Ditulis oleh 6:00 am KALAM

Makna Angka-angka Dalam Wabah

Sampai kini (29/5), korban di tingkat dunia mencapai 5.937.200 orang, dengan angka kematian mencapai 362.776 jiwa. Hampir seluruh negara terkena, dan wabah telah membawa dampak yang luar biasa pada kehidupan masyarakat. Oleh sebab itulah, sangat penting bagi kita memahami secara lebih baik apa yang tengah terjadi, terutama mengerti angka-angka yang beredar luas.

Setiap hari, publik dapat mengakses angka-angka yang dilaporkan oleh pemerintah, atau otoritas kesehatan di seluruh dunia. Ada yang masih berupa data yang menggambarkan jumlah korban, dan ada pula yang telah disajikan dalam grafik. Stephanie Pappas dalam livescience, membuat ulasan yang menarik.

Coronavirus

Coronavirus sekarang disebut SARS-CoV-2, menyebabkan penyakit COVID-19. Virus ini pertama kali diidentifikasi di Wuhan, Cina, pada 31 Desember 2019. Sejak itu, ia telah menyebar ke setiap benua kecuali Antartika. Tingkat kematian tampaknya lebih tinggi daripada flu musiman, tetapi juga bervariasi berdasarkan lokasi serta usia seseorang, kondisi kesehatan yang mendasarinya, di antara faktor-faktor lain.

Para ilmuwan tidak yakin dari mana virus itu berasal, meskipun mereka tahu bahwa coronavirus (yang juga termasuk SARS dan MERS) ditularkan antara hewan dan manusia. Penelitian yang membandingkan urutan genetik SARS-CoV-2 dengan database virus menunjukkan bahwa itu berasal dari kelelawar. Karena tidak ada kelelawar yang dijual di pasar makanan laut di Wuhan di pusat penyakit, para peneliti menyarankan untuk melihat hewan peralihan, mungkin trenggiling (mamalia yang terancam punah) bertanggung jawab atas penularan ke manusia.

Hal yang jelas adalah bahwa virus berkembang dan menyebar demikian cepat, luas dan mematikan. Sampai kini (29/5), korban di tingkat dunia mencapai 5.937.200 orang, dengan angka kematian mencapai 362.776 jiwa. Hampir seluruh negara terkena, dan wabah telah membawa dampak yang luar biasa pada kehidupan masyarakat. Oleh sebab itulah, sangat penting bagi kita memahami secara lebih baik apa yang tengah terjadi, terutama mengerti angka-angka yang beredar luas.

Angka dan Interpretasinya

Kepada New York Times, seorang ahli matematika mengatakan bahwa angka kematian akibat COVID-19 mungkin mengenai antara 0,5% dan 2% dari orang yang memiliki gejala. Apa artinya? Mungkin saja bahwa angka-angka itu didasarkan pada data terbaik yang tersedia. Namun penting untuk selalu disadari bahwa suatu data terbaik, dalam kenyataanya belum mampu menggambarkan keseluruhan kenyataan. Prediksi ini juga mencakup asumsi seperti berapa banyak kasus penyakit yang tidak dilaporkan di luar sana.

Matematikawan Adam Kurcharski, yang mempelajari penyebaran wabah penyakit di London School of Hygiene & Tropical Medicine, membuat perkiraan tersebut kepada seorang wartawan New York Times dalam sebuah artikel di mana ia menjelaskan mengapa angka kematian pada tahap awal suatu penyakit tidak jelas, atau dapat dikatakan kabur? 

Salah satu alasan utama, katanya, adalah bahwa banyak negara mungkin kehilangan banyak kasus. Iran, di mana jumlah kematian mencapai 100, adalah contoh dari negara di mana kematian dimulai sebelum otoritas kesehatan bergerak. Amerika Serikat, di mana angka kematiannya mencapai 12 dan jumlah kasus yang dikonfirmasi lebih dari 230, juga mengalami keterlambatan dalam pengujian, yang berarti ada banyak infeksi yang tidak dilaporkan.

Alasan lain adalah bahwa membagi jumlah kasus yang diketahui saat ini dengan jumlah kematian saat ini tidak akurat, tambah Kurcharski;orang yang meninggal sakit selama dua atau tiga minggu. Penundaan antara infeksi dan kematian berarti tingkat fatalitas kasus yang sebenarnya tidak dapat diketahui hingga masuk pada epidemi. “Idealnya, kami akan memantau sekelompok besar orang dari titik di mana mereka mengembangkan gejala sampai mereka kemudian mati atau pulih,” kata Kurcharski kepada Times.

Untuk memahami keterlambatan itu, kata Kurcharski, bayangkan sebuah penyakit dengan tingkat kematian kasus 1%. Ketika orang pertama meninggal karena penyakit di rumah sakit, Anda dapat mengasumsikan bahwa tiga minggu yang lalu, ketika ia jatuh sakit, ada sekitar 100 kasus penyakit yang beredar. Setelah tiga minggu peredaran tidak terdeteksi, tentu akan ada lebih banyak kasus di luar sana: Mungkin 500, jika jumlah kasus berlipat ganda dua setiap minggu. Penjelasan sederhana, dapat menjadi rujukan untuk melihat perkembangan wabah. Sikap bijak dibutuhkan, agar terhadap informasi, khususnya yang menyodorkan angka, hendaknya lebih cermat.

(Visited 43 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 30 Mei 2020
Close