Ditulis oleh 2:51 pm COVID-19

Makanan dan Kesehatan

Saat trend ekonomi digital berkembang, sektor pangan dan kesehatan cenderung terlupakan.

Bill Gates sebagai pengusaha Microsoft era 90-an telah memprediksi dua kebutuhan dasar manusia yang semakin dilupakan yaitu makanan dan kesehatan. Mengapa nama dia tidak melambung pada era digital ekonomi melalui teknologi aplikasi digital? Sedangkan dari dirinyalah dia sukses membawa dunia pada era komputer meninggalkan mesin ketik.

Nama Bill Gates ternyata banyak muncul pada pengembangan industri pupuk dunia (IFA). Saat negara lain membanggakan pengembangan ekonomi berbasis aplikasi digital, banyak lulusan luar negeri asal Indonesia juga ikut mengembangkan apa yang menjad trend dunia. Ini tentu juga punya kontribusi besar bagi peradaban komunikasi dan kemudahan teknologi, meminimalisir ruang gerak untuk transaksi tanpa pertemuan. Jadi yang dilakukan sarjana Indonesia yang kuliah di luar negeri tentu mengikuti trend sarjana global.

Mengapa Bill Gates seperti tidak tertarik dengan kondisi digital economics ini, padahal dia yang ikut memulai perubahan ketik ke Microsoft yang kelak menjadi tonggak perang data. Pada dasarnya dia sudah ikut menguasai sejak Microsoft meluncur, karena pakem alat teknologi komputer tetap dia berkuasa. Tapi dia memilih fokus lain yang diprediksi negara-negara maju dan berkembang akan melupakannya.

Bill Gates menyadari jauh-jauh hari akan ada krisis pangan dan sesuai prediksinya akan banyak virus mematikan dimana dunia kesehatan di berbagai negara tidak siap. Bagi negara seperti Kuba yang sejak revolusi melakukan perubahan besar dalam bidang kesehatan ini adalah ideologi politik yang tidak lahir dari politik sapi perah. Dunia kesehatan dibangun dengan ratio dokter berlimpah untuk melayani warga secara murah dan maksimal. Begitu juga dengan pangan, negara seperti Vietnam fokus pada pangan, Thailand dengan agribisnisnya, dan negara-negara lain. Negara ini menjadikan pertanian sebagai kebudayaan bukan pekerjaan yang makin tidak manusiawi, di stigma pekerjaan kaum miskin, dan negara kecil ini tidak menyerahkan semuanya pada persaingan pasar.

Di Indonesia, pupuk organik yang dibuat rakyat tidak pernah mendapatkan subsidi oleh negara. Tidak ada upaya massal mendukung produksi warga ini. Negara kalah dengan industri pupuk kimia dan malah mensubsidi melalui logika birokrasi kementerian yang di isi oleh para ahli-ahli. Tapi para penggiat pertanian organik masih bersyukur, mereka ideologis, mandiri dan anda bisa lihat kreatifitas mereka di youtube tanpa ada tangan negara hadir.

Jika revolusi Kuba di awal menyebabkan setengah dokter Kuba kabur mencari suaka di negara lain, Fidel Castro tidak kalah akal dengan memberi subsidi besar-besaran bagi pendidikan kesehatan Kuba. Sehingga sekolah kesehatan yang mahal itu ditanggung negara sebagai strategi investasi SDM. Hasilnya ya tidak seperti Indonesia, dokter di sini adalah kelas elit, sekolahnya mahal, dan wajar jika biaya kesehatan berakhir dengan mahal.

Kuba membuktikan, mereka yang dibiayai sekolah murah, tentu tidak merasa rugi jika dibayar dengan murah, artinya negara hadir dan pasar tunduk untuk tidak masuk pada bidang kesehatan. Dan kita lihat Kuba mengirim dokternya ke berbagai negara membantu mengatasi Corona Virus. Jauh sekali Kuba, di Malaysia orang sakit bayar 1 Ringgit, tebus obat 2 Ringgit, dan itu terjadi sampai sekarang. Di Indonesia para orang tua dengan bangganya menyekolahkan anak di jurusan kesehatan biaya ratusan juta yang kelak rakyat yang harus membayar semua itu dengan kesehatannya.

Jadi kalau ada sarjana belajar menanam tanaman pangan, mereka mencoba menanam pangan sehat organik, sebenarnya itu sudah dilakukan negara-negara berkembang yang menolak di atur oleh negara maju. Apalagi negara yang diberikan Tuhan tanah luas, ekosistem tanaman beragam tapi hancur karena tanaman monokultur seperti sawit ditambah pengerukan tambang-tambang yang dilakukan oleh pengusaha berbaju pejabat yang hari ini berada di kekuasaan.

(Visited 150 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 15 Mei 2020
Close