Manusia dan Kerusakan Lingkungan

hidayat tri copy
Bencana yang datang silih berganti karena ketidakseimbangan alam. Bisakah kita berkontribusi nyata, seminimal apa pun itu, untuk kembali menghijaukan bumi?

Oleh: Ir. Hidayat Tri Sutardjo, MM

Dalam Surat Al A’raaf ayat 172 Allah SWT menerangkan tentang janji yang dibuat pada waktu manusia dilahirkan dari Rahim ibu mereka, secara turun temurun, yakni Allah menciptakan manusia atas dasar fitrah, Allah menyuruh roh mereka untuk menyaksikan susunan kejadian diri mereka yang membuktikan ke-esa-an-NYA, keajaiban proses penciptaan dari setetes air mani hingga menjadi manusia berubah sempurna, dan mempunyai daya tanggap indra, dengan urat nadi dan sistem syaraf yang mengagumkan dan sebagainya.

Allah berfirman kepada roh mereka “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” maka menjawablah roh manusia, “Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami telah menyaksikan.” Jawaban ini merupakan pengakuan roh pribadi manusia sejak awal kejadiannya akan adanya Allah Yang Maha esa, yang tiada Tuhan lain yang patut disembah kecuali Dia”.

Dengan ayat ini Allah bermaksud untuk menjelaskan kepada manusia, bahwa hakikat kejadian manusia itu didasari atas kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa. Sejak manusia itu dilahirkan dari Rahim ibu mereka, ia sudah menyaksikan tanda-tanda keesaan Allah pada kejadian mereka. 

Lebih dalam lagi jika kita memerhatikan kandungan Al-Qur’an, maka paling tidak terdapat  3 (tiga) perjanjian manusia dengan Allah, yakni:

  1. Perjanjian alam ruh.
    Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS. Al-A’raaf, 7:172)
  2. Perjanjian alam fitrah.
    Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Rum 30:30)
  3. Perjanjian alam akal dengan mingikuti para rasul alaihimussalam agar selamat dunia dan akhirat. Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS. An-Nisaa, 4: 165)

Manusia diciptakan memiliki dua tujuan, yaitu Sebagai Khalifah di muka bumi dan Beribadah kepada Allah SWT. Tidak ada tujuan lain, semua aktivitas kehidupan kita sebagai manusia harus berlandaskan 2 (dua) tujuan yang di berikan Allah tersebut. Untuk itu manusia dibekali Akal, Hati dan Jasad agar mampu memikul beban dimaksud agar bersyukur (QS. An-Nahl 16:78).

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati Nurani, agar kamu bersyukur”

Dengan mensyukuri nikmat Allah SWT seorang manusia dapat mengenali dirinya dengan baik dan mengenal Allah SWT. Seseorang yang mensyukuri nikmat Allah tentunya akan senantiasa menyadari bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa dan segala yang ia miliki adalah milik Allah SWT. Perintah untuk mensyukuri nikmat Allah tersebut dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an berikut

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim 14:7).

Oleh karenanya, jangan sampai kita melupakan tugas utama sebagai hamba (Abdullah) karena dibutakan oleh hal-hal sepele untuk menuruti keinginan dan nafsu yang tidak ada faedahnya. Setiap manusia hanya diterima kembali kehadhirat-NYA jika membawa jiwa yang tenang dan nafsu muthmainah (QS Al-Fajr 89:27-30).

Ad-dienul Islam yang kaffah, telah melarang segala bentuk pengerusakan terhadap lingkungan sekitar, baik pengerusakan secara langsung maupun tidak langsung. Kaum Muslimin, harus menjadi yang terdepan dalam menjaga dan melestarikan alam sekitar. Oleh karena itu, seyogyanya setiap Muslim memahami landasan-landasan pelestarian lingkungan hidup.

Karena pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab semua umat manusia sebagai pemikul amanah untuk menghuni bumi ini. Allah SWT telah melarang perbuatan merusak lingkungan hidup karena bisa membahayakan kehidupan manusia di muka bumi. Karena bumi yang kita tempati ini adalah milik Allâh Azza wa Jalla dan kita hanya diamanahkan untuk menempatinya sampai pada batas waktu yang telah Allah tetapkan. Oleh karena itu, manusia tidak boleh semena-mena mengeksplorasi alam tanpa memikirkan akibat yang muncul.

“Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar, dan Allah tidaklah berkehendak menzalimi (siapapun) di seluruh alam”. (QS Ali Imran 3:108).

Alam ini merupakan sarana bagi manusia untuk merealiasikan tugas pokoknya yakni menjadi khalifah dan beribadah kepada Allah semata.

“(Yaitu) Orang-orang yang mengingat Allâh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS Ali-Imran 3:191).

Alam memberikan berjuta-juta manfaat kepada manusia, jika manusia itu memperhatikan alam dengan mata akal dan budinya. Pohon misalnya dalam kehidupan sehari-hari punya makna filosofi sendiri. akar selain tempat duduk bersila bagi manusia, akar yang menancap kebawah tanah juga sebagai lambang kekokohan dan kekuatan, batang tempat bersandar, ranting tempat bergantung, dan daun tempat berteduh dari teriknya matahari.

“Tidak lah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun” (QS  Ibrahim 14:24-26).

Dalam ayat ini digambarkan bahwa perumpamaan mengenai kata-kata ucapan yang baik, misalnya kata-kata yang mengandung ajaran tauhid atau kata-kata lain yang mengajak kepada kebajikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Kata-kata semacam ini diumpamakan sebagai pohon yang baik, akarnya teguh menghujam ke bumi. Akar bagi pohon memiliki fungsi menghisap air dan unsur hara dari dalam tanah dan menopang tegaknya pohon. Apabila akar tidak dapat lagi mengambil unsur-unsur hara dari dalam tanah maka lambat laun pohon akan mati. Sedangkan akar pohon yang berfungsi dengan baik akan dapat menyalurkan unsur-unsur hara dari dalam tanah ke bagian atas pohon sehingga pertumbuhan dan perkembangan pohon akan berjalan dengan baik.

Pohon yang baik itu selalu memberikan buahnya pada setiap manusia dengan seizin Tuhannya. Adapun proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman diperlukan berbagai unsur hara yang cukup banyak macamnya. Unsur hara sendiri dibedakan menjadi unsur ara makro yang diperlukan dalam jumlah banyak, dan unsur hara mikro yang diperlukan dalam jumlah sedikit, tetapi keberadaannya mutlak diperlukan. Untuk sampai terjadinya buah, akar harus dapat memasok semua kebutuhan unsur hara ini dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Ada beberapa unsur hara yang apabila dipasok melebihi kebutuhannya akan menjadi racun bagi tanaman dan dapat menyebabkan kematian bagi tanaman. Oleh karena itu, manusia yang mengambil manfaat dari pohon itu, hendaklah bersyukur kepada Allah karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya melalui seseorang adalah karunia dan rahmat dari Allah SWT.

Kaum Muslimin tidak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan dan keperluan yang jelas. Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang kita saksikan sampai saat ini merupakan akibat dari perbuatan/ulah umat manusia.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar-Ruum 30:41).

Anjuran penguasaa untuk menanam pohon atau bercocok tanam menurut Al-Qurthubi dalam tafsirnya, “Bercocok tanam termasuk fardhu kifayah. Imam (penguasa) berkewajiban mendesak rakyatnya untuk bercocok tanam dan yang semakna dengan itu, seperti menanam pohon.”

Bahkan untuk memotivasi masyarakat agar gemar menanam pohon, sesuai juga dengan Sabda Nabi bahwa “Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah”. Bahkan pohon itu akan menjadi asset pahala baginya sesudah mati yang akan terus mengalirkan pahala baginya sebagai Sabda Rasulullah SAW “Tujuh perkara yang pahalanya akan terus mengalir bagi seorang hamba sesudah ia mati dan berada dalam kuburnya. (Tujuh itu adalah) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan air, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampunan untuknya sesudah ia mati.

Sedangkan menebang pohon, menggunduli hutan, membuang limbah ke sungai, membakar areal pesawahan dan lain-lainnya sudah jelas termasuk perbuatan merusak alam yang bisa mendatangkan bencana bagi umat manusia. Bencana yang  datang silih berganti karena ketidakseimbangan alam. Bisakah kita berkontribusi nyata, seminimal apa pun itu, untuk kembali menghijaukan bumi, menanam pohon (bercocok tanam) agar tercipta Kawasan Penyejuk Bumi.

Wallahu a’lam bishshawab

Penulis: Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close