Memahami Hadis Nabi

2.6.1. Memahami - Hasnan
Menjadi keharusan untuk menelusuri keotentikan sebuah hadis karena penulisannya yang tidak dilakukan pada masa Nabi hidup, dan baru dijadikan dalam satu kesatuan beberapa puluh tahun setelahnya

Tidak bisa kita kesampingkan bahwa hadis-hadis Nabi terikat dengan waktu peristiwa diucapkannya hadis tersebut, bisa kita telusuri maksud kandungan hadis dari sebab turunnya/asbabul wurud, hanya saja tidak semua hadis kemudian memiliki asbabul wurud nya. Sebagian hadis Nabi pun terkadang disampaikan tanpa didahului oleh suatu sebab apapun. Selain itu posisi Nabi di dunia bukanlah hanya sebagai pembawa pesan kenabian, terdapat pula pada diri Nabi sebagai sosok lainnya seperti dalam posisi sebagai seorang pemimpin, sebagai suami, sebagai laki-laki dewasa, sebagai manusia biasa yang mempunyai kehendak pada dirinya. Dari itu semua menjadi penting bagi umat Islam dalam memahami hadis untuk dapat menempatkan dirinya pada kapan seharusnya dilakukan pemahaman yang tekstual dan kontekstual.

Hermeneutika merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk memahami kandungan hadis yang selama ini banyak dipahami secara tekstual saja dan terkadang muncul kesimpulan yang berbanding terbalik dengan maksud sebenarnya hadis tersebut. Ini semua tidak bisa kita lepaskan dari runtutan yang harus dilakukan dalam memahami sebuah hadis yang lebih panjang prosesnya dari pada memahami sebuah ayat Al-Qur’an. Dalam memahami Al-Qur’an, mufassir tidak perlu untuk meneliti keotentikan sebuah ayat Al-Qur’an, karena sudah terjaminnya keotentikan Al-Qur’an sebagai firman Tuhan yang langsung dijamin kebenarannya oleh-Nya. Sehingga dalam memahami kandungan Al-Qur’an bisa langsung kepada penafsiran ayatnya.

Sedangkan dalam memahami hadis tidak bisa kemudian langsung melompat kepada upaya pemaknaan matan. Menjadi keharusan untuk menelusuri keotentikan sebuah hadis karena penulisannya yang tidak dilakukan pada masa Nabi hidup, dan baru dijadikan dalam satu kesatuan beberapa puluh tahun setelahnya (pada masa Umar bin Abdul Aziz, 717-720 M). Akhirnya dalam memahami hadis tidak fokus kepada penafsiran matannya, baru sampai kepada keotentikan hadis serta pemaknaan yang lebih kepada pemaknaan tekstual.

Hermeneutika berfungsi untuk menempatkan hadis-hadis pada posisi yang lebih jelas dalam memahaminya, hal ini menegaskan bahwa pesan penting dari hadis tidak hanya pada pesan tekstualnya saja, melainkan makna yang berada di balik teks. Penerapan hermeneutika pada hadis ada tiga variabel utama, yakni teks, pengarang dan pembaca.

Dalam langkah-langkahnnya, pertama adalah dengan memahami makna teks hadis (hadharah al-nash), bentuk memahami teks dilakukan melalui kajian linguistik, dengan memperhatikan perbedaan redaksi-redaksi dari berbagai riwayat adakah perbedaan secara leksikal (makna yang bersifat tetap, berdasarkan dengan kamus) atau gramatikal (makna yang berubah-ubah sesuai dengan konteks pemakainya). Kedua adalah dengan memahami latar belakang munculnya hadis (hadharah al-ilm) ditinjau dari asbabul wurud serta kerterkaitannya dengan realitas sosial pada waktu itu. Semua informasi yang disandarkan kepada Nabi tidaklah serta merta menjadi ajaran agama, dengannya juga dapat diketahui antara yang bersifat kebiasaan sehari-hari dan hal-hal yang mempunyai unsur peribadatan, dan pada akhirnya dapat memisahkan hadis-hadis yang menunjukkan sunnah syar’iyyah dan sunnah ghair syar’iyyah.

Ketiga adalah dengan cara mengambil ide pokok dari hadis, bersifat membangun pandangan yang umum berdasarkan logika (hadharah al-falsafah), teks hadis bukanlah sesuatu yang muncul tanpa adanya konteks, sehingga pesan dalam hadis bukanlah apa adanya yang tertulis dalam matannya, melainkan ide pokok yang dikandung dibaliknya, ide pokok ini membantu kita untuk dapat merelevansikan kepada kehidupan yang sekarang.

Dalam tiga langkah di atas, hadharah al-nash¸ hadharah al-ilm dan hadharah al-falsafah, pada langkah ketiga inilah kita tekankan sekarang. Penelitian hadis harus dilakukan dalam konteks yang lebih luas untuk mendapatkan pemahaman yang proporsional dalam waktu kekinian. Masa penelitian hadis yang terkonsentrasi pada sanad sebagai bentuk penelusuran keotentikan hadis sudah dituntaskan oleh para ulama mutaqaddimin maupun mutaakhirin. Bahkan pada zaman sekarang sudah dimudahkan dengan adanya bentuk digital. Dengan ini sudah saatnya untuk fokus kepada kajian kontekstual hadis yang lebih dibutuhkan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close