Ditulis oleh 2:03 pm SAINS

Makin Laju Kepunahan Massal

Ketidakpedulian manusia akan lingkungan alam dianggap oleh ilmuwan yang menyebabkan berbagai macam dampak. Salah satu dari banyak dampak tersebut adalah masuknya penyakit serta virus-virus baru yang dapat menyebabkan pandemi.

Apakah semua penonton film dinosaurus akan mengira bahwa hewan tersebut telah punah? Film “dokumenter” dengan Walking with Dinosaurs, dengan bagus menggambarkan bentuk rupa dan kebiasaan, berikut nama yang sulit diucapkan oleh lidah Indonesia. Gambar berwarna tersebut, boleh dikatakan sudah menyulap pikiran anak-anak, seakan-akan begitulah adanya Dinosaurus, dan lupa bertanya dimana bisa ditemukan hewan itu? Liputan kecil tentang Wajah Baru T-Rex, merupakan keterangan, bahwa tentang hewan tersebut, studi masih berlangsung. Setiap penemuan baru, tentu akan mengubah pandangan kita tentang hewan tersebut.

Studi tentang Dinosaurus, merupakan bagian dari riset (salah tema, dari himpunan tema yang luas dan kompleks) terkait dengan keberadaan mahluk hidup, dan ekosistemnya. Tema penting, yang sangat terkait dengan keberadaan kita adalah masalah kelangsungan hidup. Kepunahan Dinosaurus, sebagai contoh, telah melahirkan banyak teori yang berusaha menejelaskan secara logis, mengapa hewan tersebut punah, bagaimana cara punah hewan tersebut, berapa lama dan apa sebab utamanya?

Tiga Sebab

Berdasarkan asal sebab, kepunahan spesies, dapat dibedakan: Pertama, kepunahan karena faktor eksternal. Dalam menjelaskan kepunahan kadal raksasa (dinosaurus), berkembang teori bencana ketika asteroid menghantam Bumi dengan keras pada lebih dari enam puluh juta tahun silam. Peristiwa tersebut digambarkan memicu gempa yang menimbulkan tsunami hebat, kebakaran hutan, dan kerusakan udara serta pencemaran yang mempengaruhi sinar matahari yang masuk. Hal inilah yang dengan cepat membunuh kadal raksasa tersebut. 

Kedua, kepunahan yang hendak digambarkan di sini sebagai akibat krisis makanan dan kerusakan ekosistem, yang diakibatkan oleh kehadiran hewan tersebut. Tentu didalamnya termuat pula pertumbuhan populasi, yang mengakibatkan ketidakseimbangan, dan keberlanjutan rantai makanan. Teori ini, tidak berkembang dalam riset, dan kurang mendapatkan dukungan data, kendati secara obyektif dimungkinkan. 

Dan ketiga, merupakan gabungan dari yang pertama dan kedua. Dari ketiganya hendak dikatakan bahwa kesemuanya, punya kesamaan yakni perubahan ekosistem, ataupun kerusakan drastis (akibat bencana). Perubahan ekosistem, perlu dilihat sebagai penyumbang utama sebab kepunahan spesies.

Laju Kepunahan

Laju kepunahan adalah besaran yang menggambarkan jumlah punahnya sejumlah spesies dalam kurun waktu tertentu. Laju bisa konstan, bisa juga berubah. Jika perubahan positif, makin cepat, maka disebut sebagai kenaikan perubahan laju kepunahan. Apa yang ditemukan riset terbaru? Secara mengejutkan dikatakan bahwa lima ratus spesies kemungkinan akan punah selama dua dekade mendatang. 

Dalam sebuah laporan riset disampaikan bahwa laju kepunahan meningkat, lebih cepat dari yang sebelumnya diperkirakan. Sekitar 543 spesies hilang selama 100 tahun terakhir, penghitungan yang biasanya memakan waktu 10.000 tahun. Jika tidak mengalami perubahan, maka sekitar 500 spesies vertebrata darat lainnya akan punah dalam kurun waktu dua dekade berikutnya, setara dengan yang akan terjadi secara alami dalam kurun waktu 16.000 tahun.

Studi terbaru menekankan pentingnya melindungi populasi hewan dan tidak hanya satu spesies tertentu. Berdasarkan analisis rentang spesies yang terancam punah saat ini dan dalam record sejarah, peneliti menemukan lebih dari 237.000 populasi telah hilang sejak 1900. Ketika suatu populasi menghilang dari geografis suatu daerah, maka fungsi spesies di daerah tersebut juga menghilang. Sebagai contoh, hilangnya lebah madu di Amerika Serikat, akan menyebabkan kerugian ekonomi sebesar lebih dari $ 15 miliar, akan tetapi spesies tersebut dapat bertahan di tempat lain di dunia.

Menurunnya populasi dari spesies umum, seperti para predator, herbivora berbadan besar seperti badak, penyerbuk dan lainnya memiliki efek yang signifikan pada ekosistem bahkan ketika mereka tidak terancam punah, ujar salah satu ilmuan dari World Wildlife Fund. Juga dikatakan bahwa studi yang tengah dilakukan memberikan kejelasan secara ilmiah bahwa kelangsungan hidup spesies-spesies ini sangatlah terkait dengan kelangsungan hidup umat manusia sendiri.

Kepedulian Akan Alam

Meski studi yang tengah dilakukan meneliti banyak spesies, namun hal ini masih jauh dari ruang lingkup masalah kepunahan yang sebenarnya. Oleh karena analisis yang dilakukan belum menyertakan tanaman, spesies akuatik serta invertebrata, dan hanya memasukkan sekitar 5 persen dari vertebrata darat yang data populasinya tersimpan oleh para ilmuan. Penemuan-penemuan yang didapat dari studi ini, menurut Thomas Lovejoy, seorang ahli ekologi di Universitas George Mason, merupakan sesuatu yang wajar, dan ia menyarankan untuk melihat laporan penelitian tersebut sebagai suatu alaram untuk melakukan perubahan. Sedikitnya kesadaran orang-orang akan krisis yang akan datang adalah penyebab krisis itu sendiri.

Bahkan meski sadar, mereka hanya akan nampak kehilangan, namun tidak banyak memberikan dampak untuk perubahan, oleh karena mereka belum merasakan krisis pada diri mereka sendiri. Dan hal yang sering terjadi adalah manusia baru sadar akan peran tanaman atau hewan tertentu dalam suatu ekosistem hanya setelah spesies yang tersebut benar- benar hilang.

Sebagai contoh, merpati liar, yang dahulu berjumlah miliaran. Merpati-merpati ini membantu membatasi pertumbuhan populasi spesies pemakan biji lainnya. Diantaranya tikus putih yang merupakan reservoir alami untuk bakteri penyebab penyakit Lyme. Setelah kepunahan merpati liar, populasi tikus putih meledak, dan risiko terhadap kesehatan manusia semakin besar. Dampak kepunahan merpati liar, masih dapat dirasakan seabad setelah merpati terakhir mati.

Ketidakpedulian manusia akan lingkungan alam dianggap oleh ilmuwan yang menyebabkan berbagai macam dampak. Salah satu dari banyak dampak tersebut adalah masuknya penyakit serta virus-virus baru yang dapat menyebabkan pandemi. Sebagaian dari ilmuan percaya bahwa virus corona yang menyebabkan pandemi kini, berasal dari hewan liar. Pandemi ini, mungkin merupakan sebuah contoh betapa buruknya manusia memperlakukan alam dan lingkungan sekitar.

Dengan studi yang tengah dilakukan, tidak dapat dipungkiri bahwa apa yang dilalukan manusia dapat menyebabkan akhir bagi spesies kita. Layaknya dinosaurus pada zaman dahulu, yang tidak dapat menyelamatkan diri mereka karena perbuatan mereka sendiri, manusia kian mendekati titik tersebut. Namun apakah sudah terlambat untuk memperbaiki? Mungkin hal ini hanya akan terjadi bila manusia sadar akan fakta bahwa diri mereka bukanlah satu-satunya yang menjejaki bumi ini. (sumber situs nytimes)

(Visited 122 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 7 Juni 2020
Close