Ditulis oleh 8:09 am COVID-19

Mantra “Iman-Imun” dalam Menjalani New Normal

Mematuhi protokol kesehatan bukan berarti tidak percaya pada takdir Allah. Namun justru hal itu membuktikan iman kita pada Allah karena kita sudah ikhtiar dalam menghadapi wabah.

“Iman bukan sekedar berarti percaya, melainkan keyakinan yang mendorong muslim untuk berbuat. Oleh karenanya, iman mempunyai manfaat dan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan manusia, termasuk imunitas manusia”

A. New Normal

New Normal merupakan masa pasca PSBB akibat pandemi Covid-19. Masa ini mengharuskan bangsa Indonesia hidup ‘seolah-olah normal (?)’. Artinya, kita harus hidup sebagaimana masa sebelum pandemi Covid-19, namun dengan tatanan baru. Kita harus bekerja kembali (tidak WFH) atau sekolah/kuliah kembali (tidak SFH/BDR). Namun harus mematuhi tatanan baru dan protokol kesehatan dengan pola hidup bersih (sering cuci tangan, memakai masker), pola hidup sehat (makan makanan sehat dan bergizi), pola hubungan sehat (jaga jarak secara fisik).

Sungguh, sebuah situasi kondisi yang ‘aneh, asing’ dan ora sak baene (Jawa), karena belum terbiasa. Kondisi ini membuat manusia (masyarakat) berperilaku beragam, karena memang keadaan masyarakat beragam, baik persepsi maupun pola pikirnya. Dalam menghadapi New Normal, kita bisa melihat beragam masyarakat yang bisa dibedakan menjadi 4 kelompok, yaitu:

  1. Kelompok yang benar-benar/sama sekali tidak tahu tentang situasi new normal dan tidak mampu, sehingga tidak menerapkan tatanan baru.
  2. Kelompok yang tahu tetapi tidak mampu menghadapi new normal (tidak mampu menerapkan tatanan baru). Mereka ingin menerapkan, tetapi ada keterbatasan. Misal: mereka yang hanya mampu dan terpaksa bertempat tinggal di tempat yang tidak layak. Tidak mampu makan yang layak, bahkan tidak mampu membeli masker.
  3. Kelompok yang tahu dan mampu tetapi tidak mau tahu (tidak peduli, acuh tak acuh, suka-suka, semau gue) sehingga tidak menerapkan tatanan baru. Misal: mereka yang suka di keramaian untuk keperluan yang sebenarnya bisa ditunda bahkan tidak jelas, tanpa mempedulikan protokol kesehatan.
  4. Kelompok yang tahu dan mampu serta mau menerapkan tatanan baru dalam situasi new normal dengan menerapkan tatanan baru dan protokol kesehatan.

Kelompok masyarakat tersebut menjadi indikator penyumbang peningkatan/penurunan jumlah kasus Covid-19, yang sampai dengan saat ini terus bertambah sehingga masih relatif tinggi.

B. Mantra Iman-Imun.

Sebenarnya yang menjadi inti kajian adalah ‘iman-imun’. Pemilihan kata mantra, hanya sebagai penarik, tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang ‘mistis’. Kata mantra sudah sangat dikenal di kalangan masyarakat. Dengan melafalkan mantra (Jawa; ndremimil, komat-kamit), orang akan merasa ‘aman’, bisa tercapai tujuan, memiliki kekuatan dan sebagainya.

Iman

Ibnu Majah Atthabrani menjelaskan bahwa iman adalah keyakinan dalam hati yang diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan. Iman merupakan kesatuan atau keselarasan antara hati, ucapan, dan dapat juga dikatakan sebagai pandangan hidup dan sikap hidup. Iman bukan sekedar berarti percaya, melainkan keyakinan yang mendorong muslim untuk berbuat. Oleh karenanya, iman mempunyai manfaat dan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan manusia, yakni:

Pertama, iman melenyapkan kepercayaan terhadap kekuasaan benda. Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah SWT. Jika Allah berkehendak memberi pertolongan atau pun bencana, maka tidak ada satu kekuatan pun yang sanggup menahan atau mencegahnya. Kun fa yakuun.

Ke-dua, iman menanamkan semangat berani menghadapi maut. Berani menghadapi maut bukan berarti menantang maut, karena memang sesungguhnya maut tidak perlu ditantang, diminta, dikejar, atau pun dihindari. Maut pasti akan datang pada kita, siap atau tidak, suka atau tidak. Hal ini sebagaimana ada dalam QS An Nisaa’ ayat 78 “Dimana saja kamu berada, kematian akan datang mendapatkan kamu kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” Iman akan menjadi bekal dalam menghadapi maut.

Ke-tiga, iman menanamkan sikap self-help dalam kehidupan. Dalam menghadapi dan menjalani kehidupan, yang paling utama adalah memohon pertolongan pada Allah. Jika kita yakin bahwa Allah akan memberi pertolongan pada kita dalam kehidupan, insyaallah kita tidak akan pernah mencemaskan dan mengkhawatirak kehidupan dan kita mampu menyelesaikan persoalan atas ijin Allah.

Ke-empat, iman memberikan ketenteraman jiwa. Orang yang beriman mempunyai keseimbangan, hatinya tenteram (muthmainnah) dan jiwanya tenang (sakinah)

Ke-lima, iman mewujudkankehidupan yang baik (hayyatun thoyyibah). Kehidupan manusia yang baik adalah melakukan kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik.

