28.3 C
Yogyakarta
25 Juli 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Masker

Beberapa waktu yang lalu, masker hilang dari peredaran. Ada yang mengira disembunyikan. Ada pula yang mengira telah terborong habis. Dan ada pula yang mengira, akibat permainan dagang. Nyatanya, masker sempat hilang dan hari-hari ini, benda tersebut tidak mudah ditemukan. Telah banyak langkah dilakukan untuk menyediakan kebutuhan akan masker. Mulai impor, sampai pembuatan pabrik instan yang ditujukan untuk memproduksi.

Semula memang setiap orang yang mengenali bahaya wabah, berusaha menggunakan masker. Penggunaan merupakan tanda kesadaran. Suatu upaya agar tidak tertular. Hal ini seiring dengan informasi bahwa wabah menular melalui droplet. Setelah masker langka, pemerintah dan para pihak yang punya kompetensi, membuat pernyataan yang mengatakan bahwa masker hanya untuk yang sakit. Maksud, masker dimaksudkan untuk menjaga jangan sampai droplet, pada waktu bersin dan batuk, tidak tersebar. Dengan informasi tersebut, perburuan masker relatif reda.

Rupanya, makna bergerak mengikuti keadaan. Atas dasar keadaan yang memburuk, dimana wabah meluas dan jumlah yang terpapar cenderung menjadi lebih besar, maka dibutuhkan langkah lebih ekstra untuk mencegah penularan. Konsep bahwa yang sakit dijaga jangan sampai menularkan, dilengkapi dengan konsep yang sehat, sejauh mungkin melindungi diri. Oleh sebab itulah penggunaan masker berubah. Dari semula hanya untuk yang sakit, berubah menjadi untuk semua orang. Arahan tersebut tentu didasarkan pada asumsi bahwa tingkat penularan tidak diketahui secara pasti, dan karena itu, semua potensi penularan harus ditutup.

Dengan memakai masker diharapkan: (1) yang sakit tidak menyebarkan virus melalui droplet-nya; (2) yang sehat tidak mudah tertular, karena dilindungi masker dan juga menjaga reflek tangan ke muka. Menjaga tangan agar tidak ke muka (mata dan mulut), memang tidak mudah. Karena itulah, penggunaan masker juga menjadi bagian dari upaya perlindungan diri, dan orang lain. Perubahan dan perluasan makna dari suatu metode (alat), dalam waktu yang singkat, merupakan saksi bahwa telah terjadi perubahan keadaan yang penting.

Pada masker terdapat pesan, bahwa kehati-hatian perlu ditingkatkan, tidak lagi menjadi tindakan yang bersifat “internal”, tetapi juga “eksternal”. Pada masker terdapat informasi tentang gerak keadaan dan bahkan gerak kesadaran. Apa artinya? Bahwa jika “penglihatan” mampu membedakan dengan jelas apa yang tadi terjadi, dan apa yang kini terjadi, serta mampu membandingkan, sehingga diperoleh gambaran keadaan yang lebih utuh, maka tentu akan didapatkan peta keadaan yang lengkap. Peta keadaan dibutuhkan, karena dengan kejelasan peta “lapangan”, maka gerak langkah menjadi lebih punya ukuran, jelas posisi dan arah. Kewaspadaan dapat dibangun dengan peta yang jelas, sehingga kewaspadaan berbeda dengan kepanikan.

Hendak dikatakan disini bahwa kewaspadaan yang dilandasi pengetahuan dan kepahaman yang relatif utuh terhadap suatu hal, pada dasarnya adalah “masker”, yang akan melindungi “diri” dan “yang lain”. Bagaimana wujud kongkritnya? Dalam menghadapi wabah, masker tentu sangat penting. Sebagaimana dianjurkan, setiap orang hendaknya memakai masker jika bepergian atau ketika berinteraksi. Perlu dipikirkan masker untuk komunitas, atau masker untuk bangsa. Atau alat pelindung, yang menjaga keselamatan dan keutuhan bangsa. Barangkali pertanyaan ini dapat menjadi renungan bersama, bahan refleksi bersama di tempat masing-masing. Tetap jaga jarak fisik.

(t.red)

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA