Dik Darno layangan.
Mas Totok membuatkan Dik Darno layangan

Ngoko alus:
Pak guru basa Jawa sing anyar iku asmane sapa?
Pak guru bahasa Jawa yang baru itu namanya siapa?

b. Bahasa Jawa Madya

Ragam bahasa Jawa madya menunjukkan tingkat tataran menengah yang terletak di antara ragam ngoko dan krama. Bahasa madya biasanya digunakan terhadap teman sendiri.

Bahasa Jawa Krama

Ragam bahasa Jawa krama digunakan untuk menunjukkan adanya penghormatan kepada mitratutur yang mempunyai kedudukan atau kekuasaan yang lebih tinggi daripada penutur. Bahasa Jawa krama ini digunakan orang sebagai tanda menghormati orang yang diajak bicara. Misalnya, anak muda dengan orang tua atau pegawai dengan atasannya. Tingkatan yang lebih tinggi dari krama yaitu krama inggilKrama inggil dianggap sebagai bahasa dengan nilai sopan santun yang sangat tinggi. Jarang sekali digunakan pada sesama usia muda. Bahasa krama dibagi menjadi krama andhap dan krama inggil.

Contoh:

Krama andhap:
Kula badhé késah sakmenika.
Saya mau pergi sekarang.

Krama inggil:
Panjenengan badhé tindak sakmenika?
Anda mau pergi sekarang?

Pembicara atau penutur menggunakan kata késah untuk mengacu pada tindakan yang dilakukannya, sedangkan kata tindak digunakan untuk mengacu tindakan yang dilakukan oleh kawan bicara yang dihormati atau memiliki status sosial yang lebih tinggi.

Penggunaan ragam ngoko, madya, dan krama didasarkan atas sikap penghormatan dan tingkat keakraban. Untuk dapat membedakan bentuk penggunaan bahasa Jawa lebih baik lagi dapat dilihat dalam contoh kalimat seperti berikut.

Saya akan makan dahulu.
Ngoko    : Aku arep mangan dhisik.
Madya   : Kula ajeng nedha riyin.
Krama    : Kula badhé nedha rumiyin.

Dalam bahasa Jawa untuk menyatakan diri sendiri dengan bahasa halus tidak menggunakan krama inggil tetapi menggunakan madya karena tidak mungkin seseorang menghormati dirinya sendiri. Jadi, penggunaan bahasa Jawa itu ditentukan oleh kedudukan dan tingkat usia. Adapun fungsi dari tingkat-tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa ini adalah:

  • Norma dan etika, yaitu digunakan untuk berkomunikasi di masyarakat atau dengan orang lain dengan melihat orang yang diajak bicara (lebih tua atau lebih muda).
  • Penghormatan dan keakraban, yaitu digunakan untuk menghormati orang yang diajak bicara supaya tidak dibilang tidak mempunyai tata krama dalam berbicara.
  • Pangkat dan status sosial, yaitu digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan melihat pangkat dan status sosialnya di dalam masyarakat tersebut.

5. Psikologi Kepemimpinan Jawa: Mawas Diri

Dalam Serat Negarakertagama, terdapat 15 sifat Patih Gadjah Mada yang patut diteladani oleh para pemimpin saat ini:

  • Wignya, artinya bijaksana dalam memerintah. Ia penuh hikmah dalam menghadapi berbagai kesukaran. Akhirnya dapat berhasil menciptakan ketenteraman.
  • Mantriwira, artinya pembela negara yang berani karena benar.
  • Wicaksaning naya, artinyabijaksana dalam sikap dan tindakan. Kebijaksanaannya selalu terpancar dalam setiap perhitungan dan tindakan, baik ketika menghadapi lawan maupun kawan, bangsawan maupun rakyat jelata.
  • Matanggwan, artinya memperoleh kepercayaan karena tanggung jawabnya yang besar sekali dan selalu menjunjung tinggi kepercayaan yang dilimpahkan di atas pundaknya.
  • Satya bhakti prabu, artinya bersikap setia dengan hati yang tulus ikhlas kepada negara serta pemimpin di atasnya.
  • Wagmi wak, artinya pandai berpidato dan berdiplomasi mempertahankan atau meyakinkan sesuatu.
  • Sarijawopasama, artinya berwatak rendah hati, berbudi pekerti baik, berhati emas, bermuka manis dan penyabar.
  • Dhirotsaha, artinya terus-menerus bekerja rajin dan sungguh-sungguh.
  • Tan lalana, artinya selalu tampak gembira di dalam hati dan perasaannya sedang gundah gulana.
  • Diwyacitta, artinya mau mendengarkan pendapat orang lain dan senantiasa bermusyawarah.
  • Tan satrisna, artinya tidak memiliki pamrih pribadi untuk menikmati kesenangan yang berisi girang dan birahi.
  • Sih-samasta-bhuwana, artinya menyayangi seluruh dunia sesuai dengan falsafah hidup bahwa segala yang ada di dunia ini adalah fana, bersifat sementara. Ia menghargai alam semesta sebagai rahmatan lil ’alamien.
  • Ginong pratidina, artinya selalu mengerjakan yang baik dan membuang yang buruk. Sikap amar ma’ruf nahi munkar.
  • Sumantri, artinya menjadi abdi negara yang senonoh dan sempurna kelakuannya.
  • Anayaken musuh, artinya bertindak memusnahkan musuh. Ia tak gentar menewaskan musuh, meskipun sebenarnya selalu menjalin kasih sayang kepada sesama negara.

6. Hati Nurani dan Rasa Jawa

Kepribadian dan kesucian hati orang Jawa selalu menyatukan tiga hal; yaitu ati temen sebagai tapa hati, tapa nayawa terletak pada watak eling (ingat) dan tapa rasa pada watak hening. Perpaduan antara watak temen, eling dan hening akan membuahkan rasa sejati yang membimbing rasa-rasa yang lain. Rasa sejati adalah penyeimbang inti rasa yang terbelah menjadi dua, yaitu susah dan bungah. Rasa bungah dan susah akan selalu bertarung dalam jiwa. Menurut Serat Pustakaraja Purwa, karya R. Ng. Ranggawarsita, seseorang akan merasa bungah atau susah tergantung tujuh hal; yaitu:

  • Kasuran, artinya keberanian yang menyebabkan terhormat dan berwibawa. Yang menyebabkan rasa ini terkikis apabila seseorang sampai berani menganiaya pihak lain. Jika posisi terhormat untuk memperdaya pihak lain, akan jatuh namanya dan akan kembali ke rasa susah.
  • Kagunan, artinya kepandaian dan ketrampilan hidup. Ini bisa dipupuk melalui watak rajin (taberi) dan mau berusaha. Orang akan bahagia apabila mampu menerapkan sebaik-baiknya kepandaian yang dimilikinya. Sebaliknya, akan merasa susah apabila hidupnya selalu resah, sungkan dan malas.
  • Kabegjan, artinya keberuntungan yang disebabkan oleh usaha dan kerja. Keberuntungan yang merupakan hasil keringat sendiri akan membahagiakan. Hal ini akan tercapai apabila diserta watak sabar dan menerima (nrima), tidak membuang-buang harta (gemi), memelihara milik sebaik-baiknya (nastiti), dan berhati-hati dalam berusaha (ngati-ati). Yang menyebabkan kabegjan hilang apabila seseorang berwatak lerweh (gemar meninggalkan barang di sembarang tempat) dan ngebreh (mengeluarkan harta benda tanpaperhitungan).
  • Kabrayan, artinya memiliki banyak keturunan (werden). Orang yang banyak anak akan tenteram, ada yang akan memelihara dirinya jika telah tua. Yang penting seseorang harus mampu amepet pangandikan (mencegah keluarnya kata-kata yang menyakitkan). Di samping itu, apabila orang tersebut selalu khawatir (sumelangan), juga akan membahayakan dan menyusahkan dirinya.
  • Kasinggihan, artinya mendapatkan posisi terhormat di lingkungannya. Hal ini dapat diupayakan melalui laku nastapa (prihatin), teteki (mencegah hawa nafsu), puja pangabekti (menjalankan ibadah) yang khusuk dan merendahkan diri. Adapun yang akan menyebabkan susah apabila seseorang bertindak angkara murka.
  • Kayuswan, artinya panjang usia. Yang menyebabkan panjang usia antara lain suci budinya (sadu budi) dan setia. Yang menjadi penghalang watak semacam ini apabila seseorang menjalankan dora (bohong) dan cidra (ingkar janji).
  • Kawidagdan, artinya selamat hidupnya. Ini disebabkan oleh watak suci dan mencegah makan minum serta melakukan watak paramarta (mulia). Yang menjadi penghalang adalah watak hina dan mudah marah.

Apabila seseorang mampu menjalankan tujuh hal tersebut akan merasa bahagia hidupnya. Sebaliknya jika hanya sebagian saja yang terlaksana atau bahkan tidak mampu melaksanakan sama sekali, perasaan akan sedih terus-menerus. Orang akan semakin nelangsa (tersiksa) dan ngenes (tak ada harapan hidup). Yang lebih parah lagi, orang yang selalu merasa susah lalu tidak ingin hidup. Jika perasaan ini tidak terkendali, bisa terjadi suduk salira (bunuh diri).

7. Psikobudaya Anak-anak Jawa

Anak-anak Jawa usia prasekolah pada umumnya masih menggunakan bahasa Ibu (Jawa). Bahasa Jawa ragam ngoko yang paling banyak digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Mereka biasanya belajar bahasa dari orangtuanya dengan cara meniru. Oleh karena dunia anak memang dunia bermain, mereka pun banyak belajar budaya yang dapat menyenangkan. Belajar budaya yang agak susah biasanya mereka hindari, terutama belajar unggah-ungguh bahasa Jawa.

Stimuli dari luar diri anak lazimnya yang paling kuat mempengaruhi kondisi jiwanya. Pada masyarakat Jawa tradisional, yang kurang mampu membaca (tidak melek huruf), belajar budaya dilakukan secara oral. Tradisi oral yang disemaikan lewat permainan tradisi, justru mudah dikuasai oleh anak-anak Jawa. Di desa, anak-anak mulai mengenal berbagai folklor Jawa yang populer, seperti dolanan Jamuran, Gobag Sodor, Ingkling, Benthik dan sebagainya. Dari permainan tersebut, mereka akan saling belajar bahasa di antara teman sebaya sekaligus dalam proses pembentukan watak anak.

Konteks tradisi yang mewarnai kehidupan anak Jawa adalah wacana permainan, yang menggunakan hom-pim-pah atau pun pingsut. Keduanya merupakan sarana untuk mengundi, siapa yang harus main terlebih dahulu dalam suatu permainan. Ini merupakan semaian watak demokratis pada diri anak-anak Jawa. Biarpun di antara mereka ada yang merasa paling kuat, tetapi tidak harus lebih dahulu dalam melakukan permainan. Semua akan ditentukan dengan sistem ”undian” melalui dua istilah di atas (hom-pim-pah dan pingsut).

Permainan juga dilakukan dengan cara asosiasi diri anak terhadap lingkungan sekitar. Misalkan saja, anak-anak ada yang berperan sebagai ibu, anak, guru dan sebagainya. Anak-anak juga belajar memasak, berdagang, berjualan dan seterusnya dalam permainan pasaran. Di arena kecil yang menyerupai pasar tersebut, anak-anak belajar hidup dengan memperleh local genius bagi orang Jawa.

Dalam belajar budaya, sebagian besar anak-anak Jawa melalui proses trial and error. Anak-anak belajar memanjat (penekan), plorotan, oyak-oyakan, dhelikan dan sebagainya. Seluruh aktivitas yang bernuansa permainan itu pada dasarnya akan memperkuat kognisi, konasi dan emosinya. Perkembangan kognisi selalu disertai konasi dan emosi, yaitu upaya ingin tahu dalam berbaga hal. Rasa ingin tahu itu sedikit demi sedikit merambat ke berbagai hal yang wadi (rahasia). Dalam kaitan ini, anak-anak Jawa sering terbentur pada konsep ora ilok dalam belajar budaya. Ketika mendengar konteks ora ilok, yang melarang diri mereka bersikap dan berbuat, kadang-kadang sikap berntak akan muncul. Yang penting, dari berontak dan menolak demikian lama kelamaan anak-anak akan sadar diri dan tahu mana yang baik dan yang benar.

Pada waktu anak-anak Jawa belajar sopan santun dalam berbagai hal, memang sering dihadapkan pada konsep gugon tuhon, pepali (larangan) dan anjuran. Anak-anak yang tidak begitu kritis tentu akan menyikapi hal-hal tersebut sebagai sebuah pedoman hidup. Misalkan saja, anak-anak akan diajak berskap luhur apabila melihat orang cacat dengan ucapan :”amit-amit jabang bayi, aja turun neng anak putu”. Artinya, maaf sekali, jabang bayi, semoga apa yang saya lihat tak menurun pada anak cucu. Ini menunjukkan bahwa sikap belas kasih dan iba tetap menyelimuti dunia Jawa. Namun, seluruh kejadian hanya Tuhan yang tahu.

Yang tak kalah menarik dalam perkembangan anak-anak Jawa adalah penguasaan bahasa-bahasa kasar. Bahasa-bahasa pisuhan dan jorok, biasanya lebih mudah merasuk ke dalam jiwa mereka. Bahkan, setiap hari kadang-kadang memori mereka cepat menyimpan kata-kata kasar, misalnya saja asu, asem, bajingan, entut berut dan sebagainya. Meskipun mereka mempelajari kata-kata kasar, yang unik tetapi kontekstual penggunaannya. Atas dasar gejala semacam ini, peran orang tua untuk mendudukkan persoalan yang trep (tepat) sangat diharapkan.

Dalam keluarga yang masih tergolong tradisional, justru daya fantasi anak-anak berkembang melalui dongeng-dongeng lokal. Dongeng-dongen yang dilantunkan orangtua sebelum tidur, akan merangsang jiwa anak untuk semakin tumbuh. Dongeng Kancil Nyolong Timun, Kancil lan Baya, Kancil karo Keyong dan sebagainya, rupa-rupanya tetap menjadi idola anak-anak Jawa. Melalui dongeng tersebut, kejiwaan anak-anak semakin terpupuk dan terbangun untuk menjadi anak yang berwatak luhur.

~~0~~

Daftar Pustaka

Abdul Munir Mulkhan. 2002. Makrifat Burung Surga dan Ilmu Kasampurnan Syekh Siti Jenar. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Eka Susylowati. 2006. Kesantunan Berbahasa Jawa dalam Kraton Surakarta Hadiningrat, (Online), (http//esusylowati@gmail.com/kesantunan-berbasa-jawa), diakses tanggal 17 Agustus 2015.

Harimurti Kridalaksana. 2001. Wiwara Pengantar Bahasa dan Kebudayaan Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Muhammad Damami. 2002. Makna Agama Dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta: Lesfi        

Murtadho. 2002. Islam Jawa; Keluar dari Kemelut Santri Vs Abangan. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama.

Ranggawarsita. 1993. Serat Pustakaraja Purwa. Jilid 4. Dilatinkan oleh Kamajaya. Yogyakarta:Yayasan Centini.

Simuh. 1995. Sufisme Jawa; Transformasi Tasawuf Islam Ke Mistik Jawa. Yogyakarta: Bentang.

Suwardi Endraswara. 2003. Falsafah Hidup Jawa. Tangerang: Cakrawala.

________________. 2003. Mistik Kejawen. Yogyakarta: Narasi.


Baca juga: Merintis Hubungan dengan Allah SWT

(Visited 372 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020