Makna Ke-Empu-an Seorang Perempuan dalam Perspektif Islam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Untuk menjaga kemuliaan kaum perempuan, Islam pun menjaganya dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya.

Peran wanita atau kaum perempuan yang selalu “di-empu-kan” sangatlah penting karena begitu banyaknya beban-beban berat yang harus diembannya. Bahkan beban-beban yang semestinya dipikul oleh kaum pria, mereka sukses memikulnya. Itulah salah satu alasan kenapa kedudukan ibu terhadap anak-anaknya lebih didahulukan daripada kedudukan ayah.

Ini disebutkan dalam firman Allah, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (QS. Luqman, 31 : 14). Begitu pula dalam firman-Nya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf, 46 : 15).

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Muammad SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku baik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dari hadits ini, kita diperintahkan untuk berbakti kepada ibu tiga kali lipat dibandingkan kepada ayah. Kemudian, kedudukan isteri dan pengaruhnya terhadap ketenangan jiwa seseorang (suami) telah dijelaskan dalam Al-quran: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.” (QS. Ar-Rum: 21).

Seorang pria menjadikan seorang wanita sebagai istrinya bisa karena cintanya kepada wanita tersebut atau karena kasih sayangnya kepada wanita itu, yang selanjutnya dari cinta dan kasih sayang tersebut keduanya mendapatkan anak, yang merupakan dambaan setiap orang yang mengarungi maghligai keluarga.

Sungguh kita bisa melihat teladan yang baik tentang ke-empu-an seorang perempuan pada diri Sayyidah Khadijah RA, isteri Rasulullah Muhammad SAW, yang telah memberikan andil besar dalam menenangkan rasa takut Rasulullah ketika beliau didatangi malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama kalinya di goa Hira’. Nabi pulang ke rumah dengan gemetar dan hampir pingsan, lalu berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” Demi melihat Nabi yang demikian itu, Khadijah berkata kepada beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu. Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari-Muslim).

Berikut adalah kewajiban wanita dalam Islam; yakni : Pertama, Kewajiban sebagai Hamba Allah. Kewajiban utama wanita sebagai manusia tentu adalah mengabdi dan menyembah hanya kepada Allah SWT. Tidak ada satupun yang berhak diikuti perkataan, perintahnya selain dari yang telah Allah perintahkan. Kecintaan dan pengabdian wanita terhadap suaminya, terhadap ibunya, terhadap keluarganya, tentu tidak boleh melebihi terhadap Allah. Bahkan. Jikapun mengikuti perkataan suami, orang tua, atau keluarga itu semua dalam kerangka mengikuti perintah Allah SWT.

Kewajiban sebagai hamba Allah tentu saja bermula dari meyakini semua yang telah Allah wahyukan, seperti apa yang ada dalam Al-Quran, rukun iman, rukun islam. Selain itu, menjalankan semua perintah Allah baik aturan sosial, kehidupan, atau teknis menjalankan ibadah dalam shalat, puasa, dan sebagainya.

Rukun Iman dan Rukun Islam pun menjadi pegangan dalam kehidupannya. Tidak lupa menjalankan fungsi Al-Qur’an bagi umat manusia yang berisi kumpulan perintah, petunjuk, dan segala macam panduan kehidupan manusia. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam Al-Quran bahwa manusia senantiasa harus mengikuti dan taat kepada Allah SWT. “Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”. (QS. Az- Zumar, 39 : 2).

Perwujudan sebagai hamba Allah ini sebagaimana manusia mau untuk menjalankan shalat , “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha, 20 : 14). Di QS An-Nahl ayat 36 pun Allah mengingatkan kembali bahwa adanya rasul-rasul Allah untuk mengajak menyembah Allah. Artinya, penyembahan terhadap Allah adalah suatu yang tidak dapat diganggu gugat oleh manusia. “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

Kedua, Kewajiban sebagai Khalifah fil Ardh. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah, 2 : 30).

