17.5 C
Yogyakarta
22 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Masalah Energi Setelah Pandemi Global

Pandemi Global, suka atau tidak suka, telah banyak mengubah cara hidup kita, dan khususnya terkait dengan bagaimana kita menggunakan energi. Sebagai contoh dengan lebih sedikitnya orang-orang yang berpergian, penggunaan bahan bakar untuk perjalanan menjadi berkurang. Selama ini, mobilitas fisik manusia, atau pergerakan manusia, merupakan salah satu kegiatan yang mengkonsumsi energi dalam jumlah besar. Data bisa diajukan untuk menunjukkan tingkat konsumsi tersebut.

Namun, kita dapat menggunakan cara yang mudah untuk menunjukkan besarnya konsumsi tersebut, dan pengaruhnya jika konsumsi berkurang drastis akibat pembatasan gerak fisik, yakni sebelum Pandemi, langit “buram” sedangkan selama masa Pandemi, langit biru. Arti sederhananya adalah: pengurangan konsumsi energi = pengurangan polusi udara.

Bersamaan dengan pembatasan juga mengakibatkan kegiatan di kantor-kantor, dan di pusat-pusat produksi (non pangan), mengalami pembatasan siginifikan, bahkan sebagian tutup.  Apakah ini artinya, konsumsi energi mengalami penurunan akibat Pandemi? Dapat dikatakan bahwa yang nyata-nyata terjadi adalah pergeseran kegiatan dari kantor-kantor ke rumah-rumah. Dari tempat publik, ke privat. Hal ini tentu mengakibatkan perubahan konsumsi energi listrik, yang berarti secara umum teĺah terjadi penurunan konsumsi energi listrik. Meskipun bagi rumah-rumah, berarti terjadi kenaikan konsumsi listrik, yang tentu akan meningkatkan beban pengeluaran mereka. Inilah gambaran kecil dari dampak pandemi terhadap penggunaan energi dan kemungkinan akan semakin melebar lagi dampaknya. Apa saja kemungkinan perubahan tersebut?

Energi Cuma-Cuma?

Mengapa pertanyaan tersebut dapat keluar? Dengan terjadinya penurunan konsumsi, di beberapa negara, hal ini, bukan merupakan peristiwa biasa. Karena produsen energi listrik, terutama yang berasal dari sumber energi terbarukan, mudah mengalami masalah ketika konsumsi lebih kecil dari produksi, atau bahkan jika konsumsinya jauh lebih kecil dari yang bisa di produksi.

Sebagaimana diketahui, teknologi yang selama ini digunakan, adalah teknologi berbasis “penyimpanan”, layaknya kerja bank, namun yang disimpan adalah energi listrik. Jika pasokan melebihi kapasitas penyimpanan, sementara pasokan tidak berhenti, maka akan terjadi kelebihan pasokan. Dengan kelebihan pasokan tersebut, akan menimbulkan masalah pada sistem, bahkan para petugas pembangkit khawatir bila terlalu banyak energi listrik yang disimpan, tanpa dikeluarkan dengan jumlah yang sama besarnya akan menyebabkan kerusakan pada mesin dan sistem secara keseluruhan.

Kesemua itu arahnya adalah untuk menyeimbangkan antara produksi dan konsumsi. Apakah hal ini bisa berlaku di seluruh dunia?

Hal itulah yang menyebabkan pembangkit tersebut, punya kebutuhan untuk segera menyeimbangkan antara pasokan dan konsumsi, daripada mereka mematikan seluruh generatornya. Untuk mewujudkan maksud tersebut, tidak ada cara lain, kecuali membujuk konsumen untuk menggunakan, bahkan dianjurkan untuk menggunakan secara lebih. Malah sebagian dibayar agar bersedia mengkonsumsinya. Atau produsen energi listrik, meminta perusahaan-perusahaan, atau kantor-kantor, menyediakan “power bank” untuk menyimpan energi listrik. Dan produsen listrik lainnya diminta untuk sementara waktu berhenti memproduksi. Kesemua itu arahnya adalah untuk menyeimbangkan antara produksi dan konsumsi. Apakah hal ini bisa berlaku di seluruh dunia? Apakah ini, dapat menjadi momentum untuk mencari jalan agar di masa depan, setelah Pandemi, energi listrik bisa diperoleh secara cuma-cuma.

Pada sisi yang lain, persoalan yang dihadapi dengan adanya kelebihan pasokan, telah memunculkan pemikiran untuk mengevaluasi teknologi berbasis penyimpanan. Suatu perubahan mendasar nampaknya perlu dilakukan. Teknologi berbasis penyimpanan dalam keadaan ini, terlihat sebagai hal yang buruk, karena suatu kelebihan malah menjadi bencana. Artinya, situasi ini, telah memunculkan tantangan baru untuk melahirkan teknologi masa depan, yang dapat menyeimbangkan antara pasokan dan konsumsi, dan kemungkinan menghasilkan energi yang diberikan secara cuma-cuma.

Mencari Energi Lain

Dampak lainnya yang nampak akibat pembatasan pergerakan fisik manusia, dimana sebagian besar telah melakukan migrasi ke online, adalah penurunan konsumsi minyak – secara kongkrit kini telah terjadi penurunan permintaan minyak dunia. Bahkan bukan hanya minyak, akan tetapi juga bahan bakar lainnya.

Bagi negara yang memanfaatkan minyak sebagai salah satu penggerak ekonomi mereka, hal ini tentu bukan keadaan ideal. Negara produsen, tentu tidak mungkin terus memproduksi, sementara konsumsi menurun. Hal tersebut jelas akan mengakibatkan anjloknya harga minyak.

Masalah kelebihan pasokan minyak bumi, bukan hanya akan mengubah struktur perdagangan, tetapi secara teknis juga akan membawa akibat pada kekurangan tempat penyimpanan. Sama halnya dengan listrik, kelebihan pasokan akan mengakibatkan langkanya tempat penyimpanan, dan menurut para ahli keadaan ini sangat berbahaya.

Tindakan pencegahan segera dilakukan. Pengurangan produksi minyak tengah dilakukan untuk agar tidak terjadi ledakan pasokan minyak dunia.

Memang ada spekulasi bahwa paska Pandemi, diperkirakan akan menjadi momen reborn, atau titik balik bagi industri minyak dan bahan bakar. Karena jika seluruh pembatasan dihilangkan, dibayangkan, kehidupan akan kembali seperti sebelum Pandemi. Artinya, akan terjadi lonjakan permintaan. Dan dengan begitu, produsen akan mudah memainkan harga. Tentu jika ini terjadi akan memberatkan konsumen, atau bahkan memicu masalah baru. Hal yang paling akan terjadi adalah kembali meningkatnya polusi udara dan emisi gas carbon, apabila cara hidup kembali seperti semula, yang boleh dikatakan boros energi dan merusak lingkungan.

Oleh karenanya beberapa pihak mulai mencari sumber baru untuk dapat diproduksi, menggantikan energi fosil, yang juga segera habis. Salah satu yang dianggap menjadi alternatif utama, adalah energi nuklir. Pertanyaan yang diajukan oleh para ahli adalah: apakah keadaan pandemi, yang mengharuskan manusia hidup dengan kesadaran penuh akan keselamatan dan kesehatan, melalui protokol ketat, dapat memungkinkan mereka (masyarakat, pemerintah dan industri) untuk kembali tertarik pada pengembangan industri nuklir?

Pertanyaan ini diajukan karena dianggap bahwa industri energi nuklir, punya kemiripan dengan apa yang kini berlangsung, yakni dikatakan bahwa industri nuklir punya kultur untuk mengutamakan keselamatan dan kesehatan. Dalam industri nuklir, keselamatan, justru menjadi nilai dasar dari keberadaannya. Hal ini dapat dilihat, jika kita berkunjung ke instalasi nuklir, dimana pengunjung akan secara ketat harus mengikuti protokol, termasuk menggunakan APD.

Namun demikian hal ini, bukan ide yang mudah diterima. Sebagian besar dari kita hidup dalam bayangan akan bahaya nuklir, sebagaimana yang terjadi di Chernobyl dan Fukusima Daiichi Jepang. Bahaya radiasi, limbah dan berbagai aspek lain yang dianggap berbahaya, tertanam kuat di dalam pikiran masyarakat dunia. Apakah dengan revolusi informasi sekarang ini, akan meningkatkan literasi publik dunia, sehingga bisa menemukan sendiri informasi yang lebih akurat tentang apa yang disebut sebagai bahaya nuklir? Apakah pengetahuan tersebut akan semakin memperkuat penolakan terhadap energi nuklir, ataukah sebaliknya. Dan tentu energi nuklir bukan satu-satunya energi alternatif, masih ada energi yang bersumber dari air, angin, panas bumi, dan matahari. Menurut Anda sebaiknya bagaimana? (sumber bbc).

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA