Ditulis oleh 3:09 pm COVID-19

Lonjakan Kasus Baru, Ada Apa?

Penambahan kasus positif Covid-19 pada 13 Mei 2020 secara mengejutkan melonjak tajam. Hal ini terjadi di tengah optimisme dan semacam rencana pelonggaran PSBB. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Secara mengejutkan pada 13 Mei yang lalu, kasus positif Covid-19, melonjak tajam, bahkan merupakan rekor baru, yakni 689 orang. Mengejutkan kita semua, karena kasus tersebut muncul di tengah optimisme, bahwa wabah Covid-19 akan segera berakhir. Bahkan telah ada semacam rencana, pada awal Juni akan mulai dilakukan pelonggaran secara bertahap. Apa sebenarnya yang terjadi?

Membaca Data.

Darimana munculnya optimisme dan pesimisme terhadap perkembangan wabah Covid-19? Kemungkinan terbesar tentu dari data kasus yang dilaporkan setiap hari oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Jika data dibaca dan diperiksa kecenderungannya, maka tentu akan punya makna tersendiri bagi yang mengolahnya. Kita ambil dua contoh pendekatan, yakni berdasarkan pola kurva dari grafik kasus versus waktu dan berdasarkan angka penambahan kasus positif.

Pada yang pertama, yakni berdasarkan grafik pertumbuhan, Gugus Tugas Penanganan COVID-19 menyebutkan tren penyebaran virus corona atau COVID-19 di Indonesia mulai melandai. Kesimpulan itu dilihat dari data kasus penambahan pasien positif corona yang tercatat setiap minggu.

“Yang dimaksud dengan kurva melandai adalah suatu tren yang seharusnya kita melihatnya tidak boleh hanya harian, tetapi mingguan,” kata Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito dalam keterangan pers yang disiarkan langsung di channel YouTube Sekretariat Kabinet RI, Senin (11/5) (Lihat IDNTimes.com dan Tribunnews.com).

Pada yang kedua, yakni berdasarkan angka penambahan kasus positif, beberapa waktu lalu Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ( Menko PMK) Muhadjir Effendy menilai kasus harian positif Covid-19 di Indonesia masih rendah, karena jumlah penambahan kasus positif belum mencapai 500 orang dalam satu hari.
“Kita bersyukur. Karena angka kasus kita rata-rata masih rendah. Itu bisa dilihat dari grafik, yaitu kasus per hari kita masih di bawah 500 paling tinggi puncaknya,” kata Muhadjir melalui video conference, Jumat (8/5/2020) (Lihat Kompas.com, dan Merdeka.com).

Kedua analisa tersebut tentu bukan hal yang salah, karena memang demikian itulah keadaan per waktu dimana analisis tersebut dibuat. Hal yang mungkin perlu mendapatkan perhatian adalah bahwa wabah masih berlangsung, dan secara saintifik, belum diketahui secara persis pola penyebaran wabah tersebut.

Ada model yang dibuat oleh sejumlah ilmuwan, namun model sesungguhnya hanya cara mendekati kenyataan. Tentu upaya para ilmuwan untuk menjelaskan pola penyebaran wabah, harus diapresiasi. Namun, sebuah model yang dibuat dalam masa wabah, perlu ditempatkan dalam porsi dan posisi yang tepat.

Dalam hal menentukan apa yang harus dilakukan untuk mengendalikan penyebaran wabah, model barangkali akan sangat membantu, karena setidak-tidaknya memberi semacam pandangan saintifik, tentang pola yang ditangkap berdasarkan model tersebut. Misalnya, jika dari model diperkirakan akan terjadi lonjakan pada waktu tertentu, maka suatu upaya antisipasi dilakukan, agar prediksi tersebut tidak terjadi.

Baca juga: Pelonggaran PSBB Harus Didukung Data Ilmiah

Artinya, model dalam situasi di mana wabah tengah berlangsung, idealnya digunakan untuk membuat perencanaan antisipasi dari prediksi yang dianggap buruk, bukan sebaliknya.

Cara membaca data akan memberi pada sikap dan tindakan. Tidak salah menggunakan perspektif optimis. Namun, jangan sampai optimisme yang tanda dasar, justru akan memperburuk situasi.

Data Membuat Koreksi.

Jika suatu kesimpulan dikoreksi oleh pemikiran lain, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai debat ide. Apa yang menjadi persoalan publik adalah manakala suatu pernyataan yang dianggap telah merupakan kesimpulan, dan kesimpulan tersebut menjadi dasar suatu tindakan tertentu, kemudian dikoreksi oleh keadaan. Sekali lagi tidak ada yang salah ketika mengatakan bahwa telah terjadi penurunan, terutama jika dilihat dari data yang masuk. Namun masalah akan muncul jika data tersebut pagi-pagi dianggap sebagai trend menuju berakhirnya wabah.

Data yang muncul pada 13/5 lalu, tentu saja merupakan angka di luar dugaan atau merupakan angka yang tidak diharapkan. Sebelumnya angka yang disebut inggi adalah penambahan kasus positif Covid-19: (1) sebanyak 484 kasus di 12 Mei; dan (2) 5 Mei lalu, dan 533 kasus di 9 Mei. Angka 689 orang, seakan-akan memberikan koreksi. Terlebih jika dilihat sebarannya:

NoProvinsiKasus Baru
1Bali 4 Orang
2Banten 21 Orang
3DI Yogyakarta 12 Orang
4DKI Jakarta 183 Orang
5Jawa Barat 7 Orang
6Jawa Tengah 34 Orang
7Jawa Timur 103 Orang
8Kalimantan Barat 6 Orang
9Kalimantan Timur 2 Orang
10Kalimantan Tengah 16 Orang
11Kalimantan Selatan 14 Orang
12Kalimantan Utara 6 Orang
13Kepulauan Riau 5 Orang
14Nusa Tenggara Barat 5 Orang
15Sumatera Selatan 43 Orang
16Sumatera Barat 20 Orang
17Sumatera Utara 2 Orang
18Sulawesi Utara 8 Orang
19Sulawesi Tenggara 91 Orang
20Sulawesi Selatan 55 Orang
21Sulawesi Tengah 6 Orang
22Sulawesi Barat 6 Orang
23Riau 7 Orang
24Maluku Utara 24 Orang
25Papua 6 Orang
28Nusa Tenggara Timur 19 Orang
27Gorontalo 19 Orang

Data ini harus menjadi pelajaran bersama, bahwa kewaspadaan tetap harus dijaga, dengan tetap tidak menghilangkan optimisme. Karena optimisme itulah yang akan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi wabah dan mengakhirinya, melalui upaya efektif memutus mata rantai penyebarannya.

Kembali Pada Protokol Kesehatan.

Ada dua hal pokok yang hendak menjadi pegangan dalam melihat perkembangan: Pertama, sampai kini belum ditemukan vaksin. Kedua, sampai kini belum diketahui secara persis pola penyebaran wabah. Dalam keadaan tersebut yang paling dapat dilakukan adalah secara disiplin menjalankan protokol kesehatan seperti yang selalu ditekankan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Akan sangat baik jika protokol kesehatan menjadi semacam kebiasaan baru dalam kehidupan masyarakat.

Pelonjakan kasus menunjukkan dengan sangat jelas bahwa penularan masih berlangsung dan bahkan jika dibaca dengan cermat, terjadi pula perluasan penyebaran. Di beberapa daerah, mulai pula terjadinya transmisi lokal. Tentu kita tidak menginginkan semua itu terjadi. Kita justru berharap agar wabah segera berlalu. Cara yang tersedia tidak banyak, yakni masyarakat secara disiplin menjalankan protokol kesehatan Covid-19.

(Visited 49 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 14 Mei 2020
Close