Ke-enam, iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen. Ikhlas dan konsekuen, karena dalam iman ada unsur ‘pasrah’ pada ketentuan Allah SWT. Apa pun yang dikehendaki oleh Allah, orang yang beriman akan menerima tanpa syarat. Orang yang beriman selalu siap menerima kondisi yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Hal ini dikenal dengan istilah ‘tawakkal’.

Ke-tujuh, iman memberikan keberuntungan. Mengapa demikian? Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar karena Allah selalu membimbingnya. Jika orang selalu berjalan di jalan yang benar karena bimbingan Allah, pasti mereka akan beruntung fi diini wa dunya wal akhiroh.

Ke-delapan, iman mencegah penyakit. Seseorang yang jauh dari prinsip-prinsip keimanan, dalam melakukan perbuatan/tindakan, tidak mempedulikan azas moral dan akhlak, serta tidak pernah mengingat Allah, maka hidupnya akan dikuasai oleh ketakutan, kepanikan, dan ketegangan psikologis.

Imun

Dalam dunia kesehatan, dikenal istilah imun. Setiap manusia, ketika lahir sudah dibekali dengan sistem kekebalan tubuh (sistem imunitas), salah satunya adalah diperoleh dari kolostrum dan air susu ibu (ASI). ASI mengandung zat antibodi pembentuk kekebalan tubuh yang tidak tidak tertandingi oleh susu formula jenis apa pun.

Sistem imunitas tubuh memiliki fungsi: membantu pembentukan DNA, mencegah infeksi yang disebabkan oleh jamur, bakteri, virus, dan organism lain, serta menghasilkan antibody untuk memerangi serangan bakteri dan virus ke dalam tubuh. Tugas sistem imun adalah mencari dan merusak penyerbu (bakteri dan virus) yang membahayakan tubuh manusia.

Untuk menjaga imunitas dengan cara mengkonsumsi makanan bergizi (empat sehat lima sempurna), berolahraga rutin, berjemur di pagi hari, cukup istirahat, menghindari stress, menghindari rokok dan alkohol. Oleh karena itu, dalam masa new normal setiap mukmin harus menjaga imunitas diri. Selain itu, setiap mukmin juga wajib mematuhi protokol kesehatan sebagai wujud ikhtiar pada saat terjadinya wabah.

C. Hubungan Iman dan Imun (Perpaduan IMTAQ dan IPTEK)

Dr. Muh. Mahmud Abdul Qodir dalam bukunya (sudah diterjemahkan oleh Rusydi Maliki) yang berjudul Biologi Imun mengatakan bahwa orang yang beriman itu tidak akan mudah terserang penyakit stroke, hipertensi, diabetes, dan penyakit dalam lainnya. Mengapa? Karena penyebab penyakit-penyakit tersebut adalah stress, kecemasan yang berlebihan, rasa takut, dan perasaan negatif lainnya.

Menurut ilmu biologi, tindakan manusia diatur oleh hormon yang ada dalam tubuh. Di sisi lain, fungsi biologis tubuh mukmin dipengaruhi oleh imannya. Imanlah yang mengatur hormon, selanjutnya membentuk gerak, tingkah laku, serta akhlak manusia. Contoh: perilaku marah. Ketika seseorang marah, akan meningkatkan hormon adrenaline dan cortisone yang mengakibatkan meningkatnya tekanan darah, detak jantung, dan melemahnya pembuluh darah yang bisa berujung stroke. Apabila kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu lama, apa yang akan terjadi pada manusia, bisa diprediksi dan dibayangkan.

Mukmin tidak akan marah berlebihan dan berkepanjangan, karena ia memang harus meredakan marahnya dengan berwudhu.

Iman memegang peran penting dalam kehidupan. Tanpa iman, kehidupan manusia seperti kapas yang diterbangkan angin. Orang yang tidak beriman, hidupnya akan kacau, tidak terarah, dihanyutkan oleh nafsu tanpa tujuan yang hakiki dan tidak mengikuti peraturan yang ada (Al Qur’an dan Hadits).

Pada dasarnya, iman akan mengontrol kehidupan manusia. Iman akan menjadi landasan dalam pola hidup mukmin. Contoh: ketika makan, mukmin tidak akan berlebihan. Karena selalu mengingat hadits rasulullah, bahwa: perut (pencernaan) harus menyediakan sepertiga bagian untuk makanan, sepertiga bagian untuk minuman, dan sepertiga bagian untuk pernafasan. Makanannya pun harus halalan thoyyiban (bukan sekedar halal, tetapi juga harus baik/sehat. Mukmin juga selalu menjaga kebersihan.

Dalam masa new normal, setiap mukmin harus menjaga iman dan imunnya. Mematuhi protokol kesehatan bukan berarti tidak percaya pada takdir Allah. Namun justru hal itu membuktikan iman kita pada Allah karena kita sudah ikhtiar dalam menghadapi wabah. Jika kita mematuhi protokol kesehatan dan berserah diri pada Allah (tawakkal), hati kita lebih tenang dan tidak stress.

Dalam Psikoneuroimunologi (perpaduan ilmu antara Psikologi, Neurologi, dan Imunologi) dijelaskan bahwa, status emosi menentukan fungsi sistem kekebalan dan stres dapat meningkatkan kerentanan tubuh terhadap infeksi.

Baca juga: Kembalinya Fungsi Keluarga di Tengah Pandemi

(Visited 247 times, 3 visits today)
Tag: , , Last modified: 18 Juli 2020
Close