Makna Kebangkitan Nasional Di Tengah Pandemi Global

Bangkit melawan virus yang tidak tampak tetapi berdampak pada keselamatan kehidupan manusia.

Di setiap tanggal 20 Mei bangsa Indonesia memperingati hari kebangkitan nasional. Peringatan tahun ini terasa berbeda di tengah seluruh dunia sedang menghadapi pandemik Corona yang belum menunjukkan tanda-tanda gejala menurun secara signifikan. Jika pada waktu didirikan pergerakan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 merupakan kebangkitan melawan penjajahan yang identik dengan ketidakadilan, penindasan, dan pelanggaran hak asasi, maka makna kebangkitan kali ini ialah bangkit melawan virus yang tidak tampak tetapi berdampak pada keselamatan kehidupan manusia.

Jika direnungkan dampak dari penjajahan dan akibat virus ini sama yaitu terancamnya keberlangsungan kehidupan manusia. Tujuan dari tulisan ini ialah akan menggambarkan latar belakang munculnya istilah “kebangkitan” dalam perjuangan Indonesia melawan penjajahan untuk diambil pelajaran dalam memaknai pandemi yang sedang kita hadapi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti “bangkit” adalah bangun yang berarti semula tidur kemudian ada gerakan menuju posisi duduk atau berdiri untuk bersiap melakukan sesuatu. Sehubungan dengan kebangkitan nasional bisa diartikan sebagai kesadaran untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan. Pada tanggal 20 Mei 1908 sekelompok mahasiswa Kedokteran Stovia (School Tot Oplerding Van Inlands Artsen) berhasil mendirikan Perhimpunan Kebangsaan yang pertama yang diberi nama Boedi Oetomo. Dalam catatan sejarah yang mempunyai inisiatif pendirian pergerakan ini ialah pensiunan dokter yaitu dr, Wahidin Sudiro Husodo, dan kemudian diwujudkan oleh dr.Soetomo dan Raden Goenawan Mangunkusumo.

Ada argumen yang mempertanyakan mengenai mengapa Boedi Oetomo yang dijadikan peringatan, padahal ada beberapa pergerakan yang fenomenal seperti Sarekat Islam yang di tahun 1912 oleh H Samanhoedi yang kemudian menjadi Sarekat Dagang Islam. Ada yang berpendapat bahwa berdirinya Indische Partij di tahun 1912 sebagai partai politik yang pertama di Indonesia yang didirikan oleh 3 serangkai Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro, dan Dowes Dekker sebagai peletak dasar kebangkitan bangsa Indonesia. Boedi Oetomo akhirnya dipilih karena dianggap sebagai pergerakan yang moderat, nasionalis dan memilih jalan tengah, tidak memihak. Selanjutnya melalui keputusan Presiden No. 316 tahun 1959, pada tanggal 16 Desember 1959 Presiden Soekarno menetapkan untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada setiap tanggal 20 Mei.

Sebagai bangsa kita memerlukan semangat untuk menyatukan agar menjadi sebuah kekuatan untuk mewujudkan suatu cita-cita bersama. Semangat bangkit ini dilanjutkan dengan dideklarasikan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang berisi pengakuan bahwa sebagai bangsa hanya ada bangsa Indonesia yang disatukan oleh Bahasa yaitu Bahasa Indonesia. Deklarasi Sumpah Pemuda merupakan penemuan penting bagi negara Indonesia yang mempunyai penduduk sangat heterogen dari segi etnik maupun bahasa. Dua fenomena penting bagi bangsa Indonesia yaitu Hari Kebangkitan Nasional dan Sumpah Pemuda seperti sudah mulai ditinggalkan oleh bangsa ini akibat pemimpin yang gagal menerjemahkan semangat ini untuk menghadapi masalah yang tengah dihadapi. Padahal fungsi semangat kebangkitan nasional dan sumpah pemuda untuk integrasi atau pemersatu bangsa. Jika bangsa telah terintegrasi baik terintegrasi sesama masyarakat dan antara masyarakat dengan pemimpinnya maka akan mudah bagi pemerintah untuk menjalankan kekuasaan.

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Kebangkitan Nasional dan Sumpah Pemuda merupakan pembuka jalan bagi deklarasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan dalam menghadapi Belanda yang ingin menjajah Kembali Indonesia antara 1946 -1949. Bangsa Indonesia dengan tingkat heterogenitas yang tinggi menajadi bangsa yang satu dalam menghadapi penjajah untuk mewujudkan cita-cita Bersama menjadi negara yang merdeka. Masyarakat Islam sebagai penduduk mayoritas pada waktu itu telah berkorban mengesampingkan kelompoknya demi persatuan bangsa. Ketika Dasar negara dibentuk. Kelompok Islam ikhlas menghapuskan 7 kata dalam Pancasila sebagai Dasar Negara yaitu menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk pemeluknya. Meskipun setelah itu komunitas Islam tidak lagi bisa menduduki jabatan politik penting dalam pemerintahan tetapi Indonesia yang Bersatu merupakan hadiah dari pengorbanan itu.

Saat ini di tengah pandemik Covid-19 atau Corona yang mulai menjadi perhatian bangsa Indonesia sejak pertengahan Maret 2020 bangsa Indonesia seperti kehilangan pijakan karena “guidance” atau petunjuk untuk menghadapinya yang tidak atau kurang jelas. Kita memerlukan kebangkitan untuk menghadapinya. Masyarakat harus disatukan untuk menghadapi pandemik ini sehingga taat pada prosedur atau protokol melawan Covid 19 dengan cara physical distancing, menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan tidak melakukan aktivitas di luar rumah serta terlibat dalam kerumunan. Ketaatan masyarakat pada peraturan pemerintah ungtuk menanggulangi pandemik membuktikan pemerintah memeliki legitimasi atau kepercayaan yang kuat dari rakyat. Sebaliknya, perlawanan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah menunjukkan legitimasi pemerintah dipertanyakan.

Menurut pengamatan penulis saat ini telah terjadi perpecahan di dalam masyarakat antara yang menginginkan pelonggaran terhadap isolasi atau karantina dalam menghadapi Corona dengan berbagai alasan terutama masalah ekonomi, dan yang menginginkan pengetatan dalam waktu yang belum bisa ditetapkan karena jumlah pasien yang positif terkena virus belum menunjukkan penurunan yang diwakili oleh tenaga medis, dan perpecahan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah yang ditunjukkan dengan tidak sejalannya kebijakan pusat dan daerah. Sebagai contoh ketika seorang Gubernur ingin memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), pemerintah pusat memberi inisiasi kelonggaran. Akibatnya, masyarakat mulai melanggar pembatasan pembatasan sosial dengan mendatangi kerumunan misalnya pasar.

Masyarakat yang tidak lagi mentaati untuk tidak melakukan interaksi sosial menunjukkan perlawanan terhadap peraturan negara. Di pihak lain dari pihak tenaga medis yang telah berjuang keras merasa pemerintah tidak bisa tegas, dan jelas dalam menghadapi perpecahan sehingga kelompok medis sampai mengeluarkan pernyataan #Indonesia Terserah (Tagar Indonesia Terserah) yang menunjukkan keputusasaan atau kejengkelan terhadap pelanggaran.

Menurut laporan Juru bicara Satgas Covid-19 Achmad Yurianto hingga tanggal 19 Mei 2020 orang Indonesia yang terinfeksi positif Corona ada 18.496 orang, sembuh 4.467 dan meninggal 1.221. Jika dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang kurang lebih 276 juta memang sedikit, tetapi dengan melihat karakter virus ini dan penyebarannya sebaiknya memang tetap harus memberlakukan PSBB sampai ada penurunan korban yang signifikan.

Memperhatikan asal corona dari negeri Tiongkok yang lebih spesifik dari Kota Wuhan dan kemudian menyebar ke seluruh dunia maka virus ini bisa dikategorikan sebagi bagian dari globalisasi atau masalah yang menjadi permasalahan bagi semua negara di dunia ini. Mengharapkan penyelesaian global masalah ini akan menemukan jalan buntu karena semua negara dan lembaga-lembaga internasional sedang sibuk mengurusi dirinya sendiri. Hal yang mendesak harus dilakukan ialah kembali menterjemahkan arti kebangkitan nasional dalam menghadapi masalah pandemik ini.

Secara teori ada 2 hal yang bisa diatasi dalam menghadapi peluang globalisasi yaitu adanya strategic policy dari negara untuk mengatasi masalah ini. Sistem politik negara yang demokratis harus diberdayakan. Kita sudah sepakat bahawa kekuasaan telah dibagi menjadi eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang masing-masing mempunyai fungsi. Di masa pandemi ini tidak nampak lembaga legislatif mengeluarkan peraturan atau kerja keras menemukan solusi. Sebaliknya, ,mereka justru melepaskan fungsinya untuk membuat peraturan, pengawasan anggaran dan lain lain yang ujung-ujungnya akan memberikan kekuasaan yang besar pada eksekutif dan akan berdampak pada eksekutif yang tanpa kontrol. Lembaga yudikatif juga terasa belum menunjukkan peranannya untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan sesuai dengan Undang Undang.

Jika kita mengingat masa kebangkitan yang lalu yang memunculkan tokoh-tokoh nasional seperti yang disebutkan di depan. Di masa situasi tekanan pandemi ini belum muncul tokoh nasional yang bisa mempersatukan sehingga tidak ada tokoh yang menjadi panutan semua orang. Munculnya dokter muda yang bernama dokter Tirta sebenarnya memberi harapan baru, tetapi gaya milenialnya tidak dapat diterima oleh semua pihak.

Kunci pamungkas secara teori dalam menghadapi pandemi ini ialah dengan mewujudkan regionalism atau kerjasama regional ASEAN. Presiden dapat melakukan diplomasi corona dengan keliling negara-negara ASEAN untuk mencari solusi bersama, karena mobilitas orang di antara negara-negara ASEAN termasuk tinggi. Keberhasilan diplomasi ini akan sangat tergantung pada situasi dalam negri yang taat pada aturan negara, dan kebijakan negara yang komprehensif dan solutif. Di masa kebangkitan lalu Haji Agus Salim berdiplomasi ke negara negara Timur Tengah untuk mencari dukungan atas kedaulatan Indonesia, dan berhasil.

Semoga kita bisa bangkit melawan corona ini dengan mengesampingkan kepentingan individu atau kelompok. Keadaan dalam negeri yang kondusif merupakan peluang untuk diplomasi corona ke negara-negara Asia Tenggara.

Yogyakarta 20 Mei 2020

(Visited 587 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020