Di dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa tugas manusia adalah sebagai khalifah fil ardh. Untuk itu, tugas-tugas wanita secara keseluruhan semuanya harus mengarah pada menjalankan peran tersebut. Sebagai ibu, pekerja, atau pun istri ia harus menjalankannya dalam rangka menjalankan kewajiban khalifah fil ardh. Khalifah fil ardh pada hakikatnya adalah memberikan kemaslahatan umat manusia di bumi, memberikan kemakmuran, melestarikan kehidupan lebih baik dimulai dari dirinya, keluarga, masyarakat, dan seluruh umat manusia yang ada di muka bumi.

Ketiga, Kewajiban sebagai Istri bagi Suami. Dalam suatu keluarga, wanita pada hakikatnya adalah istri bagi suaminya. Sebagai seorang istri, wanita memiliki kewajiban untuk dapat bekerja sama dan menjalankan rumah tangga dengan baik dengan suami. Begitupun sebetulnya dengan suami. Seorang istri yang baik, ia harus dapat memberikan kebahagiaan dan juga membantu suaminya dalam menjalankan rumah tangga.

Tugas utama seorang suami adalah mencari nafkah sedangkan istrinya adalah pengelolanya di rumah dan menjaga amanat tersebut dari suaminya. Kewajiban istri meliputi berbagai hal mulai dari pemenuhan kebutuhan seksual dari suami, mengelola aset rumah tangga, menjaga amanat harta dari suami, membangun pendidikan anak-anak, dan saling support dengan suami untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Keempat, Kewajiban sebagai Ibu bagi Anak-Anak. Kewajiban wanita juga bisa sebagai ibu bagi anak-anaknya. Selain dari sebagai anak dari orang tuanya, seorang wanita juga berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya dengan baik. Pada hakikatnya, anak-anak adalah titipan dari Allah yang harus dididik dan kelak mereka harus meneruskan misi khalifah fil ardh di bumi ini, meneruskan apa yang telah orang tuanya berikan dan titipkan.

Untuk itu, dalam hal ini seorang wanita yang memiliki anak, memiliki kewajiban untuk dapat memberikan pendidikan terbaik bagi anak anak. Seorang ibu pada dasarnya adalah orang yang paling dekat dengan anaknya, karena mulai dari kandungan, menyusui, hingga besar peran ibu sangat besar di dalamnya. Untuk itu, hal ini merupakan kewajiban dari seorang wanita.

Kelima, Tanggung Jawab terhadap Lingkungan – Masyarakat. Tanggung jawab wanita juga terhadap lingkungan dan masyarakatnya. Wanita yang memiliki potensi lebih, maka ia pun dapat membantu lingkungan atau masyarakatnya agar dapat maju bersama sama. Wanita yang memiliki kelebihan dan kemampuan maka bisa memberikan atau menyebarkannya kepada lingkungan sekitarnya.

Pada hakikatnya kewajiban wanita bukan hanya terhadap diri dan keluarganya saja, melainkan kepada seluruh elemen yang meliputi fungsi dan peran dirinya, sebagaimana Allah telah memberikan potensi tersebut kepada diri wanita.

Untuk menjaga kemuliaan kaum perempuan, Islam pun menjaganya dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Bagai mutiara yang mahal harganya, Islam menempatkannya sebagai makhluk yang mulia yang harus dijaga. Atas dasar inilah kemudian sejumlah aturan ditetapkan oleh Allah SWT. Dan agar berikutnya, kaum wanita dapat menjalankan peran strategisnya sebagai pendidik umat generasi mendatang. Agama Islam sangat memperhatikan kebaikan urusan wanita.

Bagaimana tidak, karena wanita adalah setengah dari jenis manusia, pendidik pertama dalam pendidikan jiwa sebelum yang lainnya, pendidikan yang berorientasi pada akal agar ia tidak terpengaruh dengan segala pengaruh buruk, dan juga hati agar ia tidak dimasuki pengaruh setan yang senantiasa berusaha menjerumuskan manusia. Semoga!!!

Baca juga: Meraih Kesuksesan Hidup dengan Ibadah Shalat

Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga.

Terbaru

Ikuti