Ditulis oleh 12:08 pm KALAM

Matahari Pagi

Jika kesadaran beranjak naik pada refleksi, akan membuahkan rasa syukur terhadap sinar matahari pagi yang melimpah, yang untuk mendapatkannya tidak memerlukan biaya.

Tidak bepergian jika tidak sangat perlu. Terus menjaga jarak. Berdiam di rumah. Rupanya telah mulai membentuk kebiasaan baru. Keadaan saudara, teman, dan relasi-relasi, memang secara fisik tidak tampak. Tetapi media sosial telah membantu untuk mengabarkan. Lantaran setiap hari gambar berseliweran. Tentu tanpa permisi. Namun itu bukan soal.

Hal yang menarik perhatian adalah munculnya gambar suasana pagi. Mulai gambar gerak badan. Jalan di sekeliling rumah. Atau sekedar mondar-mandir. Atau duduk sambil baca, ataupun sambil mengobrol. Semua itu, jika diperhatikan dengan baik-baik, maka akan terlihat bahwa kegiatan tersebut merupakan perburuan sinar matahari pagi. Benar. Berjemur di pagi hari, dengan ragam aktivitas.

Mungkin hari-hari sebelum kejadian wabah, hal tersebut telah berlangsung secara rutin. Kesibukan dan suasana pikiran, yang membuat kegiatan berjemur di pagi hari tidak tampak. Ada yang nimbrung: “Ah tidak semua. Sebagian besar diburu jadwal masuk kerja dan masuk kelas. Pagi hari, semua diburu waktu, sehingga mulai dari jam 06 sampai jam 07 pagi, jalan raya penuh, kendaraan berebut ruang.” Benar juga. Kehidupan yang normal, justru merupakan rutinitas yang menjauhkan tubuh dari sinar matahari pagi.

Baca Juga:
Berolahraga di Rumah Saat Pandemi Covid-19

Sayangnya, yang tampak hanya gambar, yang sudah di copy and paste (copas) sana-sini, sehingga tidak tampak apa sebenarnya yang terjadi di sana. Gambar tidak dapat berkisah tentang suasana batin dari yang tengah berjemur. Namun dari wajah-wajah tersebut, nampak ada sesuatu yang berbeda. Mungkin ada kebosanan di sana, tetapi tidak dapat disembunyikan, ada pula kelegaan. Karena dapat berkumpul bersama keluarga dan punya kesempatan yang langka, yakni menikmati sinar matahari pagi bersama keluarga. Layaknya liburan orang dari luar sana. Yang pergi jauh hanya untuk mendapatkan sinar matahari pagi.

Dengan iseng, yang sedang berjemur di dekati. Tidak dalam nyata, tapi dalam imajinasi. Sebab tidak bisa bepergian, jika sekadar bertanya tentang suasana ketika sedang berjemur. Yang berjemur dengan tangkas memberi penjelasan. Bukan tentang suasana batinnya, tetapi bertutur seperti dokter atau ahli biologi. Katanya, ketika ultraviolet B masuk ke tubuh, dibawa serta provitamin B3. Lalu terjadi proses kimia biologi, dimana B3 dengan bahan yang ada di bawah kulit, akan menghasilkan D3, suatu vitamin yang menjadi sumber imunitas tubuh. Begitu. Yang dijelaskan hanya manggut-manggut. Antara paham dan tidak. Paham pada intinya, bahwa sinar matahari pagi punya manfaat besar. Tidak, karena tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh setelah menerima sinar matahari pagi (baca Detik.com).

Setelah cukup obrolan singkat tersebut, pikiran mulai terusik. Hendak bertanya, tidak ada yang bisa ditanya. Datang ke buku terlalu rumit, jika sekedar untuk mengerti khasiat sinar matahari secara keilmuan. Akhirnya pikiran berganti arah. Bukan lagi tentang kepersisan proses dalam tubuh dan segala sesuatu yang dibawa oleh sinar matahari menurut ilmu alam, tetapi tentang perubahan rutinitas, yang semula menjauhkan tubuh dari sinar matahari pagi menjadi keadaan sebaliknya. Mungkin ini hikmah. Mungkin kejadian luar biasa, memuat pesan tersembunyi yang harus ditemukan. Jika pesan dapat ditangkap dengan baik, tentu akan bermakna. Masing-masing orang barangkali akan menangkap pesan yang berbeda-beda, seperti juga sinar matahari yang ditangkap oleh tubuh. Tentu masing-masing berbeda.

Tapi bahwa pagi hari telah menampilkan pemandangan yang berbeda dari biasanya, sebenarnya telah menunjukkan bahwa perubahan tengah terjadi. Walaupun mungkin keadaan yang memaksa, namun pertemuan dengan sinar matahari pagi dan kesadaran tentang pentingnya sinar matahari pagi bagi kesehatan tubuh, telah merubah hal penting. Jika kesadaran tersebut beranjak naik pada refleksi yang lebih jauh, sangat besar kemungkinan akan membuahkan rasa syukur terhadap sinar matahari pagi yang melimpah, yang untuk mendapatkannya tidak memerlukan biaya. Memang disitu terdapat paradoks. Yang ada tidak tampak, yang tidak ada dicari-cari.

Hanya dengan rasa syukur, yang ada akan tampak jelas. Dengan bersyukur, jiwa akan lebih tenang. Lantas ada yang menyela: panik merupakan cara untuk menurunkan imunitas tubuh. Bersyukur dengan begitu, adalah cara rohaniah untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Dengan bersyukur, Allah SWT akan menambah-nambah nikmatnya. Semoga wabah segera berlalu. Dan kehidupan kembali normal, namun kali ini dengan sinar matahari pagi yang menyehatkan.

(t.red)

(Visited 28 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 1 April 2020
Close