Masker: Lebih Baik Pakai daripada Tidak

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sekalipun masker tidak menyaring semua partikel, jika hal tersebut dapat mencegah awan partikel tersebut bergerak sangat jauh, maka menggunakannya jauh lebih baik daripada tidak menggunakan masker.

Kini, beberapa bulan setelah dimulainya pandemi COVID-19, penggunaan masker saat berada di luar atau di tempat umum telah menjadi suatu praktik yang sangatlah direkomendasikan oleh banyak pihak. Namun, hingga kini masih banyak juga yang mempertanyakan keefektifan rekomendasi ini.

Untuk menghilangkan keraguan akan rekomandasi penggunaan masker, Padmanabha Prasanna Simha, dari Organisasi Penelitian Luar Angkasa India, dan Prasanna Simha Mohan Rao, dari Institut Ilmu dan Penelitian Kardiovaskular Sri Jayadeva, secara eksperimental memvisualisasikan aliran batuk dalam berbagai macam bentuk penutup mulut yang umum. Mereka mempresentasikan temuan tersebut di jurnal Physics of Fluids, dari AIP Publishing.

Simha mengatakan bahwa jika seseorang dapat mengurangi sejauh mana mereka mengkontaminasi lingkungan dengan mengurangi penyebaran virus. Hal ini menurutnya adalah situasi yang jauh lebih baik bagi individu sehat yang mungkin memasuki tempat-tempat yang memiliki daerah yang terkontaminasi.

Kepadatan dan suhu sangat berkaitan, dan batuk cenderung bersuhu lebih hangat bila dibandingkan dengan area sekitarnya. Dengan memanfaatkan hubungan tersebut, Simha dan Rao menggunakan teknik yang disebut pencitraan schlieren, yang memvisualisasikan perubahan kepadatan, untuk menangkap gambar batuk yang disengaja dari lima subjek uji coba. Dengan melacak gerakan batuk pada gambar yang berurutan, tim memperkirakan kecepatan dan penyebaran tetesan droplet yang dikeluarkan.

Secara tidak mengejutkan, mereka menemukan bahwa masker N95 merupakan masker paling efektif dalam mengurangi penyebaran batuk secara horizontal. Masker N95 mengurangi kecepatan awal batuk hingga faktor 10 dan membatasi penyebarannya antara 0,1 dan 0,25 meter.

Batuk yang tidak ditutupi, sebaliknya, dapat menempuh jarak hingga 3 meter. Dikatakan bahkan masker sekali pakai yang sederhana dapat menurunkan jarak tempuh ini hingga 0,5 meter.

Simha mengatakan bahwa sekalipun masker tidak menyaring semua partikel, jika hal tersebut dapat mencegah awan partikel tersebut bergerak sangat jauh, maka menggunakannya jauh lebih baik daripada tidak menggunakan masker. Dirinya menambahkan bahwa bila tidak memiliki masker yang dianggap paling baik atau “canggih”, masker dengan bahan apa pun tidaklah menjadi masalah sama sekali untuk masyarakat umum dalam memperlambat penyebaran infeksi virus corona ini.

Namun, untuk beberapa perbandingan cara menutup mulut serta hidung lainnya memiliki hasil yang sangat berbeda.

Sebagai contoh, menggunakan siku untuk menutupi batuk biasanya dianggap sebagai alternatif yang baik dalam keadaan darurat. Namun hal ini bertentangan dengan apa yang ditemukan oleh kedua peneliti ini. Kecuali jika ditutupi oleh baju, lengan telanjang tidak dapat memberikan penghalang tepat untuk hidung yang diperlukan untuk menghalangi aliran udara. Sebuah Batuk dapat menembus keluar melalui semua celah yang ada dan menyebar ke berbagai arah.

Simha dan Rao berharap temuan mereka akan menghentikan argumen bahwa masker kain biasa tidak efektif, tetapi mereka menekankan bahwa masker harus terus digunakan dalam hubungannya dengan pembatasan sosial.

Dikatakan bahwa jarak yang cukup adalah sesuatu yang tidak boleh diabaikan, oleh karena masker tetaplah sebagai cara pencegahan sementara. (Disadur dari situs sciencedaily)

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora