Ditulis oleh 12:10 pm SAINS

Matahari dalam “Lockdown”: Perlukah Kita Khawatir?

Matahari “lockdown”, atau Sun Lockdown menjadi topik pembicaraan yang banyak diperbincangkan dan masih hangat, namun apa sebenarnya itu?

Dunia maya seakan tidak habisnya diramaikan oleh berita-berita unik yang menarik mata, terlebih lagi ketika dunia sedang melakukan lockdown imbas virus corona (COVID 19). Baru-baru ini ada berita yang senada dengan lockdown, namun bukan manusia yang melakukannya, melainkan matahari.

Matahari “lockdown“, atau Sun Lockdown menjadi topik pembicaraan yang banyak diperbincangkan dan masih hangat, namun apa sebenarnya itu? Keadaan matahari sekarang ini merupakan fenomena yang disebut sebagai ‘solar minimum’.

“Solar Minimum sedang akan berlangsung dan ini salah satu yang sangat dalam. Medan magnet matahari menjadi lemah, memungkinkan sinar kosmik ekstra ke tata surya.” Ujar Astronomer Dr. Tony Phillips kepada The Sun.

Apakah solar minimum itu? Seperti yang dilansir TIMESNOWNEWS, matahari memiliki siklus yang berlangsung selama kurang lebih 11 tahun. “Setiap 11 tahun atau lebih, bintik matahari menghilang, membawa periode yang relatif tenang. Ini disebut solar minimum. Dan ini adalah bagian rutin dari siklus sunspot” tulis Dean Pesnell dari Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Greenbelt, MD pada 2017 silam. Tahun ini merupakan puncak dari cycle tersebut, dan akan memasuki periode terdalam dari apa yang disebut sebagai ‘sunshine recession‘ atau penurunan cahaya matahari karena bintik matahari atau sunspot hampir tidak terlihat sama sekali.

“Sementara aktivitas intens seperti bintik matahari dan flare matahari mereda selama minimum matahari, itu tidak berarti matahari menjadi pudar. Aktivitas matahari hanya berubah bentuk”, Dean Pesnell menambahkan.

Lalu apakah ini menjadi sinyal bahaya bagi bumi dan manusia? Sebagaimana dikatakan Dr. Tony Philips, bahwa akibat dari medan magnet matahari melemah, akan memungkinkan sinar kosmik ekstra ke tata surya. Lebih lanjut Dr. Tony menjelaskan bahwa: “Kelebihan sinar kosmik menimbulkan bahaya kesehatan bagi para astronot dan polar air traveler, mempengaruhi elektrokimia atmosfer atas Bumi dan dapat membantu memicu kilat”.

Penjelasan Dr. Tony sebenarnya berfokus pada akibat yang bisa terjadi pada para astronot dan polar air traveler, tidak lebih dari itu. Namun, ada juga yang berspekulasi akan mengulang Minimum Dalton, yang merupakan salah satu periode cuaca paling ekstrem dalam sejarah. Minimum Dalton adalah periode yang berlangsung lebih dari tiga siklus matahari 1790 – 1830 dan menghasilkan salju berat, es dalam dan pendinginan umum di seluruh dunia.

Menurut The Sun, Minimum Dalton menyebabkan “periode dingin yang brutal, kehilangan panen, kelaparan dan letusan gunung berapi yang kuat … Suhu anjlok hingga 2C selama 20 tahun, menghancurkan produksi pangan dunia.”

Namun pada post di bulan Februari berjudul “Tidak ada ‘Zaman Es Mini’ yang akan terjadi,” NASA berusaha untuk menghilangkan gagasan bahwa minimum matahari besar dapat mengakibatkan pendinginan di seluruh dunia.

“Dalam hal pemaksaan iklim –sebuah faktor yang dapat mendorong iklim ke arah tertentu– para ilmuwan solar memperkirakan sekitar -0,1 W/m2, dampak yang sama sekitar tiga tahun pertumbuhan konsentrasi karbon dioksida (CO2) saat ini. Dengan demikian, Grand Solar Minimum baru hanya akan berfungsi untuk mengimbangi beberapa tahun pemanasan yang disebabkan oleh aktivitas manusia.” Tulis Nasa Global Climate Change.

Lalu apa artinya? “Pemanasan yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia enam kali lebih besar dari kemungkinan pendinginan selama beberapa dekade dari Grand Solar Minimum yang berkepanjangan”.

“Bahkan jika Grand Solar Minimum bertahan satu abad, suhu global akan terus menghangat. Karena lebih banyak faktor daripada hanya variasi dalam output Matahari yang mengubah suhu global di Bumi, faktor yang paling dominan saat ini adalah pemanasan yang berasal dari emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia.” Tutup tulisan tersebut.

Jadi apakah lockdownnya matahari berbahaya bagi manusia? Kemungkinan tidak. Jikalau pihak NASA yang mengamati luar angkasa menyatakan kita tidak perlu khawatir, mengapa kita perlu khawatir?

(Visited 150 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 30 Mei 2020
Close